Petaka di Halab

 

 

Sejarawan Islam terkenal Ibnu Atsir dalam kitabnya (al kamil fi Tarikh) menyebutkan kehancuran Baghdad di tangan bangsa Mongol abad 13 M, sebagai musibah besar dan malapetaka. Mengingat tragedi kehancuran  mengenaskan sepanjang sejarah itu Ibnu Atsir menuliskan :

 

Siapa yang sanggup mengingat itu? Andaikata ibuku belum melahirkanku, dan andai kata aku mati sebelum terjadi semua itu dan aku menjadi barang yang tak berarti dan terlupakan”.

 

Apa yang terjadi di Halab /Aleppo saat ini adalah serangan Bangsa Mongol Baru yang terdiri dari bangsa Iran, Libanon dan Afghan serta tentara rezim syiah Asad dan Rusia. Di bawah bendera syiah mereka bersatu membantai dan memperkosa wanita, membunuh anak-anak dan rakyat sipil. Seperti laporan PBB 13 Desember kemarin.

 

Kesepakatan yang telah dicapai oleh Turki bersama Rusia untuk melindungi sipil dan tentara oposisi keluar dengan aman dari Aleppo digagalkan oleh milisi syiah yang mulai menguasai Halab.Dan lebih menyedihkan adalah bangsa Arab dan muslimin yang masih berdiam menampakkan solidaritas mereka dengan tragedi kemanusian di Halab.

 

Saudaraku kalau satu ayat dihina kita bisa bangkit, apalagi kalau ribuan saudara kita seiman dibinasakan…rakyat muslim negeri kita dan pemerintah kita sudah layak mesti menempuh jalur yang dibenarkan secara percaturan politik dunia untuk ambil tindakan terbadap negara yang menyebabkan tragedi kemanusian yang memilukan ini.

Mari buktikan keimanan dan solidaritas kita bersama saudara kita di Suriah dan Rohingya…

Demi Allah ini adalah membela Islam juga…!  Oleh; Amri Fatmi

Islam dan Politik

 

oleh; Amri Fatmi, Lc. MA. 

Syariah Islamiah adalah manhaj (jalan) Allah untuk menjaga dan mengatur manusia pada semua sisi kehidupan.pribadi,keluarga, sosial, politik, ekonomi, undang-undang, lingkungan, etika, ritual peribadatan, pemerintahan, hubungan antar bangsa atau  negara. Sebagaimana syariah Islamiah mencakup keimanan pada hari akhirat. Beginilah pemahaman syariah Islam yang mesti dikenal oleh seluruh muslim. Firman Allah :

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Al-Jaatsiyah : 18)

Maka makna syariah secara istilah adalah semua yang disyariatkan atau yang diturunkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad SAW atau Nabi sebelumnya yang berupa aturan  bersifat tetap konstan tidak berubah-ubah dan bukan hasil produk kecerdasan manusia. Dengan demikian, syariat bisa menjadi petunjuk bagi seluruh manusia karena tidak diperdebatkan dan dipertentangkan sebagaimana filsafat, teori-teori, atau ilmu hasil temuan manusia.

Syariat itu sendiri mencakup dua sisi penting dalam agama islam yaitu sisi keyakinan atau akidah dan sisi praktis amalan atau pekerjaan atau disebut fikih. Karena masalah fikih lebih banyak perbincangan dalam Islam, maka hampir-hampir orang menyebut kata syariah hanya untuk fikih semata. Maka indentiklah dipandangan orang; syariah itu hanya masalah fikih praktis semata. Padahal makna kata syariah adalah mencakup akidah dan amalan yang diajarakan dalam Islam, secara umum.

Maka jika ada orang yang menyatakan diri anti syariah, atau merasa syariah tidak cocok dengan masa saat ini, itu maknanya sama dengan mengatakan bahwa Islam itu sendiri tidak cocok zaman saat ini atau orang tersebut anti agama Islam. Maka hal ini perlu dipahami oleh kita umat Islam dalam memakai istilah-istilah berkenaan dengan keyakinan kita.

Pertanyaan yang muncul dari penjelasan tadi adalah : jika syariat Islam adalah aturan tetap dan syariat terakhir bagi seluruh umat manusia, bagaimana syariat ini mampu mengatur semua urusan manusia sampai hari kiamat, sedang manusia selalu berubah pola pikir dan cara hidup mereka dari abad ke abad. Setiap generasi pasti punya masalah baru yang tidak dihadapi oleh generasi sebelumya. Sementara aturan Allah tetap dan konstan tidak berubah sejak diturunkan sampai hari kiamat? Apakah semua kejadian yang akan terjadi dengan manusia jutaan tahun nantinya telah diatur juga dengan syariah islam? Apakah ini logis adanya?

Jawabanny adalah, karena Syariat Islam adalah syariat terakhir dan syariah yang bersifat universal, yang akan berhadapan dengan realita yang dinamis, maka ajaran islam lebih bersifat aturan umum yang bersifat kaidah dan prinsp umum sehingga cocok untuk diterapkan dengan segala macam masalah-masalah bermunculan yang berubah -ubah setiap masa nantinya.

Di samping itu, syariah Islam juga sangat menjunjung fungsi akal dalam penerapan dan pemahamanya. Akal akan memberikan solusi dalam setiap permasalah dengan bercermin pada prinsip dasar dan kaidah yang telah digariskan dalam syariat. Dengan demikian syariat islam akan terus valid kapan saja dan dimana saja.

Oleh sebab itu, kedudukan akal sangat penting dalam agama kita. Lihat saja, seseorang yang tidak sempurna akalnya tidak diperintahkan atau diwajibkan kewajiban agama dalam hidupnya. Kedewasaan dan kesempurnaan akal lah patokan seorang muslim dianggap bertanggung jawab melaksanakan kewajiban Allah dan keharusan mempertanggung jawabkan seluruh perbuatannya. Jadi sangat logis bila syariat islam ini bisa berlaku untuk semua bangsa dan setiap masanya. Karena disesuaikan dengan kemampuan pemahaman akal manusia. Inilah sisi keistimewaan agama kita yang sangat kita banggakan.

Terkhusus lagi dalam masalah ini, islam mengatur masalah pemerintahan dan politik manusia. Sisi ini yang sama sekali raib atau tidak dimiliki oleh agama lain satupun di dunia ini. agama Kristen mengajarkan bahwa ” biarkan yang punya tuhan untuk tuhan dan yang punya raja untuk raja ”  (Matius 21:22) ayat bible ini menjelaskan tidak ada campur urusan pemerintahan raja dengan urusan agama yang diajarkan tuhan. Pemilahan yang sangat terang dan jelas antara agama dan urusan politik dalam ajaran agama Kristen.

Hal ini jelas bertetangan dengan ajaran islam. Yang dalam masalah politik dan pemerintahan islam mengajarkan beberapa prinsip yang harus diwujudkan oleh umat manusia sebagaimana firman Allah :

  يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)

  1. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.
  2. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. An-Nisa : 58-59)

Islam mengajarkan kewajiban taat pada Allah dan Rasul serta patuh pada pemimpin kita yang adil dan memerintah sesaui dengan aturan yang digariskan Allah. Selanjutnyya Allah memerintahkan pemimpin dan rakyat untuk sama-sama berkewajiban berbuat adil dalam kehidupan. Inilah tugas bersama yang harus diemban dan diwujudkan.

Selanjutnya, prinsip mendasar dalam pemerintahan islam adalah musyawarah dan dialog. Firman Allah :

وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (Q.S. Ali-Imran : 159)

   وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (Q.S. Syuura : 38)

Bahkan dalam al Quran dinamakan surat asy-syuura yang bermakna musyawarah untuk mengekalkan prinsip penting ini dalam segala lini kehidupan, apalagi dalam mengurus urusan umum, urusan kepentingan masyarakat banyak, urusan Negara.

Sehingga para ulama isalam mendefinisikan politik dalam islam itu atau yang disebut dengan siyasah syar’iyah dengan : “perbuatan yang bersamanya manusia lebih dekat pada kebaikan dan jauh dari kerusakan walau belum ditetapkan Rasulullah atau diturunkan dalam wahyu.” Begitu kata Imam Abu Wafa’ bin ‘Aqil sebagaimana di nukilkan oleh Ibnu Qayyim dalam kitabnya ‘ilam Al Muwaqqi’in 2/570.

Dengan demikian makna politik Islam dan praktiknya amat luas dan fleksibel sekali. Semua perbuatan yang bertujuan memperbaiki kehidupan manusia dan menjauhkan dari kerusakan dan kesusahan orang banyak akan masuk sebagai bagian dari siyasah syariah yang disuruh oleh Islam. Maka sangat tidak pantas orang takut dengan istilah politik islam yang salah dipahami selama ini.

Dalam sejarah, oleh sebab adilnya Nabi dalam menjalankan politik islam di Madinah, orang Yahudi sendiri menjadikan Nabi Muhammad yang berbeda agama dengan mereka sebagai hakim dalam memutuskan perkara persengketaan sesama mereka. Karena menjujung keadilan adalah titik inti politik islam. Sehingga Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menyatakan bahwa tindakan politik yang dilakukan dengan benar-benar demi mewujudkan keadilan menjadikan tindakan itu masuk sebagai bagian dari islam itu sendiri. (‘ilam al-Muwaqii’in : 2/571)

Saudaraku, berbanggalah kita dengan ajaran islam agama kita yang sangat sempurna mengatur seluruh seluk beluk kehidupan kita. Semoga keterangan singkat yang sudah kita dapatkan ini memacu kita untuk banyak membaca dan belajar ajaran islam yang berkenaan dengan profesi dan pekerjaan kita masing-masing. Dengan demikian kita berusaha mewujudkan islam di muka bumi ini sesuai dengan kemampuan kita.

Aquulu qauli haza wa astaghfirullah li wa lakum…

Cairo, 22 November 2016