Tukang Bangunan Jadi Pejabat Tinggi

Karena suratan tangan tidak sebagai pegawai negeri, maka saya tidak begitu dekat dengan kehidupan pejabat pemerintah. Namun satu hal tertanam dalam benak;  kalau sudah masuk dalam  lingkup sebutan  penjabat tinggi setara  kepala dinas, maka kesan bagi saya adalah sebuah kemewahan dengan fasilitas fantastik. Image itu terus hidup dalam fikiran saya.  Di kampung dan  sejumlah warung kopi terus menyuplai informasi ke otak saya, bahwa pejabat itu identik dengan kemakmuran berlimpah. Entah betul tidaknya, itu kesan pribadi saja.

Suatu ketika saya terlibat dalam sebuah kegiatan produksi filem dokumenter sebagai penulis skenario tentang  potret pendidikan di pedalaman. Filem dokumenter itu ide  seorang pejabat tinggi dalam menelusuri dan mengangkat persoalan pendidikan di pedalaman. Dalam rangkain kegiatan pembuatan filem, saya berkenalan dengan orang nomor satu di  Kementrian Agama Aceh yaitu Bapak Drs H. M. Daud Pakeh Kakanwil Kemenag Aceh.  Sebagai penulis skenario tentu harus melakukan survei ke lokasi-lokasi yang menjadi objek  yang akan didocumenterkan. Beberapa kali saya sempat melakukan perjalan bersama dengan Bapak Daud Pakeh ke pedalaman.

Saya perhatikan mobilitasnya bapak Daud Pakeh sangat tinggi, terus begerak dari satu tempat ke kawasan lain, termasuk menembus hutan untuk mencapai pemukiman di pedalaman. Mungkin karena saya melihat beliau bergerak terus image saya tentang pejabat tinggi masih seperti semulah, Cuma ada sedikit timbul tanda tanya” mengapa Pak Daud menyusahkan diri masuk ke pedalaman, selain melelahkan dan sangat tidak nyaman di tempat yang fasilitas hidup sangat terbatas. Kondisi di pedalaman untuk urusan belakang saja harus cari cangkul, atau syukur ada yang pasang terpal di tempat-tempat sedikit tersumbunyi,  tambah  lagi jijing ember berisi air hujan saat punya hajat ke belakang. Tidak nyaman sudah pasti, kenangan tak terlupakan.

Mungkin beliau punya kegemaran seperti itu,  kan tidak aneh kalau ada orang kaya yang suka bertualang/adventure. Tugas saya sebagai penulis skenario tidak melihat Pak Daud sebagai tokoh sentral dalam skenario, tentu saja saya lebih fokus pada tokoh-inspiratif di pedalaman, namun Pak Daud Pakeh sebagai penggerak untuk menemukan tokoh-tokoh pedalaman jadi rentetan kisah pasti akan bersambung antara satu dengan lainnya.

Untuk menyempurnakan rentetan cerita dalam skenario, saya datang ke rumah Pak Daud Pakeh. Sebelum tiba di lokasi, image dalam fikiran saya pasti sebuah rumah besar, mewah, strategis, sebuah lemari etalase penuh dengan souvenir mahal, furniture modern dengan koleksi klasik dan minimalis, sejumlah kenderaan beratur di garasi.

Ternyata itu sebuah imajinasi kosong, dan saya terkejut dengan realita jauh dari apa yang saya bayangkan.  Ternyata rumah Pak Daud Pakeh membunuh imajinasi saya tentang kemewahan pejabat pemerintah. Lokasinya tidak strategis karena harus melewati lorong terhitung sempit. Ada bagian depan dari rumahnya masih susunan bata telanjang tanpa plasteran, ruang tamu dilengkapi dengan beberapa kursi sederhana, entah tahun berapa dibuat, keramik/granit hanya di ruang tamu saja, ruang belakang masih ubin ditutup dengan karpet plastik istilah lebih halus dari terpal plastik, sebuah vespa lama parkir dalam ruang tamu, bukan di garasi. Tentu saja saya tidak bisa mengurai detil isi rumah, karen itu tidak sopan. Itu sudah cukup untuk membunuh image saya yang sudah berumur panjang tentang pejabat dan kehidupan luxury. Berdasarkan pengalaman kunjungan tersebut, saya berkeyakinan pasti ada juga para pejabat lain seperti Pak Daud yang   mungkin hingga di tingkat mentri, cuma saya belum jumpa langsung.

Duduklah kami bercerita panjang lebar tentang kehidupan seorang orang nomor satu di kemenag Aceh. Ternyata  Pak Daud Pakeh melalui jalan hidup penuh lubang dan mendaki, seorang anak pedalaman dari keluarga bersahaja, ayahnya seorang petani dan tukang bangunan dalam istilah original disebut “Utoh”, juga nelayan. Baru saya mengerti mengapa Pak Daud sangat konsern dengan potensi anak-anak di pedalaman, seperti sering beliau sampaikan dalam sambutannya “anak-anak di pedalaman adalah calon pemimpin bangsa di kemudian hari.”  Kehidupan masa kecilnya telah membuktikan bahwa anak pedalaman dengan segala keterbatasan berhasil menjadi orang nomor satu di Kemenag Aceh, yang dibutuhkan adalah kerja keras dan pantang menyerah.

Masa kecilnya seperti kebanyakan anak-anak Aceh pedalaman tahun enam puluhan, bila sudah lepas dari masa kanak-kanak maka mulai aktif membantu orang tua, tergantung profesi orang tuannya. Orang tua Daud Pakeh menekuni profesi beragam,  sebagai petani, berkebun, nelayan, pengembala dan bertukang.  Sesuai tradisi masa itu, semua bidang tersebut sempat dijalani oleh Daud Pakeh yang pada akhirnya menjadi guru kehidupan, pantang menyerah dalam menghadapi segala tantangan dan bekerja keras jadi kebiasaan (habit). Keberagaman profesi orang tuanya menjadikan Daud Pakeh pribadi yang fleksibel dalam berhadapan dengan lingkungan beragam, dan semua lapangan kerja yang dijalani orang tuannya di negeri ini tidak dihitung sebagai profesi mewah dan berkelas, tapi itu menyisakan pelajaran penting buat Daud Pakeh untuk hidup bersahaja. Lingkungan telah menyiapkan Daud Pakeh untuk menjadi seorang pejabat yang peduli dengan kehidupan orang-orang yang hidup di pinggiran jauh dari gegap gempita.

Adapun masa kecilnya yang membedakan dengan anak-anak lain seusia di kampung adalah semangat belajar. Semua jenjang pendidikan linear di Pendidikan Formal Agama binaan Departemen Agama RI. Mulai dari Ibditidaiyah , MTsAIN, sempat sekolah di PEGAS (Pendidikan Guru Agama Swasta), tapi kemudian kembali lagi ke PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri)  Sigli dan akhirnya menyelesai SI  Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Darussalam.

Karirnya sebagai abdi negara dimulai sebagai guru agama MAN Sigli dalam waktu bersamaan juga membina madrasah swasta dan balai-balai pengajian di Sigli dan sekitarnya. Lalu beranjak sebagai Kasi Kanwil Kementrian Agama Provinsi Aceh pada tahun 1997, meningkat menjadi  Kasubbag Kementrian Agama Banda Aceh pada tahun 1998, Kasubbag Kanwil Kemenag Banda Aceh tahun 2005, Kepala Kankemenag kota Sabang tahun 2008, Kabid Haji dan Umrah pada tahun 2009, Kepala Kankemenag Aceh Jaya pada tahun 2013, dan kini sebagai Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Aceh tahun 2015. Karirnya naik langkah per langkah pelan namun pasti,  berbagai kursi yang telah ditempatinya sama sekali tidak merubah profil asli Drs. H. M. Daud Pakeh yang bersahaja.

Banyak hal Pak Daud Pakeh kisahkan sambil duduk minum kopi di ruang tamu rumahnya yang jauh dari kemewahan. Namun yang paling menyita perhatian adalah soal rumah yang belum jadi itu beliau kerjakan sendiri. Kata beliau” saya bangun sendiri rumah ini mulai dari pondasi, cor lantai, tiang, ikat bata, plaster dan pemasangan atap.” Proses pembangunan rumah itu pun sudah berkalang tahun.  Dalam benak saya terbetik; bukankah untuk setingkat Kakanwil tinggal suruh saja uang yang bekerja untuk fasilitas hidup pribadinya.  Pada saat yang sama saya juga  mendengar banyak pejabat hanya bawa gaji saja ke rumah, tapi golongan ini tidak banyak. Mungkin itu membuat anak-anaknya taat beragama dan ahlul masajid. Hidup ini akan berkah bila fokus pada yang halal saja. Apa pun posisi yang sudah digeluti tidak merubah profil seorang Drs. H.M. Daud Pakeh yang bersahaja dan ulet dalam bekerja. Jadi tesis baru bagi saya untuk mengenal pejabat, hidup sebuah tesis dan anti tesis.

Oleh Teuku Azhar Ibrahim

Sumber;

  1. Dialog penulis dengan Drs. H.M. Daud Pakeh
  2. Memoir Raudhatul Munawwarah

 

 

 

Imam Attabari

Imam Attabari

Nama lengkapnya  Muhammad bin Jarir bin Yazid  bin Kasir bin Ghalib  Attabari Rahimallah.  Kunyahnya Abu Jakfar dan dikenal seperti itu, para sejarawan sependapat bahwa beliau  tidak punya anak bernama Jakfar bahkan  tidak menikah, tapi beliau tetap konsisten dengan adab syariat.

Lahir pada tahun 224H/839M.  di ibu kota propinsi Taburstan.  Menurut Khatib Bagdadi, Attabari menetap di Bagdad hingga wafat.

Masa Kecil dan Pendidikannya

Attabari hidup penuh harapan,  dibesarkan dalam pangkuan ayahnya di tengah-tengah kehangatan keluarga.  Ia memiliki kecerdasan dan IQ  sangat tinggi, tertarik pada ilmu pengetahuan. Sejak masa kanak-kanak ia diarahkan untuk menghafal  Quran, itu merupakan adat keluarga Muslim dan merupakan  metode pendidikan Islam. Ayahnya punya mimpi bagus mengenai anaknya.

Bapaknya melihat dalam mimpin bahwa anak berdiri di hadapan Rasulullah dan ia memegang kantong yang penuh dengan batu dan melempar ke hadapan Rasulullah saw.  Ayah menceritakan hal tersebut kepada seorang yang bijak dan menasehatinya “ bahwa anakmu kalau sudah besar dia menjadi kuat agamanya, dan mendalam tentang  syariat Tuhannya.”

Sang Ayah  memberi tahu kepada anaknya tentang mimpi, dan menceritakan beberapa kali.  Ia pun bersemangat untuk tetap dan bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan mengkaji secara dalam, kemudian mengamalkan dalam kehidupan sehari-sehari  serta menulisnya  untuk mempertahankan kebenaran dan agamanya.

Sejak masa kecil telah nampak pada Attabari ketajamannya dalam menganalisa, dan kemampuannya dalam berfikir secara abtrak dan kecerdasan luar biasa, keahliannya yang istimewa. Ayahnya menyadari hal terebut dan bekerja keras untuk membinanya,  memberi dukungan dan mengarahkannya. Maka ia pun dikirim ke para ulama dan madrasah-madrasah. Ayahnya membebaskan dari semua pekerjaan dan menyuruh fokus pada  belajar.  Beliau alokasi sejumlah harta yang digunakan untuk belajar dan mengajar.  Dalam waktu singkat Attabari bisa mengwujudkan mimpi ayahnya, dan bertambah pula cita-cita dan ambisinya.

Ayahnya tetap menjaga semangatnya untuk mendorong dan membantu anaknya untuk menuntut ilmu seja masa kecil, dan mendorongnya untuk mendapatkan ilmu, anak kecil yang belum sampai umur telah dianjurkan untuk belajar. Ayahnya mengantar anaknya kepada ulama-ulama besar, ia kunjungin seluruh polosok kota bolak-balik untuk mendapatkan peralatan menulis dan kertas.

Begitu pikirannya terbuka maka segera tampak kemampuan dalam berfikir abstrak dan kemampuan berijtihad, sampai ia berkata pada dirinya “aku menghafal Al Quran pada usia tujuh tahun, menjadi imam pada usia delapan tahun dan aku menulis hadist pada usia sembilan tahun.”

Profil Imam Attabari dan Akhlaknya

Imam Attabari menikmati anugerah Allah berupa bakat alam yang luar biasa, Allah telah menciptakannya demikian rupa.

Allah  telah menganugerahkan padanya, sebagaimana Allah telah menyematkannya dengan sejumlah sifat-sifat mulia, akhlak terpuji, sejarah hidup terhormat, diantara sifat-sifat luar biasa Attabari antara lain;

  1. Bakat Alami Attabari dalam Kecerdasan

Sesungguhnya  sifat-sifat manusia pemberian Allah, keberkatan dari sang Pencipta, dan manusia tidak terlibat. Allah menganugerah keistimewaan kepada siapa saja yang Ia kehedaki, memberi keutamaan kepada sebagian manusia, dan memberi kelebihan khusus kepada siapa saja yang Ia kehendaki dari hambanya.

Attabari rahimallah mendapat anugerah instink istimewa, Allah menganugerah kecerdasan luar biasa, akal pikiran yang kuat, otak cerdas dan daya hafal fotografis,  dan itu yang dicatat dengan baik oleh orang tuanya, maka beliau pun mengarahkan untuk menuntut ilmu ketika ia masih kecil, mengalokasi hartanya untuk belajar dan perjalanan mencari ilmu. Kemampuan Attaabari masa kecil terbukti dengan kecerdasannya menghafal Quran (tiga puluh juz) pada usianya 7 tahun dan menjadi imam shalat pada usia 8 tahun dan menulis hadist pada usia 9 tahun.

Kemampuan Menghafal Imam Attabari

Imam Attabari memiliki kemampuan menghafal yang luar biasa, dan menguasai beberapa cabang ilmu, beliau menghafal semua elemen dari sebuah cabang ilmu. Buku-buku/Kitab beliau yang sampai kepada kita adalah bukti nyata.  Kesaksian  Abu Hasan Abdullah bin Ahmad bin Muflis “ Demi Allah saya mengira Abu Jakfar Attabari telah melupakan hafalannya karena usianya yang panjang

Wara dan Zuhuhdnya

Dua sifat yang merupakan dari sifat akhlak mulia, sifat yang sangat penting bagi seorang alim dan dai, pendidik serta Imam. Imam Attabari sangat wara, zuhud dan hati-hati pada haram, dan menjauhi hal-hal syubhat dan menjauhi sejauh-jauhnya larangan Allah. Beliau hidup pada seperempat tanah dan kebuh warisan orang tuanya.

Berkata Ibnu Kasir “  Ibadah, zuhud, wara dan tegak di atas kebenaran  tidak bisa jadi tempat untuk mencari titik lemah beliau”.  Attabari termasuk seorang zuhud terbesar di dunia ini, tidak terpengaruh dengan kenikmatan dan keindahan duniawi, belia mencukupkan diri dengan harta sediki,t seperti pada saat menuntut ilmu yang sekedar untuk mencukupi kebutuhan sederhana dan tidak menerima hadiah dari para raja dan amir.

4- Penjagaan Diri Attabari

Imam Attabari sangat menjaga lidah dan menjaga segala sesuatu yang bisa menyakiti orang lain, kadangkala lidah bisa berlebihan dan melukai orang lain. Luka karena pedang bisa sembuh dan pulih kembali, tapi sulit untuk menyembuhkan luka karen lidah. Imam Attabari tidak mendekati akhlak yang tidak pantas bagi para ahli ilmu dan tidak terpengaruh dengan perangai tersebut hingga beliau wafat.  Pada saat berdebat dengan Daud bin Ali Adhahiri tentang sebuah masalah, maka begitu perdebatan selesai beliau pun berhenti membicarakan tentang Daud Adhahiri.  Para sahabatnya penasaran  dan mengangkat pembicaraan yang memojokan Daud Adhahiri, beliau pun berpaling dan  tidak merespon lalu keluar dari Majlis, kemudian menulis sebuah buku tentang perdebatan tersebut.

Kelembutan jiwa Attabari lebih dari itu, karena zuhudnya tidak pernah meminta pada seorang pun walau berada dalam keadaan sangat sulit, menjaga diri dari meminta bantuan pada oarang lain, dan menghindari untuk mendapatkan pemberian.

Tawadhuk dan Sifat Pemaafnya

Attabari sangat tawadhuk terhadap kawan-kawannya,  dan hidup berdampingan dengan murid-muridnya. Tidak membesar-besarkan posisi dirinya, dan meninggikan diri karena ilmunya, dan membesarkan diri dari orang lain. Kalau diundang untuk menghadiri suatu acara  beliau hadir, kalau diminta menghadiri kenduri pernikahan beliau pun datang.

Attabari tidak pernah iri atau dengki pada siapapun, jiwanya sangat redha, melupakan kesalahan orang yang melanggar haknya dan memaafkan orang yang menyakitinnya.

Muhmmad bin Daud Adhahiri melemparkan tuduhan batil terhadap dirinya, tapi Attabari memujinya, dan menjawab tuduhan, karena Attabari mempertimbangkan posisi ayahnya, membantah dengan argumen, dan menolak pendapatnya, ketika berjumpa Attabari dengan Muhammad bin Daud maka cairlah semua itu, memuji ilmu Daud dan sebagai anak ia menjaga diri agar tidak melewati batas terhadap orang tua

Sikap tawadhuk, keterbukaan hati dan pemaaf tapi Attabari tidak pernah diam terhadap kebatilah dan yang berusaha mengalahkan kebenaran, tidak pula membiarkan bagi perusak akidah.  Beliau selalu konsisten dengan kebenaran, tidak peduli dengan caci maki dalam menegakkan kalimat Allah,  tetap pada pendirian teguh hati, tegas dalam menyampaikan kebenaran walau harus menuai rasa sakit.

 

Para Guru Imam Attabari

Diantara para guru Imam Attabari yang sangat terkenal adalah  Muhammad bin Abdul Malik bin Abi Syawarib, Ishaq bin Abi Israel, Ahmad bin Manik Albaqwi,  Muhammad bin Hamid Arrazi, Abu Humam Walid bin Syujak, Abu Karib Muhammad bin Ala, Yakub bin Ibrahim  Ad Dawarqi, Abu Said Asyaj, Amru bi Ali,  Muhammad bin BBansyar, Muhammad bin Musanna, dan banyak lagi seperti mereka dari Iraq, Syam, dan Mesir.

Murid-murid Imam Attabari

Murid-muridnya yang terkenal, Ahmad bin Kamil Al Qadhi, Muhammad bin Abdullah Asyafii, Mukhalid bin Jafar, Ahmad bin Abdullah bin Hussein Al Jubni Kabai, Ahmad bin Musa bin Abbas Tamimi, Abdullah bin Ahmad Alfaqhani, Abdullah wahid bin Umar bin Muhammad Abu Thahir Al Baqdadi Al Bazazi, Muhammad bin Ahmad bin Umar Abu Bakar Dharir Ramli, Muhammad bin Muhammad bin Fairuz,  dan banyak lagi seperti mereka.

Karya-karya Imam Tabari

Imam Tabbari meninggalkan banyak sekali karya menunjukan dalamnya ilmu dan luasnya pengetahuan, sangat detil dalam kajian ilmu-ilmu syariat dan hukum yang berkaitan dengannya, dia memiliki kemampuan menulis yang bagus, jiwa yang teguh, dan kesabaran dalam penelitian dan kajian, sangat tekun dalam menulis dan penulisan eklopedia  ilmiah dalam  berbagai bidang ilmu dengan anugerah kecerdasan dari Allah yang luar biasa, akal yang handal dan terbuka, mampu bertahan terhadap tekanan, karya tulisnya antara lain:

 

1- جامع البيان في تأويل القرآن، المعروف بتفسير الطبري.

 

2- تاريخ الأمم والملوك، المعروف بتاريخ الطبري.

 

3- كتاب ذيل المذيل.

 

4- اختلاف علماء الأمصار في أحكام شرائع الإسلام، المعروف باختلاف الفقهاء وهو في علم الخلاف.

 

5- لطيف القول في أحكام شرائع الإسلام، وهو كتاب فقه في المذهب الجريري.

 

6- الخفيف في أحكام شرائع الإسلام، وهو في تاريخ الفقه.

 

7- بسط القول في أحكام شرائع الإسلام، وهو في تاريخ الفقه الإسلامي ورجاله وأبوابه.

 

8- تهذيب الآثار وتفصيل الثابت عن رسول الله من الأخبار، وسماه القفطي (شرح الآثار) وهو كتاب في الحديث، بقيت منه بقايا طُبعت في أربع مجلدات.

 

9- آداب القضاة، وهو في الفقه عن أحكام القضاء وأخبار القضاة.

 

10- أدب النفوس الجيدة والأخلاق الحميدة.

 

11- كتاب المسند المجرد، ذكر فيه الطبري حديثه عن الشيوخ، بما قرأه على الناس.

 

12- الرد على ذي الأسفار، وهو ردٌّ على داود بن علي الأصبهاني مؤسِّس المذهب الظاهري.

 

13- كتاب القراءات وتنزيل القرآن، ويوجد منه نسخة خطية في الأزهر.

 

14- صريح السنة، وهي رسالة في عدة أوراق في أصول الدين.

 

15- البصير في معالم الدين. وهو رسالة في أصول الدين، كتبها لأهل طبرستان فيما وقع بينهم من الخلاف في الاسم والمسمى، وذكر مذاهب أهل البدع، والرد عليهم.

 

16- فضائل علي بن أبي طالب، وهو كتاب في الحديث والتراجم، ولم يتمه الطبري رحمه الله.

 

17- فضائل أبي بكر الصديق وعمر، ولم يتمه.

 

18- فضائل العباس، ولم يتمه.

 

19- كتاب في عبارة الرؤيا في الحديث، ولم يتمه.

 

20- مختصر مناسك الحج.

 

21- مختصر الفرائض.

 

22- الرد على ابن عبد الحكم على مالك، في علم الخلاف والفقه المقارن.

 

23- الموجز في الأصول، ابتدأه برسالة الأخلاق، ولم يتمه.

 

24- الرمي بالنشاب، أو رمي القوس، وهو كتاب صغير، ويُشك في نسبته إلى الطبري.

 

25- الرسالة في أصول الفقه. ذكرها الطبري في ثنايا كتبه، ولعلها على شاكلة الرسالة للإمام الشافعي في أصول الاجتهاد والاستنباط.

 

26- العدد والتنزيل.

 

27- مسند ابن عباس. ولعله الجزء الخاص من كتاب (تهذيب الآثار)، وطبعت البقية الباقية منه في مجلدين.

 

28- كتاب المسترشد.

 

29- اختيار من أقاويل الفقهاء

 

Metode Imam Attabari dalam Tafsir

Secara ringkas metode Attabari adalah; menyebutkan ayat-ayat Al Quran dan menyertai dengan pendapat para sahabat dan tabiin serta salaf  dalam tafsirnya. Kemudina menjelaskan dengan riwayat-riwayat lain yang berkaitan dan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi dan kekuatanya pada ayat  dan seluruh  ayat dalam satu surah atau sebagiannya berdasarkan pada perbedaan bacaan atau perbedaan dalam penafsiran, kemudian beliau mengulas dengan detil  antara riwayat,  dan memilih mana yang akan dikedepankan dalam penulisan,  kemudian berpindah ke ayat lain dengan metode yang sama.

Menjelaskan kemudian mengulas dengan baik dan menguatkan berdasarkan standar-standar sejarah,   mulai dari keadaan  perawi  dari segi kekuatan dan kelemahannya,  kepada standar ilmiah dan teknis, dari pengambilan hukum kepada bahasa yang ayat tersebut diturunkan. Nash-nashnya dan perkataan para penyair dan mengkritisi dari segi bacaan, melemahkan atau menguatkannya. Merujuk pada pendapat para ulama fiqih dan akidah, ushul fiqih dan sebagainya dari berbagai cabang ilmu yang dikuasai oleh Attabari. Mengumpulkan semua bahan yang belum pernah dikumpulkan oleh para ulama-ulama besar pada jamannya.

 

Pendapat Para Ulama tentang Attabari

Menurut Yaqut Hamawy “ Abu Jakfar Tabari  Ahli Hadist, Fiqih, gemar membaca, sejarawan  terkenal”

Menurut  Khatib Bagdadi “ Beliau seorang ulam besar, perkataan adalah menjadi rujukan hukum, pendapat dan keutamaannya menjadi referensi, beliau sudah mengumpulkan ilmu yang tidak dapat dilakukan oleh seorang pun pada zamannya. Beliau hafal Quran, gemar membaca, detil dengan makna kata, faqih dalam hukum-hukum quran, alim dalam hadist dan ilmunya, baik hadis saheh, dhaif , ilmu nasikh mansukh, mengetahui perkataan sahabat dan tabiin setelah mereka, mengetahui sejarah dan budaya manusia.

Berkata  Al Qufti “Seorang Alim Sempurna, Faqih, gemar membaca, ahli nahwu, bahasa, hafiz, sejarawan, mendalami semua llmu, tidak pernah ada seorang sekaliber beliau dalam bidangnya, menulis kitab-kitab besar. “

Komentar  Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah  “ saya tidak tahu kalau ada orang yang lebih pintar dari Muhammad bin Jarir.”

 

Berkata Ibnu Kasir “ beliau adalah salah satu ulama Islam  alim dan amal dengan kitab Allah dan sunnah rasul.”

 

Berkatan Imam Az Zahabi “ Imam Jalil, Mufasir karya agung, termasuk para ulama Islam yang konsisten.”

Az Zahabi juga berkata “ beliau memiliki hafalan yang sangat kuat, pakar dalam tafsir,  imam dalam fiqih, ijma dan iktilaf, detil dalam sejarah dan kebudyaan, mendalami qiraat dan bahasa dan sebagainya.”

Berkata Ibnu Targhi Bardi, “ beliau  salah satu ulama, perkataanya dilaksanakan sebagai hukum, pendapatnya dijadikan sandaran, menguasai banyak cabang ilmu, beliau satu-satunya di jamannya.”

Pendapat Para Ulama Mengenai Karyanya

Tafsir Attabari menjadi rujukan para ulama sepanjang sejarah dari dulu hingga saat ini, dijaga dan pelihara dengan baik, dipuji oleh para ulama, sejarawan dan para mufassir, dikutip dengan penuh kebanggaan. Berkata Imam Nawawi “ tidak pernah ada yang menulis seperti beliau.”

Berkata Ibnu Taimiyah “  Tafsir Muhammad bin Jarir Attabari merupakan tafsir terbagus dan sangat berpengaruh.

Berkata Sejarawan Islam  Az Zahabi “ Belum ada yang menulis tafsri seperti beliau.”

 

Wafat Imam Attabari

Imam Attabari hidup menyendiri dalam mihrab ilmu dan terus bekerja hingga wafat, dan tidak satu pun mampu menolak kehendak Allah.  Berkatalah Al Khatib  “berkumpul manusia yang berziarah pada hari wafatnya hanya Allah yang tahu jumlah, orang yang shalat gaib beberapa bulan lamanya siang dan malam,  para ahli agam dan sastrawan merasa sangat kehilangan. “  Beliau wafat pada tanggal 26 syawal tahun 340 H/ 923 M. Pada zaman khalifah Abasyiah  Al Muktadir Billah dan dikuburkan di rumahnya  di Baghdat.

Sumber http://islamstory.com/ar

Penerjemah  Abu Farnas