Memory Yang Terlupakan

Ole; Hafidz M

Kenanglah saat-saat dimana mereka meluangkan waktu untuk mengajari kita tentang segala hal yang kita perlu tahu..

Ketika kita kecil, kita selalu meminta dibacakan cerita yang sama berulang-ulang dari malam yang satu ke malam yang lain hingga kita tertidur.

Dan mereka lakukan itu untuk kita!

 

Ingatkah berapa banyak pengertian yang diberikan pada kita untuk menyuruh kita mandi dikala kita  kecil.

Mereka mengajari kita  banyak hal..

Cara makan yang baik..

Cara berpakaian yang baik..

Berperilaku yang baik..

Cara bagaimana menghadapi masalah dalam kehidupan..

 

Ingatkah kita  saat kita  lupa dan tidak dapat mengerti pembicaraan,

Mereka memberikan kita waktu untuk mengingat dan jika kita  gagal melakukannya, Mereka tidak sombong dan memarahi kita ..

Karena yang penting bagi mereka adalah..Mereka dapat bersama kita  dan dapat berbicara dengan kita.

 

Ingatkah kita  saat mereka menjaga dan mengingat waktu makan kita ,

setiap hari saat waktu makan tiba yang terbesit dibenaknya “sudahkah anakku makan”.

 

Ingatkah kita  bagaimana mereka menyuapi kita  makan dengan sabar sampai butiran beras terakhir dan tidak lupa untuk memberikan segelas air untuk kita .

 

Ingatkah kita  ketika kaki kita  tak lagi mampu menyangga tubuh kita  untuk bergerak ..

Mereka merengkuh kita  dalam tangannya, Mengajari kita  melakukan langkah-langkah pertama kita ..

 

Dan dapatkah kita  bayangkan suatu saat nanti,

ketika mereka menghadapi takdirnya..

ketika ajalnya menjemput..

Ketika mereka ingin meninggalkan kita ..

kita  akan mengerti bahwa semua yang mereka lakukan untuk kita  adalah yang terbaik yang bisa mereka berikan dengan berjuta keikhlasan.

 

Suatu hari kelak kita  akan mengerti bahwa di samping semua kesalahan yang mereka buat, kebohongan yang mereka lakukan, kekerasan yang mereka berikan, keputusan yang mereka ambil, semua yang membuat kita  merasa jengkel dan merasa tidak menyenangkan adalah untuk memberikan yang terbaik bagi kita ,

mereka siapkan dasar bagi perkembangan dan kehidupan kita kelak.

 

Saat mereka tua nanti, kita  tidak perlu merasa sedih, tidak beruntung atau gagal di hadapan mereka karena melihat kondisi mereka yang sudah bertambah tua.

Mereka hanya ingin kita  berada didekat mereka,

mereka hanya ingin kita  mencoba untuk mengerti bahwa hidup mereka adalah untuk kita ,

untuk kesuksesan kita , seperti apa yang mereka lakukan pada saat kita  lahir.

Kala mereka tua yang mereka harapkan hanyalah bantuan dari kita  saat mereka ingin berjalan, bantulah mereka pada akhir hidup mereka dengan cinta dan kesabaran.

Satu hal yang membuat mereka berterimakasih pada pada kita  saat mereka tua nanti, yaitu senyum dan kasih sayang kita  untuk mereka saat mereka terbaring lemah.

 

Saat mereka telah mendapatkan takdirnya, saat malaikat maut menyelesaikan tugasnya, dan saat mereka menunggu hari penghakiman tiba, bantulah mereka dengan do’a kita . Karena kita  adalah salah satu dari 3 harta yang mereka tinggalkan yang dapat diterima sebagai penyelamat mereka oleh allah.

Hanya itu.

 

Sadarkah kita, Saat kita jauh, mereka selalu memikirkan kita, diwaktu tertentu mereka menghubungi kita untuk bertanya kabar kita dan kondisi kesehatan kita….

Sadarkah kita, Saat kita menjawab pertanyan-pertanyaan mereka tersebut, kita selalu mengeluh dengan keadaan yang kita rasa tidak menyenangkan, kita selalu memberikan keluhan-keluhan. Tapi mereka tetap sabar memberikan motivasi, memberikan semangat dengan penjelasan yang mampu menentramkan hati kita.

Sadarkah kita bahwa mereka menghubungi kita karena kekhawatiran mereka pada kita, karena rindu mereka pada anaknya, karena sayang mereka, karena cinta mereka.

Tapi, pernahkah kita menghubungi mereka karena ingin tau kabar mereka? Karena ingin tau kondisi kesehatan mereka? Karena Kekhawatiran kita pada mereka, karena rindu kita pada mereka, karena sayang, karena cinta??

 

Jika pun ada, Saat kita bertanya tentang kabar dan kondisi mereka, apapun yang mereka alami, mereka tetap menjawab “Kami baik-baik saja, kami sehat-sehat saja, Kami bahagia” dengan maksud agar kita tidak khawatir, agar kita tenang dan dapat menjalani hidup kita dengan nyaman tanpa harus memikirkan mereka…. padahal mereka selalu memikirkan kita disetiap waktu dan menyebutkan nama kita disetiap do’a.

Tapi berapa kali dalam sehari, dalam sebulan, dalam setahun kita menyebut nama mereka dalam do’a kita? Berapa kali kita memohon kepada Allah agar mereka diberikan kesuksesan, keselamatan dan kebahagian?

Sadarkah kita, bahwa dalam do’a yang kita panjatkan kepada Allah hanya menempatkan egoisme untuk kesuksesan, keselamatan dan kebahagian diri kita sendiri, hanya untuk masa depan kita sendiri.

 

Mereka kesampingkan hidup mereka untuk memberikan hidup kepada kita.

Mereka korbankan harta, tenaga, cinta dan segalanya untuk ANAKnya.

Mereka mencintai kita  dengan berjuta keihklasan.

 

Aceh Besar 12 Oktober 2016

 Hafidz M. Adalah pujangga muda  sedang  membangun istana spiritualnya sebagai guru IT di PESANTREN BAITUL ARQAM

Bersalju Hatiku

      Oleh; Ummu Amru-Khalid*

Aku terbangun dari tidurku, mimpi yang sama menghantui. Ia menangis memanggil-manggilku, apa maknanya? Tanyaku membatin. Tak sadar ku seka mataku, ada kebeningan yang menggenang.

“ehmm, Aku menangis dalam tidurku. Sayup-sayup suara iqamah menyadarkanku untuk segera bangkit berwudhu. Secepatnya kuraih jaket yang semalam kuhempas di atas kursi sepulang dari KMA, kuhayun langkah tergesa menuju masjid di ujung imarah.

Assalamualaikum warahmatullah.” Syekh Ahmad menutup jamaah shubuh pagi ini dengan khidmat. Tapi entah, dua rakaat shubuh tadi terasa amat lama. Hati ku tak tahu akan ku bawa ke mana, apa sebaiknya Aku ke rumah Tgk. Amru dan Cut Kak Azizah. Membagi sedikit kegalauan hati ini, boleh jadi mereka tahu langkah apa yang harus Aku telusuri.

 

Lama sekali rasanya jam berputar, seakan jam di rumahku berhenti berputar, menari-nari di angka yang sama. Aku harus menunggu setidaknya matahari sudah naik sepenggalan, tak sopan pagi-pagi aku sudah bertamu ke rumah orang. Sejam sebelum shalat dzuhur Aku sudah bersiap menuju Hayyu Sabi, nanti Aku akan shalat di Masjid Al-Abrar, mudah-mudahan bertemu Tgk. Amru di sana.

 

Di mahattah ada beberapa mahasiswa yang sedang menunggu bis tujuan mereka, salah satunya temanku dari luar daerah.

“Assalamualaikum, sehat bro..waaah pengantin baru, apa kabarnya ni?”, sapanya.

Waalaikumsalam, ‘Ala ma yuram“, jawabku seadanya, tak lupa kupasang senyum termanisku agar apa yang ada dihati tak menjelma ke muka.

” Mau kemana antum”, Tanya nya.

“Ke Hayy Sabi’ Insya Allah”, tukasku. Kami pun kemudian larut dalam pikiran masing-masing sambil menunggu bus tujuan. Kupandangi lama-lama pasir yang berada di bawah kaki ku, pikiran ku melayang memikirkan apa yang akan ku katakan nanti di rumah Cut Kak Azizah, pasti ia akan menertawakanku. “bukankah  tadi katanya mau ke Hay sabi’, el-tramco tujuan sana udah lewat tiga kali, koq gak naik?’ Tanya temanku.

“Eh..oh..iya-iya..nyari yang agak sepi penumpang “, kilah ku menutup lamunanku yang memang membuatku sama sekali tak mendengar suara kondektur ya berteriak “Sabiek…sabiek..sabiek..” dengan lantangnya.

 

Ezzel ‘arab law samaht yasstha..”. Segera ku ayunkan langkah menuju Masjid, tak kutemukan  Tgk Amru, mungkin beliau masbuq. Usai shalat, Kusapu pandangan keseluruh penjuru masjid, juga tak kudapati Tgk Amru.” Mhhh..”, kuhubungi saja melalui selulernya. Ternyata beliau sedang ke kuliah bertemu musyrif, Ashar insya Allah ada di rumah. Kutunggu saja di sini.

 

Pikiranku melayang enam bulan yang lalu, di masjid ini juga, kutimang fotonya yang diberikan melalui  istri Tgk. Amru. ” Aisyah Karimah Geubri  Na, Lc”, nama tertulis di balik gambar. Dialah yang kini sudi berbagi hidupnya dengan ku. Saat pertemuan ta’aruf di rumah yang akan kudatangi sebentar lagi, kami sepakat akan pulang mengikat janji 2 bulan usai masa perkenalan. Tapi masalahnya, Aisyah tak bisa ikut bersamaku untuk kembali ke Kairo.

 

Dia anak perempuan satu-satunya di keluarga  H. Amin, mertuaku. Setelah empat tahun di Mesir, baru saat itulah ia pulang. Itu pun karena akan menjadi permaisuriku, betapa sedih hati Maknya jika kupaksa Aisyah harus ikut bersama terbang ke gurun,eh..maksudku Mesir.  Musyrif pun tak bisa diajak kompromi, maklum beliau Dekan di fakultas. Banyak hal yang harus beliau urus, belum lagi harus membaca tulisanku yang mungkin saja membuat beliau sakit kepala. Tesis selesai sudah, tapi belum selesai dikoreksi.

 

Saat taaruf itu, kucoba berpendapat bahwa  akan kembali sendiri ke  Kairo dua bulan setelah menikah. Kak Azizah hampir terbahak mendengar ideku,

” susah Dek nanti, kalau seperi itu..”, tanggapannya. Kukira apa yang susah, toh sebelum ini Aku juga hidup sendiri, lagi pun sebentar saja, entah lah mungkin Kak Azizah sudah berpengalaman karena sudah duluan berkeluarga.

 

Entah berapa suhu hari ini, dua minggu terakhir ini puncak musim dingin begitu terasa. Badanku yang tidak bergerak sedari tadi di dalam masjid membuat gigi  ngilu, jangan ditanya apalagi hatiku, membeku ditambah karena sedang memendam rindu.

 

Tuhan, Aku tidak menantikan salju yang turun dari pelataran langit. Puncak musim dingin tahun ini sudah sangat cukup bagiku merasai kesejukan yang tiada taranya. Serbuan angin yang terus menyapu seluruh penjuru menjadikan kedinginan sempurnalah sudah.

Sejuknya musim dingin tahun ini menandai kesejukan hatiku ketika harus berpisah dengan yang kusayangi. Kebekuan itu ada dalam relung kalbu walau salju tak turun di luar sana. Tapi perasaan  dan khayalan Itu tiap saat turun dan menumpuk di pelataran jiwa. Di luar angin dingin masih terus berdesir seakan ia datang mendesuskan kabar orang aku rindukan.

 

Kenapa harus ada ruang yang begitu luas memisah, kenapa harus ada waktu yang begitu lama merentang, kenapa ada jiwa yang merindukan? Kenapa pula ada diri yang kurindukan?

“Ah itulah bunga-bunga jiwa yang sedang mekar”, begitu kata pujangga. Bahasa-bahasa naluri yang timbul selama ini telah mendesakku ke puncak  kehanyutan yang susah  kuungkapkan. Mungkin hanya pada daun-daun gugur dan berserakan yang mampu memahaminya. Atau pada salju dingin  beruraian di tengah malam  yang mampu merasakan kedahsyatan perasaan itu.

Ah, andai kata saja bulan terang di tengah hari, mentari padam tengah hari, bintang berkerlip pagi hari  aku  akan mengatakan bahwa apa yang ku rindukan bukanlah sebuah kemustahilan belaka. Tapi ia berupa rona jiwa yang mulai  terlukis di peraduan kehidupan.

 

Teruslah engkau berdesir wahai angina salju. Teruskan pula gemercikmu wahai air di kali. Teruslah engkau bergumpal wahai awan kelabu senja hari. Teruslah menari wahai engkau pucuk-pucuk cemara di pinggiran pantai. Katakan pada siapa saja bahwa apa yang terjadi adalah telah diatur oleh yang Maha kuasa…

 

Keheningan jiwa yang terasa selama ini telah mengalahkan gempita kota Kairo yang begitu riuh. ia mampu menahan angin ketika harus bertiup untuk merasakan kesendirian di tengah padang lamunan. Mampu mendesak air terus mengalir ke hulu penantian, memanggil embun untuk sentiasa turun membasahi jagad  kehampaan yang semakin kering dari harapan.

 

Kemarilah wahai hati yang tersayat. kita pulihkan luka lama dengan mendengar dendangan syahdu syair-syair cinta yang dibacakan oleh rintihan kepedihan. Biarkan nestapa terkubur dalam lubang waktu yang telah berlalu. Biarkan hati rayakan kesyahduan ke ufuk rasa. Kubuka mushaf  kesayanganku untuk menenangkan jiwa merana ini.

” Puk..”, seseorang menepuk bahuku,

” Tgk Amru rupanya.” Kiban haba Lintoe baroe?”, Kiban haba Cut Adek di Gampoeng“, sapanya akrab. “Alhamdulillah Tgk“, jawabku sekenanya.

Usai Ashar berjamaah kami melangkah  ke rumah Tgk. Sepanjang jalan Tgk bersemangat bercerita tentang masa belajarnya yang sebentar lagi akan berakhir, tapi semua itu hambar dalam pikiranku yang sedang berkelana entah kemana. ” Ahlan,ahlan..”, sambut Cut Kak Azizah.

“Nyoe ta pajoeh khanduri le bacut peu-peu nyang mudah“, timpalnya lagi.

 

Usai makan siang, mulailah  aku ruah apa yang ingin Aku tumpahkan.

“Sebenarnya begini Tgk dan Akak, sudah dua bulan terakhir ini saya merasa semakin berat harus berpisah lama dengan Aisyah. Dan Saya rasa begitu juga Aisyah. Hampir setiap hari pembicaraan whats app memenuhi memori hp, bahkan nyaris penuh.

Ketika balasan terkirim sedikit terlambat….

” Aku berhenti.”

“ Putus internet , putus cinta”, jawab Tgk Amru sembari terbahak disambut senyum istrinya.

Ya betoi Tgk”, timpalku segera.

“Saya jadi susah dengan komunikasi yang sering terseret dalam kesalahpahaman seperti ini”, tambahku lagi. Bla..bla..bla..terus ku tumpahkan. ”Kan dari awal Akak sudah bilang bahwa seperti ini susah, kita menikah untuk hidup dan merajut hari bersama, ya susah… kalau berpisah” ujar Kak Azizah.

” Coba Antum bujuk orang tuanya agar dia bisa balik ke sini, siapa tahu mereka berubah fikiran”, saran Tgk Amru.

”Tlilit..tlilit…”, Hp dalam sakuku memanggil.

” Sebentar Tgk, Akak, telepon dari duktur..”, izinku pada mereka berdua. Ku loudspeakerkan,Aku tak suka mendengar hp di telingaku,

” Assalamualaikum yabni..”, izayyak ?”, sapa duktur. “Waalaikumussalamwarahmatullah ya Maulaanaa…Alhamdulillah”, jawabku.

” Syuff yabni, ana musy mumkin hakhallash minal qiraah bita ak khilal arba’ syuhur, uddamii fi risalatein lazim akra’huma, saufa yunaqasy fi aqrab waqkt, ana ba’tazir geddan geddan.., wa bakden  hanakhallas bitaktak, mafhum kalaaam..heh..wa la eh”,

ujarnya mantap  tak menerima sanggahan.

” Masyi ya Maulana, ha ul eh tayyib, Rabbuna Yusahhil..”,jawabku memelas.

Asykurak, wassalamualaikum..”, Duktur menutup percakapan. “Waalaikumsalam“, tutupku pula.

 

Sepertinya pikiran semakin memantapkanku untuk kesimpulan yang satu.

“Tgk dan Akak sudah mendengar pembicaraan Saya dengan duktur tadi kan, sepertinya saya sudah dapat jawabannya, Saya akan pulang dalam dua hari ini, menggelantung di sini menunggu kepastian empat bulan akan membuat Saya semakin kering, lagi pun jamaah menunggu Saya di kampung”, ujar ku mantap.

” Fa idzaa azzamta fatawakkal alallah, hanya itu yang bisa Saya katakan“, ujar Tgk Amru. Aku segera pamit dalam kedinginan magrib.

 

Sesimpul senyum mulai mengembang, seperti  bunga mulai bersemi di dalam sudut hati kami. Aku akan pulang menjemput bidadari, berbuat sepenuh hati untuk dakwah, tentu yang ku ingin ridha Ilahi, kemudian mencuri hati mertuaku untuk memboyong anaknya bersamaku. Janjiku sebentar saja, menyaksikanku naik ke singgasana di qaah Abdul Halim Mahmud pertengahan tahun ini. Ya Raabb, semoga dalam rencanaMu.

 

Malam ini Aku terbang, semoga langit berpihak padaku menghembuskan angin terbaik membawa burung besi hingga sampai ke negeri. Titipkan salamku pada yang masih bertahan dalam kesendiriannya disini…Aku ingin menjemput doa dalam nama mu, A’isyah Karimah Guebri Na….

 

* Penulis adalah lulusan srata satu jurusan Hadits Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir. Ibu dari dua putra, Amru Syathir dan Khalid Syakir.