Bank Rakyat Gaya Aristokrat

Revolusi Prancis menggulingkan Louis, rakyat Rusia menumbangkan Tsar Nicholas II dan banyak tempat di kolong jagad para aristokrat digulingkan dengan alasan menjengkelkan. Kesan gaya aristokrat itu identik dengan arogan, sok berkuasa, pongah, melihat orang lain seumpama debu yang berterbangan. Gaya aristokrat dalam bahasa Minang punya sindiran  menusuk telinga bagi orang beradab; awaklah urang waang kapitieng/ sayalah orang yang lain kepiting. Gaya Aristokrat itu buruk dalam pandangan manusia yang sudah berperadaban, gaya itu cocok abad-abad silam karena orang  sekolah hanya dua tiga orang.  Tidak dipungkiri juga ada aristokrat sungguhan yang sangat elegan, sederhana dan mengayomi, tapi istilah aristokrat itu sendiri sudah busuk, yang bergaya aristokrat sudah jadi barang menjijikan.

Syahdan, ini kisah bermula di Bank Rakyat Indonesia Cabang Sigli, gaya aristokrasi sangat kental di sana, dan bangga dengan gaya busuk itu. Karena suatu hal saya terpaksa berurusan dengan para aristokrat baru di kota kecil,  mesin ramah yang biasa melayani manusia sedang rusak akhirnya terpaksa berurusan dengan para aristokrat dalam ruang publik milik rakyat. Salah satu bentuk arogansi para aristokrat adalah tidak menghargai hukum atau peraturan yang mereka buat sendiri, dan gaya aristokrat macam itu sangat fenomenal di Bank milik rakyat cabang Sigli. Entahlah kalau dalam benak mereka “Bank itu milik neneknya dan para nasabah yang datang sejumlah jongos kelaparan.”

Seperti biasa, berurusan dengan  konter sebuah Bank harus antri, dan itu wajar karena banyak orang datang. Maka ada peraturan mengambil nomor antrian, antrian itu sendiri sebuah peradaban bagi manusia yang sudah beradab,  karena antrian mengajarkan falsafah menghargai orang lain di ruang public, beradab, berakhlak, bermoral salah satu ukurannya bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain.

Lama saya menunggu dengan nomor antrian 121, saat saya ambil nomor di layar menunjukan angka 80.  Terpaksa harus menunggu, takut amanah orang hilang di tangan. Angka yang bergerak lambat dan itu wajar, para petugas hanya punya dua tangan. Karena sudah satu jam  lebih saya dalam ruang itu, mulailah memperhatikan wajah-wajah dalam penantian, saya lihat juga siapa yang masuk siapa pula yang keluar.  Orang orang masuk belakangan dengan seragam batik, hanya dalam dua tiga menit sudah dilayani oleh petugas. Saya pun bertanya dalam hati, apakah itu para raja baru di Sigli yang wajib mendapat perlakuan istiwewa, sementara ruang antri itu bukan untuk excellence service. Maka saya pun bertanya sama tuan Satpam “ Saya lebih duluan masuk dan ambil nomor antri kenapa itu orang yang dilayani duluan.” Tuan satpam datang bicara dengan petugas mungkin juga dengan tuan besar berseragam batik. Tuan Satpam balik sambil lewat dia bilang “mereka dari Bulog”  pertanyaan saya apakah peraturan membolehkan itu, tuan Satpam bilang “boleh.”

Tidak saya perpanjang mukadimah dengan Satpam, tepatnya bukan wewenang dia. Lalu masuk lagi anak muda, terus ke konter dan dilayani. Mungkin dia sudah dipanggil nomor antriannya tapi terlambat sedikit, saya pun mengalah untuk baik sangka dalam diri. Tidak lama kemudian masuk lagi, penampilannya orang kaya, sempat  saya dengar dia bercakap dengan hand phonenya soal bangun membangun, mungkin ia seorang kontraktor, apa pun dianya itu urusan dia. Orang kaya itu pun dapat pelayanan khusus tanpa harus antri. Ini membuat saya tersinggung yang sudah satu jam setengah duduk menanti. Begitu orang kaya itu selesai petugas konter taruk plakat “istirahat”

Lalu saya bangkit dan tanya sama petugas “di sini berlaku peraturan antri?” jawabannya tegas “ya.”  Dua orang berpakaian batik tadi ada nomor antri. Ia jelaskan soal perusahaan dan pemerintah.  Saya tanya lagi boleh saya lihat peraturan tertulis. Lalu bagaimana dengan orang kaya tadi, saya sebutnya nama karena sempat saya dengar waktu dipanggil. Tentu tuan penjaga konter tak punya jawaban. Saya minta untuk jumpa dengan pimpinan cabang. Jawabnya lagi ibadat dan makan,  saya hormati itu.  Saya tunggu lagi hingga selesai urusan maksud kedatangan ke Bank Rakyat bukan Bank Pribadi atau swasta. Lalu pertanyaan saya ajukan ke Satpam berbeda tentang kesempatan untuk jumpa kepala Cabang. Ia jawab ”lagi meeting dengan tamu dari Banda Aceh.” Dalam hati saya “luar biasa orang di sini, bisa ibadat, makan dan meeting dalam satu waktu.”

Saya pun pergi shalat dan balik lagi untuk bertanya sama Satpam, “boleh saya jumpa sekarang?” jawabnya “lagi istirahat, satu jam lagi baru kembali.” Tentu saja, saya tidak mau menghabiskan satu hari di rumah rakyat yang dikelola para aristokrat.  Sambil saya tinggalkan nama di kertas kecil, dan pesan tak tertulis kepada Satpam, saya akan membuat kalian terkenal. Oleh Karen itu kanalilah mereka para aristokrat di Bank Rakyat kota Sigli.

Tidak bermaksud menyerang secara pribadi, tapi gaya  aristokrat sudah tidak layak lagi di negeri demokrasi. Gaya Aristokrat sudah dijungkirkan seluruh nusantara dengan harga mahal telah dibayar. Teryata raja-raja kecil itu bangkit lagi dan mengganggu peradaban modern, dan revolusi Perancis  sudah memperkenalkan  semboyankan Liberté, égalité, fraternité. Lagi pula  itu bukan Bank Swasta tapi milik rakyat dengan nama tetap mencantumkan nama rakyat. Mereka para petugas Bank adalah sejumlah orang yang dibayar dari margin harta rakyat, dan  mereka hidup di negeri yang ada hukum, peraturan dan sudah berperadaban dengan lima sila, salah satunya Kemanusia yang adil dan beradap. Kalau pihak managemen merasa sudah tidak cocok lagi jadi Bank Rakyat, gantilah dengan Bank Aristokrat Cabang Sigli, sehingga tidak banyak orang terjebak di tempat yang salah. TAMAT

Oleh;  Teuku Azhar Ibrahim