Remaja Islam Tidak Bisa Menjawab Salam

 

Oleh; Jarnida

Menjawab salam adalah salah satu hal yang telah ditetapkan oleh syariah Islam kepada siapa saja yang hendak memasuki rumah siapa pun, termasuk rumah sendiri. Yang memberi salam hukumnya sunnah, sedangkan yang menjawab salam hukumnya wajib. Begitulah hukum syariah Islam yang telas ditetapkan oleh Allah SWT dan RasulNya. Agama yang indah dan teratur. Yang mengatur umatnya mulai dari tidur hingga tidur kembali. Jika jaman sekarang banyak umat Islam yang tidak mengikuti apa yang diperintahkan oleh syariah Islam, maka, bukan syariah islamlah yang salah, tetapi umatnyalah yang tidak mengikuti aturan syariahNya.

Menjawab salam adalah hal yang paling kecil dan mudah dilakukan oleh siapa pun. Karena tidak membutuhkan tenaga untuk menjawab salam dari seseorang. Bahkan anak yang berumur dua tahun pun bisa menjawab salam seseorang jika sudah dilatih orang tuanya untuk membiasakan hal yang positif terhadap anak. Tetapi, menjawab salam adalah hal yang paling sulit dilakukan oleh alumni santriwati Baitul Arqam yang berkelahiran pada 12 Desember 1998 ini.

“ Sulit rasanya saat pertama kali menjawab salam. Karena salama ini sama sekali belum pernah mendengarnya. Rasanya bagaikan bahasa yang paling sulit di dunia ini”, tutur Indah Arianti Br Berutu yang hobinya menghafal Al-quran ini.

Bagaimana tidak?  Saat pertama kali ia mendengar salam masih duduk di bangku kelas eman SD. Saat rombongan Baitul Mal Aceh mendatangi kampungnya yang terletak di Aceh Singkil(Laegecih), yang dimana kampung tersebut dihuni oleh penduduk yang beragama non Islam, hanya saja dua kepala rumah yang menganut agama Islam, yaitu rumahnya dan rumah tetangganya. Meskipun keluarganya memeluk agama Islam, tetapi mereka tidak tahu apa itu agama Islam? Apa yang semestinya dilakukan oleh umat Islam? Diakuinya, keluarganya awam pengetahuan terhadap agama Islam.

“Saat rombongon Baitul Mal Aceh datang, mereka memberikan salam saat didepan pintu rumah. Saya hanya diam dan melontarkan senyuman sinis pada mereka. Karena mereka datang menggunakan peci, setahu saya orang yang memakai peci adalah seorang teroris yang tentunya sangat berbahaya. Sejenak saya urungkan prasangka buruk saya karna sepertinnya mereka orang baik-baik. Mereka menanyakan keberadaan orang tua saya. Kebetulan, orang tua saya masih diladang, akhirnya mereka meminta  agar mengabarkan kepada orang tua saya bahwa anggota Baitul Mal Aceh ingin bertemu dengan kedua orang tua saya”.

Indah Arianti Br Berutu adalah seorang anak yang dilahirkan dan dibesarkan dikalangan masyarakat non Islam, dari pasangan Lacarus Berutu dan Nur Maita Manalu, keluarga yang sangat minim pengetahuan tentang agama Islam. Ia menyatakan bahwa sang Ibunda tercinta pernah masuk agama non Islam semenjak menikah dengan sang ayah. Tetapi, saat sudah mempunyai empat orang anak putra, sang Ibunda ingin kembali lagi memeluk agama islam. Baginya agama islam lebih mudah dan teratur, apa lagi sang Ibuda semasa kecilnya pernah belajar tentang islam walau hanya sedikit. Hal yang paling disyukurinya lagi akhirnya sang ayah pun memilih masuk islam dengan senang hati. Akhirnya orang tuanya dan saudaranya yang berjumlah dua belas orang semuanya memeluk agama Islam.

Indah Arianti Br Berutu sekarang bukan lah Indah Arianti Br Berutu yang dulunya tidak tahu apa-apa. Yang tidak bisa mengaji,shalat, bahkan menjawab salam. Sekarang ia menjadi seorang santriwati yang sudah mengenal Islam dan melakukan perintah Allah dan rasulNya.” Alhamdullilah, sekarang saya sudah bisa menjawab salam, memakai jilbab, shalat, mengaji, dan sudah menghafal Al-quran jus 30. Saya berharap bisa menghafal 30 jus, dan menjadi seorang hafidzah yang shalihah dan bermanfaat bagi orang lain, terutama bagi kampung halaman saya. Saya ingin berkakwah agar penduduk kampung saya banyak yang memeluk agama Islam dan tidak memandang bahwa agama Islam itu agama yang penuh dengan keburukan. Walau Saya pernah menilai agama Islam itu buruk, dan saya sangat menyesal terhadap sikap saya yang begitu apatis terhadapNya.” Tuturnya panjang lebar. Ia sangat berterima kasih kepada Baitul Mal Aceh, pihak Pesantren, dan masyarakat yang sudah menyumbang hartanya untuk membiayai kebutuhannya dan kawan-kawan. Yang mana dengan bantuan mereka ia bisa belajar dan mendapat ilmu yang sangat bermanfaat baginya.

Agama Islam adalah agama rahmatal lil ‘alamin, maka dari itu cintailah agama kita. Lakukanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT dan RasulNya. Jaman sekarang umat Islam telah banyak melenceng dari ajaranNya, maka kita sesama muslim wajib saling mengingatkan satu sama lain, agar kembali ke jalan yang lurus. Bukan agama Islam  yang salah, tetapi umatnya lah yang tidak melakukan apa yang telah diperintahkanNya. Jika agama Islam salah, tidak mungkin para Ilmuan menggunaka Al-quran sebagai salah satu kunci dimana mereka meneliti seluruh pengetahuan yang masih belum terkuak. Walau banyak Ilmuan yang beragama non Islam, tetapi mereka mengakui kebenaran dan mukzijat yang ada pada Al-quran. Sehingga banyak kita saksikan para Ilmuan masuk agama Islam karena mengakui kebenaranNya.

Banyak umat Islam yang mengetahui tentang ajaran Islam, tapi mereka mengabaikan perintahNya. Banyak juga umat Islam yang minim pengetahuannya tentang agama Islam, tetapi tidak ingin lebih tahu tetang Islam. Pikirkanlah, bagaimakah generasi Islam yang akan datang? Yang mana, generasi muda sekarang inilah yang akan kita harapkan menjadi pengganti pemimpin agama Islam dan bangsa Indonesia.

Remaja adalah generasi yang akan menggantikannya. Jika remaja sekarang sibuk dengan masalah pacaran, narkoba, dan hal negatif lainnya, siapa yang akan menjadi pemimpin yang memimpin negara ini. Maka dari pada itu, kita sebagai orang tua, guru,dan masyarakat, marilah membina generasi Islam yang shalih dan shalihah. Binalah mereka sebagaimana semestinya. Anak adalah titipan dari Allah, maka kita harus menjaganya, mendidiknya, dan memberikan hal yang terbaik baginya. Karena setiap orang tua akan dimintai pertanggung jawaban atas anak yang sudah dititipkanNya.

******

Santriwati Dayah Pesantren Baitul Arqam Muhammadyah Sibreh Aceh Besar