Asal Usul Keluarga Assad Diktator Suriah

Banyak kajian dan penelitina Ilmiah telah dilakukan untuk menelaah sejarah kelompok Nusairiyah (Uluwiyah/Alawiyah ) namu lebih banyak membahas informasi dan penafsiran dari segi asal usul akidah  kelompok  Nusairyah, dalam pembahasan ini  dipadakan bahwa; Nusairyah salah satu sekte dari Syiah Imamiyah, namun juga tidak sepenuhnya masuk dalam Imamiyah karena mereka membelot setelah Imam kedua belas (Muhammad bin Hasan).

Karena setiap Imam sepakat dengan mazhab Imam dua belas dan memiliki pandangan masing-masing.  Salman Al Farisi dari pintu Imam Ali bin Abi Thalib tapi menurut Nusairyah dari pintu Abu Syuaib Muhammad bin Nusair Al Basri Annamiri. Dari nama tersebut kelompok Nusairyah menamakan diri.  Oleh karena itu banyak kelompok Syiah menerima Nusairyah bagian dari Syiah dan  Iran telah menetapakan Nusayriah bagian dari Syiah. Oleh karenan itu dari segi politik mereka menggunakan bulan sabit Parsi  (Syiah) di kawasan Timur Tengah.

Adapun penamaan mereka dengan Ulawiyah  pada masa Penjajahan Bangsa Eropa. Perancis menamakan ulawy untuk Suriah.  Penelitian membenarkan bahwa sebutan tersebut  mulai dari Bahgdad , Haleb hingga Jabal Sahil Suriah.

Oleh karena itu, Kelompok Nusairyah (Alawiyah) sepanjang sejarah memiliki dua markas utama;  Pertama di Bahgdad dan kedua Haleb, kemudian berpindah ke Allazaqiah.  Namun Markas Bahgdad telah punah sejak masuk Mongol  dan Markas Allazaqiah tetap bertahan hingga saat ini dan menjadi salah satu komposisi masyarakat Suriah.

Kelompok Nusairyah (Alawiyah)  terdiri dari beberapa kabilah dan keluarga yang berpengaruh dari antara mereka; Kabilah Kulaibiyah yang saat ini  mendiami    AlQardaahah, Rasyawanah, Mutawarah,  dan Garahalah.  Penamaan tersebut disematkan kepada kawasan mereka menetap Hamam Qarahalah yang berada di sekitar Propinsi Latakia.  Dan keluarga populer adalah ; Bani Ruslan atau rusalanah dinisbahkan kepadsa kakek mereka Ruslan, mereka dari Arab yang datang dengan Amir Hasan Makzun, masih dekat dengan mereka  Bani Hadad dinisbahkan kepada kakek mereka  Muhammad Haddad, anak Amir Muhammad Al Sanjari saudara kandung Amir Hasan Makzun.

Bani Khayat dinisbahkan kepada  Syaikh Ali Khayat, ini adalah kelompok keluarga agama yang memohon  untuk bisa menetap  di Qardahah sebelum kabilah Kulaibiyah mengangkat panji-panji agama di Qardahah, berdasarkan beberapa sumber  kabilah  ini asal usul kelompok Nusairyah (Alawiyah)  dan banyak juga keluarga besar lainnya dari kabilah ini,  tapi Kelurga  Bani Assad terkenal sangat loyal kepada sekte Nusairyah.  Tidak ada sumber yang menguatkan bagaimana Bani Assad  berhasil menjadi diktator Suriah yang menjalankan pemerintahan dengan tangan besi dan kekejaman.

Namun ada beberapa catatan berdasarkan fakta keluarga Bani Assad merebut kekuasaan  terutama pada masa Hafiz Assad yang mengwariskan kekuasaan kepada anaknya Basyar Assad. Catatan Patrick Seale;  penghujung abad ke 19. datanglah seorang pegulat Turki yang tidak dikenal asal-usulnya, dia mengajak orang ramai untuk menonton dan menikmati gulat,  tapi mereka tidaklah sekedar ingin  melihat sahabat-sahabatnya dikalahkan dan dijatuhkan satu persatu oleh pegulat tersebut.  Tiba-tiba keluarlah seorang yang berumur empat puluh tahun, penampilan badannya yang kekar dan melawan pergulat Turki, ia pegang bagian tengah lalu diangkat ke langit dan dijatuhkan atas tanah. Maka berteriaklah penduduk kampung ; Raksasa, sangat  menakjubkan  dan pahlawan itu bernama Sulaiman,  dan sejak saat itu ia dikenal dengan sebutan Sulaiman Alwahsyi.

Demikian catatan Singkat  Patrick Seale asal usul keluarga “Assad”   Kisah ini yang dimulai dengan Pahlawan Sulaiman Wahsyi  kakek  Hafied Ali Assad  Penguasa Suriah sebelumnya, ayah dari diktator Basyar Assad.  Kisah ditulis dalam buku “ Pergulatan di Timur Tengah,”  oleh seorang penulis berkebangsaan Inggris yang dekat dengan keluarga Assad.

Kisah ini setelah Sulaiman Wahsyi, tapi bagaimana riwayat sebelumnya, dari mana asal-usul mereka, apakah benar-benar dari kalangan Arab. Sederet pertanyaan menyusul dalam benak tiap orang .

Banyak  informasi mengenai hakikat asal-usul keluarga  Assad diantarannya;  keluarga Assad dari Asfahan, kemudian pindah ke Kilikiah  dan berakhir  dan menetap di Al Qardahah, ada juga yang mengatakan bahwa Sulaiman disebut dengan Sulaiman Bahrazi dinisbahkan kepada kotanya Bahraz yaitu Kawasan Irak yang tunduk ke propinsi Dayali Timur Irak, dan ia merupakan keturunan Yahudi dan menyusup dalam kelompok Alawyah untuk menyesuaikan diri dengan keluarga penguasa Suriah.  Dan banyak lagi informasi lain yang  meragukan tentang asal usul keluarga  Assad.

Telaah Pohon Silsilah

Menelaah beberapa pandangan mengenai pohon silsilah atau keturunan;

Nama-nama keluarga Arab memiliki asal-usul dalam riwayat lama dari ibu-ibu mereka, kecuali  Bani Assad. Tidak ditemukan asal-usul mereka dan tidak dikenal nama kakek keluarga Sulaiman kecuali setelah terjadi peristiewa gulat tersebut. Walau Patrick Seale menggolongkan dalam keluarga  Kulaibiah tapi sema sekali dalam penulisan silsilah keluarga Assad tidak mencantumkan pencatatan asal-usul keluarga mereka, mereka takut bila pada satu saat dilakukan penelusurann akan terbongkar kebohongan.

Lebih lanjut lagi Nicholas Van Dam  dalam bukunya  “Perebutan Kekuasaan di Suriah”   menggolongkan Bani Assad ke Kabilah  AlMutawarah, tapi juga tidak menyebutkan nama keluarga Sulaiman Wahysyi berhulu ke Kabilah tersebut.

  1. Menelusuri penulisan silsilah yang sambung menyambung dari orang-orang tua dengan maksud untuk mendapatkan asal-usul keluarga dan keturunan mereka,  atau dari menelusuri dari keluarga besar yang diikuti oleh keluarga lain yang mendiami kawasa geografis tertentu untuk mendapatkan kesempatan membuktikan asal-usul Bani Assad, bahwa mereka termasuk salah satu keluarga yang tergolong dalam kabilah Nusairyah (Alawiyah)

Setelah mengkaji lebih dalam, dapat kesimpulan yang juga disepakati oleh  Syaikh Abdurrahman Khabir  seorang tokoh dalam sekte Nusiaryah (Alawiyah), sebagaimana disamkpaikan oleh  Dr Maahmud Daghim,  guru Filsafat di Dar Muallimn Al Jazair bahwa “Hafid Ali Al Assad bukan penduduk AlQardahah, tapi kakeknya datang dan menetap di sana, pada mulanya di luar perkampungan, mereka disebut dengan  Baitul Hasana, maksudnnya  tempat tinggal yang disedekahkan.

Penduduk kampung mensedekahkan kepada mereka karena kehidupan merka yang sangat memprihatinkan, mereka orang–orang miskin yang tidak memiliki  aset apapun di kampung, tapi merekan dan anak-anak mereka memiliki tumbuh yang kokoh.  Mereka pun dipanggil dengan sebutan (Alwahsyi), setelah mendapat mandat dari Prancis pada masa penjajahan di Suriah, mereka namakan diri sebagai kabilah Assad, maka majlis kabilah menyebut mereka sebagai  “Assad” dan terkenallah keluarga  Al Assad.

 

Perkembangan awal

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa keluarga Bani Al Assad tidaklah berasal dari kawasan Nusairyah (Alawiyah), tidak juga kawasan manapun di Suriah. Keraguan tersebut dikuatkan oleh penguasa Suriah  untuk tidak membicarakan asal-usul keluarga Al Assad hingga hari ini.  Para peneliti dari luar,  seperti Patrict Seale, Nicholas Van Dam  dan lain-lain meninggalkan bagian ini saat menulis tentang   Assad  menduduki kursi kekuasaan Suriah, dan perannya dalam pergolakan politik, militer dan ras. Sejak revolusi 2011, telah  terjadi kerusakan total di Suriah, dan penganut atau kabilah Nusairyah  (Alawiyah) telah terjebak dalam jurang kehancuran untuk membela Basyar Al Assad yang pada dasarnya bukan bagian dari sejarah mereka.

Komposisi Pembentukan Kekuasaan

Tidak diragukan lagi bahwa kekuasaan Bani Assad sebagaimana kekuasaan yang lain memiliki latar belakang, faktor-faktor utama dan peran penting para pendudukung untuk bisa berkuasa dan mempertahankan kekuasaan.

Sulaiman Wahsyi menempuh jalan untuk meraih kekuasaan dengan modal fisiknya yang kuat. Dia bekerja sebagai hakim menyelesaikan sengketa yang terjadi antar keluarga di kampung,  itu yang membuat ia mendapat posisi khusus, dan dekat dengan majlis ningrat kelompok Nusairyah (Alawiyah). Dan itu yang diwarisi oleh anaknya Ali, ayah dari Hafid Hasad yang tidak terbayang sama sekali pada akhirnya meraih puncak piramid kekuasaan di pemerintahan Suriah  pada tahun 1970.

Wasiat  Masa Lampau dan Sahabat Saat ini

Prancis telah berhasil memutus akar asal-usul Bani Assad saat menjajah Suriah pada tahun 1920, dan menjadikan Halaib dan Damaskus dua negara terpisah termasuk memisahkan Jabal Alawiyin dan Druz dari Damaskus, dan memproklamirkan sebagai dua negara yang terpisah pada tahun 1920. Ini bukan masalah yang asing pada saat itu,  politik berpegang pada prinsip  “membagi dan menaklukan”  dan maksud mengangkat suku-suku minoritas di Suriah, dan menjadikan mereka sebagai alat untuk menguasai pemerintahan dan mendorong terjadinya protes dan kekacauan dalam kalangan masyarakat Suriah  pada saat itu.

Kaum minoritas  juga dijadikan  “Pasukan Timur Khusus”  pada tahun 1921. Di bawah binaan perwira Prancis untuk membantu anggota kelompok Nusairyah (Alawiyah)  dan Armenia dan kelompok-kelompok lain serta anggota masyarakat  yang tidak mendapat peluang kerja pada masa sulit.

Pasukan Timur Khusus merupakan batu loncatan  untuk persengkongkolan militer untuk kepentingan Kelompok Nusairyah (Alawiyah),  kemudian  Hafid Ali Al Assad mengkhianati Nusairyah, masuklah ia dalam tahap pemantapan dengan bantuan ayahnya  Ali Al Assad mulai membangun hubungan baik dengan Perancis.  Bersama beberapa wakil dari kelompok Nusairyah, Ali Al Assad dan Sulaiman Al Assad membuat permohonan secara  resmi  agar para perwira Prancis tidak meninggalkan Suriah, atau memberikan hak otonomi untuk kawasan Nusairyah (Alawiyah).

Permohonan tersebut menjadi titip balik penting untuk membongkar rencana busuk dalam benak para pembuat permohonan, terutama Sulaiman Al Assad.  Dalam hal ini  Patrict Sealse berkomentar;  pada tahun 1936, Damaskus mengutus wakil ke Paris guna  bernegosiasi  dengan penguasa Prancis untuk mempersiapkan kemerdekaan.

Diantara topik penting negosiasi antara prancis dengan penduduk asli Alawy dan Druz,  agar mereka disatukan dengan Suriah.   Berbeda dengan rencana Prancis ketika membentuk Persekutuan National Suriah di Damaskus,  sebelum kesepakatan yang tertunda lama sekali dengan Pemerintah Front Rakyat  yang dipimpin oleh Leon Blum yang berusaha untuk mengekang Pemberontakan  Fakufi Aziz  Al Hawasyi (kelompok Alawiy yang berpihak  kepada rakyat Suriah) yang dicalonkan menjadi Gubernur Damaskus,  tapi perwikilan Perancis tidak memberi dukungan.

Pada tahun 1939 ditetapkan Syaukat Abbas memimpin Negara Alawiyah, namun Kakek Al Assad Sulaiman tidak sepakat dengan para perwira Prancis, dan tidak sesuai dengan kesepakata masyarakat yang masih loyal terhadap Perancis.   Dokumen yang diteken oleh Nusairyah (Alawiyah );  memohon agar perwira Prancis tidak meninggalkan Suriah sebagaiman telah disebut sebelumnya.  Kebalikan dari hal tersebut,  lima nama telah membubuhkan tanda tangan  yaitu  Aziz Akha Hawash, Sulaiman Al Assad ini membuktikan bahwa informasi yang diinginkan oleh Patrict Seale dihilangkan  tetang ketikterilibatan Sulaiman AlAssad dengan perancis dalam mengkhianati rakyat Suriah.

Sebagian peneliti memastikan bahwa dokument tersebut masih ada sampai sekarang dalam arsip luar negeri Prancis,  tersimpan dengan 3547 tanggal 15 Juni 1936, yang telah dikopi dalam bentuk elektronik, surat balasan dari pihak pemerintah Prancis memuji kerjasama Nusairyah (Alawiyah) semasa keberadaan para perwira Perancis, dan mereka memastikan tidak akan melupakan masa depan  kelompok tersebut. Kalau pun para perwira telah menyelesaikan tugas mereka, Prancis tetap akan menjadi pelindung bagi kelompok minoritas, sehingga bukan saja menjadi penguasa di pedalaman,  tapi akan menjadi penguasa bagi Suriah.

Itu merupakan niat yang berubah menjadi kenyataan, dan telah menyatu dalam cita-cita Hafid Al Assad untuk meraih kekuasaan, tentu saja tidak mewakili kelompok Nusairyah tapi mewakili dirinya sendiri. Tentu tidak masuk akal, melupakan berbagai catatan yang dikeluarkan oleh para pemuka agama Nusairyah (Alawiyah) mendukung bagi penyatuan Suriah pada saat itu,  kecuali kehendak asing telah mengambil peran penting dalam menyukseskan keluarga Al Assad mengusai kehidupan kelompok Nusairyah, dan Al Assad telah membuktikan keberhasilannya.

Kondisi pada saat itu melempangkan jalan bagi Ali Sulaiman Al Assad untuk meraih kemajuan, ia memiliki peluang sanga baik untuk menyekolahkan   Anaknya Hafid Al Assad ketika tidak satu pun dari anak-anak dari kampung meraih pendidikan formal. Lebih dari Itu  Ali memdapatkan koran resmi untuk mengikuti perkembangan perang dunia pada saat tidak satu orang pun bisa melakukannya.

Keluarga yang sangat miski itu berhasil sampai ke jenjang sosial paling tinggi. Ali Sulaiman berhasil menegosiasi para tokoh Nusairyah untuk mengganti  laqab ( Panggilan) dan diterima oleh masyarakat Al Qardahah  dari sebutan Al Wahsyi menjadi  Al Assad pada tahun 1927.

Suatu kebanggaan dalam jiwa kebanyakan penduduk Suriah sekarang bahwa peletak batu pertama regim Bani Assad adalah Perancis, dan sekarang menjadi sahabat dekat bangsa Suriah.  Berdasarkan peristiwa yang berlangsung saat ini sejak terjadi revolusi 2011, kejahatan Basyar Al Assad terhadap hak-hak asasi manusia di Suriah menjadi satu kebanggaan

Mimpi Buruk Proklamir Regim Assad

Pada tanggal 6  Oktober 1930  mungkin sudah jadi takdir baginya, keluarga Al Assad yang asing dalam referensi sejarah.  Diikuti oleh anggota keluarganya yang tidak meninggalkan bekas-bekas kebajikan atau penghormatan yang tulus dari masyarakat Suriah, mereka tidak bisa melupakan begitu saja orang-orang tak bermoral dalam lingkup kekuasaan

Hafid Al Assad lahir  awal musim dingin tahun tiga pulahan awal abad ke dua puluh,   ia memulai karir dalam militer dan melewati pertualang rumit, penuh dengan pengkhianatan dan janji palsu terhadap para pemimpin Alawiyah,   menjadi regim di Suriah sebagaimana telah dijanjikan oleh Prancis  sebagai balasan dari permintaan Kelompok Alawiyah  untuk membetuk negara Alawiyah.

Hafid Al Assad menempuh pendidikan dasar di kampungnya, kemudian menyelesaikan sekolah menengah di Sekolah  Jawal Jamal  di propinsi Lazaqiah pada tahun 1944.  Di tengah-tengah suasana politik  yang tidak menenntu dan terus dalam pergulatan antara poros nasionalis, sosialis dan Islam dan berakhir dengan terbentuk Parta Baas Arab

Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Atas Hafid Al Assad masuk Kuliah Penerbangan di Hamash pada tahun 1951, itu merupakan langkah pertama ia menuju kursi kekuasaan, ketika menyelesaikan kuliah penerbangan  pada tahun 1955  ia berpangkat Kapten, dan ini merupakan tahap konfigurasi  mendirikan Republik Arab Serikat, ia memanfaatkan masa yang cukup lama untuk memimikirkan strategi pembinaan jalan bagi Al Assad ke depan.Tidak ada seorang pun yang mampu memungkiri kecerdasan dan kelicikan, ia mampu mengwujudkan ambisi diktatornya  dengan tampilan legas, nationalis dan revolusional.

Assad sudah paham  sejak bergabung dalam sayap militer pentingnya strategi dalam  bermain di pentas politik, maksudnya pentingnya kekuatan militer untuk mengwujudkan kemenangan dan stabilitas politik dalam pemerintahan, dan itulah yang dilakukan oleh Hafidh selama ia memegang kekuasaan dan mengwariskannya kepada anaknya Basya Al Assad. Atau dapat disimpulkan bahwa strategi tersebut sudah dimulai sejak pertama sekali membuat perencanaan ketika membentuk Sayap  Militer untuk pertai Baast pada tahun 1957 yang kemudian dikenal dengan segi tiga Alawy. Muhammad Imran, Salah Jadid dan Hafidh Al Assad berperang penting pada saat memisahkan diri dari Mesir pada tahun 1961. Dan pertualangan demi pertualangan terus berlanjut hingga saat ini, tidak penting berapa korban telah jatuh dalam pertualangan tersebut, yang penting tetap bertahan dalam istana Damaskus.

Diterjemahkan oleh Abu Farnas.

yerussalem dan arab

Yerussalem Bersimbah Darah

 

Sepanjang sejarah Palestina dan termasuk di dalamnya kota suci Al Quds atau Yerussalem  senantiasa diperebutkan oleh bangsa-bangsa dunia. Setiap kali lepas dari satu tangan ke tangan lain melalui suatu proses yang berdarah-darah. Sejarah telah membuktikan, keberadaan Yerussalem di bawah panji-panji Islam tercipta kedamaian bagi semua pihak. Dan yang paling sadis saat tentara salib menguasai Yerussalem, empat puluh ribu nyawa tak berdosa melayang di tangan tentera salib, sampai-sampai darah setinggi lutut.Bila  Yerusalem  di Tangan Non-Muslim

Menilik kehidupan sejarah di Palestina baru dapat ditelaah oleh para sejarawan  antara  3100 -7500SM. Dipastikan bahwa di kawasan tersebut sudah ada kehidupan yang sederhana, dibuktikan dengan dibangun kota Ariha (Jericho). Menurut para sejarawan Ariha merupakan kota tertua dalam sejarah, bekas-bekas peninggalan kota tersebut ditemukan di kawasan Ain al-Sultan. Pada akhir-akhir  Milinium keempat SM,  penduduk setempat mulai menggunakan tembaga untuk alat-alat produksi sederhana.  Maka  sejarawan menyebutkan periode tersebut dengan sebutan Jaman Batu Tembaga.

Penduduk Palestina sudah menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar  sejak Milinium Ketiga SM, bersamaan dengan penggunaan bahasa Kan’an dan Aramiyah yang menjadi bahasa populer pada masa itu.

Hijrah Orang – Orang Kan’an

Migrasi manusia ke Palestina pada awal-awal milinium ketiga SM, yaitu migrasi orang Kan’an yang kemudian dinamakan tanah tersebut sebagai negeri Kan’an karena orang orang Kan’an menempati kawasan tersebut.  Tidak lama kemudian bahasa Kan’an, Aramiyah dan bahasa Arab menjadi bahasa resmi dipakai oleh penduduk kawasan Palestina. Palestina tetap disebut dengan negeri Kan’an hingga tahun 1200 SM.

Hijrah Nabi Ibrahim AS.

Juga pada milinium ketiga SM, Nabi Ibrahim AS berhijrah dari kota Or di Irak ke Palestina, dan disana lahirlah Nabi Ishaq dan Yaqub, karena itu disebut sebagai Israel oleh orang-orang Israel.

Emperatur Mesir dan Palestina

Pada saat itu, Palestina adalah bagian dari Emperatur Mesir, dan terjadi hubungan dagang sangat bagus, dibuktikan dengan  tablet amarna (arsip surat-menyurat yang ditulis atas lepengan tanah liat) yang ditemukan di kawasan pedalaman Mesir. Kata Palestina diambil dari nama suku Cretaceous, yang bergabung dengan orang-orang Arab Kan’an yang merupakan penduduk asli Palestina. Jadi bukan Yahudi penduduk asli Palestina, Yahudi kaum migran di Palestina baik pada zaman dahulu hingga migran awal abad ke 19M. Dengan berjalannya waktu semua kawasan tersebut ditempati oleh orang-orang Kan’an Arab. Jadilah Palestina sebagai bagian dari arab jauh sebelum Israel masuk ke Palestina.

Israel

Karena bencana kelaparan menimpa Palestina, Nabi Yaqum AS dan anak-anaknya berhijrah ke Mesir, karena Nabi Yusuf AS menjadi Bendahara di  Mesir. Kisah tersebut diriwayatkan secara detil dalam Al Quran dalam surah Yusuf. Menetaplah orang-orang Israel di Mesir dan jumlahnya kian bertambah. Dan mereka mulai mengalami tekanan pada masa Ramsis II, maka  Nabi Musa AS memutuskan untuk menyelamatkan mereka  ke tanah Kan’an, kisah ini juga termaktum dalam Al Quran. Sebelum masuk ke Kan’an, bangsa Yahudi sempat hidup selama 40 tahun di gurun pasir, dan baru masuk Kan’an pada masa nabi Yusha. Pada zaman Nabi Daud AS berhasil mendirikan Kerajaan Israel  di Palestina setelah berhasil mengalahkan Jalut.

Nabi Daud AS

Nabi Daud AS, menjadi raja yang mampu menyatukan Israel dan menyelesaikan perselisihan antara mereka, dan mengalahkan orang-orang Yabus serta mendirikan kerajaan Israel dan dijadikan Yerussalem sebagai pusat kekuasaannya. Setelah wafat Nabi Sulaiman AS pada tahun 935SM. Kerajaan pecah menjadi dua; Yahuza menjadi menjadi pusat kerajaannya di Yerussalem dan Kerajaan Israel ibu kotanya di Samaria (Shomron), kedua kerajaan tersebut terjadi perselisihan dan  peperangan yang berkelanjutan.

Kedua belah pihak dibantu oleh Raja-Raja Mesir dan Assur sehingga kedua kerajaan melemah dan dikuasai kembali oleh Emperatur Mesir. Pada tahun 920SM, Raja Shisyanaq Mesir menyerang kerajaan Yahuza dan dijadikan jajahan kerajaan Mesir. Pada tahun 721SM, kerajaan Assur menaklukan kerajaan Israel dan Yahuza sekaligus dan membebani mereka dengan pajak. Kerajaan Israel berusahan untuk melakukan perlawanan tapi kerajaan Assur berhasil membungkam perlawanan dan mengungsikan sebagian penduduknya ke Irak.

 

Nebukadnezar Chaldea

Nebukadnezar Chaldea menyerang Palestina pada tahun 597SM, dan menguasai Yerussalem pada saat itu ibu kota Yahuza dan menawan raja dan keluarganya, sebagian para pembesar kerajaan  digiring ke Irak, maka dibangunlah kerajaan baru di Yerussalem. Pada tahun 586SM, sisa yahudi melakukan perlawanan kekuasaan Babil di Palestina dan kembali ditumpas oleh Nebukadnezar. Kali ini Yerusalem hancur total dan orang-orang Kan’an kembali menguasai dan orang-orang Arab dari Suriah dan jazirah Arab berhijrah ke Yerussalem. Selanjutnya peperangan terjadi antara Assura dan Chaldea punahlah kerajaan Yahudi di Palestina setelah hidup selama 4 abad (1000- 589SM) akibat dari perselisihan dan peperangan. Periode itu dijadikan oleh Yahudi untuk kembali menguasai Palestina dengan alasan sebagai tanah yang dijanjikan.

Palestina Jajahan Persia

Persia menyerang Palestina pada tahun 539SM, dan menjajahnya setelah lepas dari jajahan Babil. Palestina pun tunduk pada kerajaan Persia selama dua abad, pada saat itu  Yahudi yang tersisa di bawah kekuasaan Babil kembali ke Yerussalem.

Palestina di Bawah Jajahan Yunani

Kemenangan Iskandar Agung terhadap Parsi adalah peristiwa penting pada abad ke empat sebelum Masehi. Iskandar Agung menguasai Suriah, Ghaza, dan Yerussalem ditaklukan di bawah Emperatur Yunani pada tahun 332SM. Setelah meninggal Iskandar Agung kekuasaannya diperebutkan oleh para pemimpin Yunani, maka jatuhlah Palestina di bawah kekuasaan Antichos yang menyerang Ghaza pada tahun  321SM. Pada tahun 198SM tunduk kepada  regim Antichos III yang bertahta di Suriah. Palestina pun terus hidup dalam peperangan dan jajahan seperti Seperti Maccabees Arab dan  Nabataeans, hingga jatuh dibawah jajahan Roman.

Palestina Jajahan Roman

Roman menjajah Palestina dan menjadikannya bagian dari wilayah Roman, kemudian menjadi wilayah Bizantium pada pertengahan keempat Masehi, ketika terjadi futuhat oleh umat Islam menjadi bagian dari Arab Islam. Pada masa kekuasaan Roman lahir Nabi Isa AS, Yahudi mengadukannya ke penguasa Roman pada tahun 37M dan menuduhnya kafir, kemudia beliau disalib, dalam  hal ini terjadi perbedaan antara Islam dengan kristen mengenai peristiwa salib.

Perlawanan Yahudi

Yahudi menggunakan kedok agama, dengan alasan Yerussalem  anugerah Tuhan untuk mereka, dalil itu digunakan untuk  mendirikan negara  khusus   Yahudi,  sejak mereka kembali dari tawanan Babilon. Tetapi penguasa Roman dengan bantuan orang-orang Arab menyerang Yahudi pada tahun  71M, dan menguasai Yerussalem serta membunuh sejumlah besar orang-orang Yahudi sebelum mereka sempat lari ke Suriah , Mesir dan negara-negara Arab lain.

Publius Aelius Traianus Hadrianus

Usaha terakhir mendirikan negara Yahudi  di Palestina pada tahun 135M. Ketika salah seorang pemimpin agama Yahudi (Hakham) melakukan perlawanan, lalu disambut dengan serangan dari Penguasa Roman di bawah komado Publius Aelius Traianus Hadrianus yang berhasil menguasai serta menghancurkan perlawanan Yahudi  di Yerussalem. Hadrianus membangun kota baru yang diharamkan untuk Yahudi masuk atau tinggal. Setelah peristiwa  itu Yahudi tidak melakukan kekacauan apapun di Palestina hingga permulaan abad ke 20.  Hidup lagi  semangat untuk mendirikan negara Israel, setelah lebih dari seribu tahun setelah runtuhnya kerajaan Yahudi di tangan Nebukadnezar  pada tahun 586SM.

Futuhat Islam di Palestina

Kalifah Abu Baka As Sidiq mengirim bala tentara pada tahun 633 untuk membuka negeri Syam di bawah pimpinan Amru bin As, Yazid bin Abi Sufyan , Abi Ubaidah bin Jarrah dan Syurahbil bin Hasanah. Yazid menghancurkan Rum di Wadi Urbah Selatan Laut Mati dan mengejar mereka hingga ke Ghaza pada tahun 634. Kehidipan di Palestina dalam keadaan tidak stabil beberapa lama hingga umat Islam membuka Palestina pada masa Umar bin Khatab. Sang Kalifah Umar bin Khatab pun menulis surat “Amanah untuk Kaum Masehi ” tidak membolehkan Yahudi menempati Yerussalem atau Baitul Maqdis.

Amru bin As memperoleh kemenangan besar dalam menghancurkan Romawi dalam pertempuran Agnadin pada tahun 634, dan menaklukan Fahal, Bisan, Wald dan Jaffa. Ketika Theodoros, saudara kaisar Romawi Heraclius, mengambil alih komando tentara Romawi, Abu Bakr al-Siddiq memerintahkan komandannya Khalid  bin al-Walid untuk pergi dari Irak ke Palestina.

Yarmuk

Wafatnya Kalifah Abu Bakar lalu digantikan oleh Kalifah Umar bin Khatab, beliau memerintahkan tentara Islam yang berada di Palestina untuk menyempurnakan futuhat, memerintahkan Khalid bin al-Walid untuk menyatukan tentara Islam di bawah satu komando. Terjadilah pertempuran antara Khalid dan Romawi di Yarmuk, umat Islam memperoleh kemenengan besar dalam sejarah Palestina, dan berhasil mendepak Romawi dari Palestina.

Kunjugan Umar bin Khatab.

Patriark Sipronius mensyaratkan untuk menyerahkan sendiri kunci gerbang kota Yerussalem kepada Kalifah Umar bin Khatab yang pada saat itu bernama kota Iliya. Maka datang Umar bin Khatab ke Palestina dan menulis amanah kepada kaum Masehi dalam geraja mereka  “tidak boleh Yahudi tinggal dalam madinah al muqadasah” Sejak saat itu banyak sekali  suku-suku dari Arab; Suriah, Hijaz, Najd, Yaman menempati tanah Palestina dan kemudian muslim menjadu mayoritas dan bahasa Arab menjadi bahasa utama.

Masa Ummawi 661-750

Pada masa Ummawi Palestina tunduk ke Damaskus yang dipimpin oleh Sulaiman bin Abdul Malik, peninggalan bersejarah pada saat itu adalah Qubah Sakrah yang dibangun oleh Abdul Malik bin Marwan pada tempat Nabi Muhammad saw mikraj ke langit pada malam Isra Mikraj, dan masjid Al Aqsa sempurna pembangunannya oleh Walid bin Abdul Malik yang bangunan masih ada hingga hari ini.  Sulaiman bin Abdul Malik membangun  istana  dan masjid putih di kota Ramallah.

Masa Abbasy 750- 1258

Setelah berakhirnya Daulah Muawiyah, Palestina dibawah kendali Daulah Abbasiyah, Khalifah Al Makmun dan anaknya mengunjungi Palestina.  Pada masa Daulah Abassyah arabisasi Palestina berkembang pesat dengan lahirnya generasi mudah hasil perkawinan orang-orang Arab dengan penduduk asli.

Tuloun

Pada abad ke tiga hijriah, Daulah Abbasiyah melemah,  Bani Tuloun berhasil menguasai Lebanon, Suriah, Mesir dan Palestina. Pada masa kekuasaan Bani Tuloun berhasil membangun benteng Akko.

Karamitah

Menurut sejarawan abad ke empat hijriah adalah abad penuh kekacauan politik, golongan Karamitah menyerang dari Teluk Arab hingga Syam, menjajah Palestina setelah terjadi banyak sekali kekacauan dan kehancuran. Lalu Palestina dikuasai oleh penguasa-penguasa berbeda; Orang-orang Kasdim, Saljuk dan Fatimiyah, abad itu memang penuh kekacauan.

Perang Salib 1095 – 1291

Penjajah asing kembali menguasai Palestina pada akhir abad ke 11M. Eropa pada saat itu mengalami banyak sekali persoalan politik, Sosial dan ekonomi. Sumber kehidupan yang terus menipis dan jumlah penduduk kian meningkat. Pertentangan antara raja dengan para satria dan antara paus dengan para raja. Maka menyerang timur adalah jalan keluar bagi semua pihak.

Paus Urban II berhasil menanam benih perang ke dalam hati masyarakat Eropa dengan alasan membebaskan Kuburan Suci Al Masih dari tangan orang muslim dan membersihkan Yerussalem dari muslim. Namun pada akhirnya  Palestina dapat diambil alih  kembali oleh umat Islam di bawah kepemimpinan Khalil bin Qalawun pada tahun 1291. Dan proses pembebasan tentara Salib dari wilayah Islam tercatat nama Shalahuddin Al Aiyubi yang sangat berperang membangkitkan semangat melawan salibi, dan menggusur pasukan salib dari Timur Tengah.

Masa Usmanni

Usmani berhasil menaklukan Mamalik dalam pertempuran Maraj Dabiq dekat Halab tahun 1516, dan mereka memasuki Palestina lalu menjadi Palestina sebagai wilayah Usmani selama empat abad.

Serbuan Napolion 1799

Perancis di bawah komando Napolion menyerang Palestina setelah menaklukan Mesir. Tapi Napolion mendapat perlawanan dahsyat setelah sampai di kota Akko, Napolian gagal masuk kota karena kokohnya benteng dan kelihaian pemimpin Muhammad Basya dalam melakukan perlawanan.

Muhammad Ali

Muhammad Ali penguasa Mesir pada tahun 1838 memperluas kekuasaannya dengan menggabungkan Syam, anaknya Ibrahim Basya berhasil menaklukan Aris, Ghaza, Yaffa, Nablus dan Yerussalem. Kemudian terjadi perlawanan rakyat di Nablus dan Khalil karena Ibrahim Basya membebani rakyat dengan pajak yang mencekik, dan perlakuannya terhadap rakyat yang sangat keras, akhirnya Muhammad Ali tidak mampu mepertahankan Syam lebih dari 10 tahun, dan akhirnya Syam kembali lagi ke pangkuan Usmani.

Penjajahan Ingris 1917

Ingris  berhasil mengalahkan Turki dalam perang dunia pertama, di bawah komando Jendral  Edmund Allenby, Inggris menguasai Palestina dan menguasainya hingga tahun 1948. Inggris mundur dari Palestina dalam waktu yang sama membuka jalan untuk Yahudi mendirikan negara Israel. Para gengster Zionist dengan bantuan Inggris dan Amerika berhasil mengalahkan Arab dalam perang 1948, dan memproklamirkan berdirinya negera Israel setelah sirna  dari Palestina lebih dari seribu tahun.

Amerika Serikat menjadi eksekutor atas keputusan Inggris dalam membagi-bagi wilayah. Melalui sebuah komite bersama yang melesaikan tugasnya pada bulan April 1947. Kemudian keterlibatan PBB dalam melakukan voting dan memberikan suara mayoritas pada resolusi pembagian wilayah pada tanggal 29 November 1947.

Pembagian Palestina

Inggris mengirim Komite Kerajaan ke Palestina yang tugasnya memastikan penyebab utama gangguan dan untuk memverifikasi bagaimana mandat dilaksanakan dan menyelesaikan gangguan.  Laporan Komite mengkonfirmasikan bahwa penyebab revolusi Arab karena keinginan orang-orang Palestina untuk mencapai kemerdekaan nasional dan penolakan mereka untuk membangun sebuah tanah air bagi orang-orang Yahudi. Komite tersebut mengusulkan untuk mengakhiri mandat Palestina berdasarkan pembagian, dan menggantinya dengan sistem perjanjian serupa  dengan yang dilakukan di Irak dan Suriah.

Pembentukan dua negara, salah satunya adalah Arab yang  mencakup Yordania Timur dan  pembagian Arab Palestina yang ditetapkan oleh komite tersebut.  Juga  sebuah negara Yahudi di tanah Palestina. Komite memutuskan Palestina milik  orang Yahudi, dikuatkan lagi kedua perjanjian tersebut memberi jaminan untuk perlindungan minoritas di kedua negara, minoritas yang dimaksud adalah Yahudi.Kominte juga menetapkan piagam militer mengenai pembentukan angkatan laut, darat dan udara serta pemeliharaan pelabuhan dan jalan, jalur kereta api dan pipa minyak.

Di luar batas dua negara Komite juga membuat kawasan ketiga yang termasuk di dalamnya Yerusalem dan Betlehem untuk memudahkan terhubung ke laut melalui sebuah koridor yang membentang dari Yerusalem ke Jaffa di utara dan kota Lod dan Ramalah. Komisi menetapkan bahwa wilayah tersebut harus tetap berada di bawah mandat dan tidak berlaku Deklarasi Balfour, dan bahasa Inggris menjadi bahasa resmi di kawasan tersebut.

Sebagai ganti bagi orang-orang Arab atas hilang tanah mereka, komite menyarankan agar negara Yahudi membayar subsidi finansial ke negara Arab, ketika pembagian tersebut diimplementasikan. Tentu saja Arab menolak keputusan komite yang berpihak kepada Yahudi. Orang-orang Yahudi menolak  laporan Komite tersebut karena melanggar Deklarasi Balfour, yang berjanji untuk memberikan Palestina penuh kepada orang-orang Yahudi.

Pada tanggal 13 September 1937, Sekretaris Luar Negeri Inggris Eden memperkenalkan kebijakan Inggris mengenai pembagian tanah Palestina  ke Liga Bangsa-Bangsa dan menyarankan untuk mengirimkan sebuah komite teknis untuk menguraikan rencana pembagian yang rinci. Penolakan Arab dan Yahudi terhadap pelaksanaan proyek pembagian tanah, dan kemudian usaha Inggris-Amerika untuk meyakinkan orang-orang Arab tentang gagasan itu lagi pada tahun 1945, melalui Komisi Penyelidikan Bersama Anglo-Amerika, dan melalui proyek Morrison dan Bevin pada tahun 1946 dan 1947.

Skenario berubah dari Liga Bangsa-Bangsa di tahun 1930an menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1940. Inggris mengumumkan keputusan bersejarahnya untuk menyerahkan mandat pada awal April 1947 dan meminta Sekretaris Jenderal untuk mempresentasikan masalah Palestina pada sebuah sesi khusus. Pada tanggal 28 April 1947, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadakan sebuah sesi khusus mengenai masalah Palestina, lalu dibentuk sebuah komisi penyelidikan Internasional.

Empat bulan setelah Komite dikirim ke Palestina, laporannya serupa dengan Komisi Kerajaan Inggris, yang merekomendasikan agar situs agama dari semua tempat suci dipertahankan dan menggunakan cara-cara  damai dalam menyelesaikan semua masalah.

Rekomendasi ketiga disampaikan  mengenai pembagian Palestina menjadi negara Arab dan Yahudi. Perbatasan negara Arab terdiri dari Galilea Barat dan Nablus pegunungan dan dataran pantai yang membentang dari Asdod ke perbatasan Mesir, termasuk Hebron, Gunung Yerusalem dan Lembah Yordan. Negara ini memiliki 12 ribu kilometer persegi. Daerah Yahudi terdiri dari Galilea timur, Marj bin Amer, sebagian besar dataran pantai dan daerah Bersyeba dan Naqab. Daerah seluas ini, yang merupakan wilayah paling subur di wilayah Palestina, seluas 14.200 kilometer persegi. Tempat-tempat suci  termasuk kota Yerusalem dan wilayahnya dan ditempatkan di bawah pengawasan Internasional. Dewan Perwalian Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjuk seorang penguasa non-Arab dan non-Yahudi di daerah ini.

Pada sebuah pertemuan yang diadakan pada tanggal 23 September 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa memutuskan untuk mengubah proyek tersebut menjadi sebuah komite khusus yang terdiri dari perwakilan semua negara anggota, termasuk perwakilan Yahudi dan Palestina. Delegasi Palestina menolak proyek tersebut setelah tinjauan historis tentang akar penyebab masalah di Palestina.

Sementara delegasi Yahudi mengumumkan persetujuannya atas proyek tersebut untuk mencaplok wilayah Galilea Barat dan wilayah Yerusalem menjadi bagian dari negara Yahudi. Pada tanggal 29 November 1947, rencana pembagian diajukan untuk melakukan voting dan 33 suara setuju,  13 menolak,  10 abstain. Pada tanggal 15 Maret 1948, Inggris mengumumkan berakhirnya Mandat untuk Palestina dan mengumumkan evakuasi pada bulan Agustus tahun yang sama dan memastikan bahwa palestina tidak akan menjalankan kekuasaan administratif atau militer. Pelan tapi pasti barat bekerjasama untuk mencabut Palestina dari tangan Arab dan Muslim. Apa yang terjadi hari ini adalah drama berdarah yang didukung oleh barat untuk mencabik-cabik Palestina, dan Israel sangat leluasa melakukan aksi teroris terhadap anak-anak dan orang-orang tak berdosa.  Dunia menyaksikan tiap hari drama berdarah itu tanpa ada yang menghentikan.

Disusun  dan alih bahasa oleh; Teuku Azhar Ibrahim

Dari berbagai sumber