Inside Islam

 

Oleh : Amri Fatmi LC. MA.*

Seorang wanita datang mengadu. Ia mengeluh tentang keluarganya yang berantakan akibat ulah suami yang katanya bejat. Selama berumah tangga hanya beberapa tahun saja ia menikmati kehidupan indah bersama seorang laki-laki yang telah lama dia sukai. Namun kemudian ia mendapati suaminya adalah orang harus sering dia benci karena kelakuannya yang sangat menyebalkan. Lama wanita itu makan hati. Memendam kesedihan dan pilu dalam derita rumah tangga. Ketika sudah mempunyai momongan, saat ia sangat memerlukan uluran kasih sayang seorang suami sebagai bapak anaknya, eh, ternyata suami malah menceraikannya. Ia pun bergumam meratapi nasibnya : “mengapa islam mengizinkan seorang suami menceraikan istrinya?”.

Kala kasus pertengkaran dalam sebuah kampung terjadi, atau seorang janda ditipu oleh calon suaminya dari kampung seberang, keuchik dan teungku imum kedua kampung diajak oleh keluarga janda yang ditipu untuk duduk menyelesaikan masalah. Tapi pernahkah keluarga tersebut meminta nasehat dan petunjuk keuchik atau teungku imum sebelumnya, bagaimana supaya janda tersebut mendapatkan seorang suami yang layak dan pantas baginya? Pernahkah mereka menanyakan siapa sebenarnya sosok suami yang akan dijadikan calon itu pada orang tua kampung? Tidak pernah!

Ini salah satu dari ratusan kasus yang dialami orang dalam masyarakat kita. Sampel ini mencerminkan bagaimana kondisi islam di masyarkat kita. Banyak orang akan mencari jalan keluar terbaik bagi kasus yang dihadapi setelah terjerembab dan terpasung tak berkutik. Sementara sebelumnya, ia sama sekali tidak mau mendengarkan nasehat, atau tidak mau memperhatikan aturan yang bisa ia ikuti supaya tidak terperangkap dalam malapetaka kehidupan. Bukankah sebenarnya mencari solusi keluar dari permasalah hidup yang menjerat, sama pentingnya dengan menempuh jalan agar terhindar dari permasalahan? Bahkan yang kedua lebih penting, karena para dokter selalu menghimbau ‘mencegah lebih baik dari mengobati.’

Kasus awal, istri meratapi talak yang dijatuhkan suaminya dan balik menuduh kenapa islam memboleh kan talak pada suami. Perlu diusut, bagaimanakah semula sang istri menerima laki-laki tersebut sebagai suaminya. Pernahkah ia mempelajari bagaimana islam mengajarkan kriteria memilih laki-laki sebagai suami yang pantas menjadi bapak dari anaknya? Pernahkah ia mematuhi ajaran islam bagaimana kewajiban dan hak sebagai seorang istri dalam rumah tangga? Tidak !

Masuklah ke dalam islam ini secara keseluruhan. Jangan sepenggal-penggal. Mulailah setiap kegiatan hidup dan agenda besar kehidupan dengan tuntunan islam. Karena islam dalam setiap ajarannya  menuntun manusia untuk selamat dari petaka kehidupan. Tanpa mengikuti aturan islam dalam setiap aspek kehidupan, tandanya kita mematuhi langkah setan yang akan merusak kehidupan kita. Sengsara!

Pahami firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah : 208)

Ayat ini menegaskan dua opsi, masuk ke dalam islam secara utuh, atau mau ikut jalan setan? Masukkan setiap aktivitas hidup dari awal dan akhir sesuai dengan ajaran islam, maka akan terhindar dari tipu daya setan. Namun  apa bila kita hanya mau mengambil langkah pertama saja sesuai dengan islam, yang kedua tidak, maka langkah kedua pastilah langkah setan. Kalau memulai dengan langkah setan (tidak sesuai dengan ajaran islam), lalu diakhir mau cari solusi islami, sudah duluan merana dan menderita. Rugi!

Islam telah mengatur bagaimana menghindari serta mengharamkan zina, sebelum mengatur status anak zina. Islam telah mengharamkan riba, judi, dalam transaksi keuangan sebelum mengajarkan bagaimana keluar dari lilitan hutang dan taubat dari paraktik riba. Islam telah mengatur bagaimana menyelidiki kebenaran berita yang dibawakan orang, sebelum tertipu dan menyesal. Islam telah mengatur langkah mewujudkan keluarga sakinah sebelum mengatur bagaimana memutuskan tali perkawinan, membagikan harta dan anak-anak yang malang . Begitu seterusnya.

Demi Diri Kita

Insaflah, memahami islam adalah memahami jalan hidup yang benar. Mengikuti islam adalah menapaki jalan keselamatan. Sebelum dikatakan islam sebagai kewajiban bagi hidup seorang muslim, namun sebenarnya islam adalah kebutuhan. Kebutuhan manusia seluruhnya bahkan.

Jangan picik memandang Islam hanya meminta dari Anda. Tapi sebenarnya Islam kebutuhan dan keutuhan maslahat Anda dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ketika islam melarang dan menghukum pencuri, artinya islam menjaga harta Anda dari tangan orang lain. Saat Islam melarang menggunjing dan menfitnah, artinya islam menjaga nama baik Anda dalam pikiran orang lain yang tak sanggup dikontrol. Ketika ghalul diharamkan (menggelapkan harta umum secara tipuan) artinya islam memelihara kekayaan siapa saja agar tidak hilang hilang dan lenyap atau berpindah tangan tanpa keridhaan yang mempunyai. Baik itu kekayaan pribadi atau kekayaan negara.

Manakala islam menyuruh menghormati dan menghargai orang yang lebih tua, itu maknanya ketika Anda tua islam memerintahkan ribuan orang untuk  memuliakan Anda. Ketika disuruh menyayangi dan menyantuni anak yatim, itu artinya islam menyuruh orang di pelosok bumi ini untuk menyayangi anak Anda kalau tiba-tiba Anda meninggal saat putra-putri sangat membutuhkan Anda.

Saat Islam menyuruh Anda menundukkan pandangan tidak melihat aurat orang lain, maknanya Islam meyuruh semua manusia di luar sana untuk menjaga pandangan dari istri dan anak putri Anda, agar kehormatan Anda sekeluarga terjaga. Pandangan saja disuruh waspadai, apalagi mengganggu! Semuanya demi Anda!

Jadi, sejak kapan islam ini Anda pandang murah? Pelajarilah, pahamilah dan amalkan Islam yang Indah ini. Karena mempelajari Islam itu adalah mempelajari kehidupan. Mengamalkan Islam adalah mempraktikkan kehidupan berkwalitas tinggi.

Wallahu ‘allaam

 

Sigli, 10 Agustus 2012

 

Menapak Jalan Keselamatan

 

Amri Fatmi Lc.MA.

Banyak orang akan mencari jalan keluar terbaik bagi kasus yang dihadapi setelah terjerembab dan terpasung tak berkutik. Sementara sebelumnya, ia sama sekali tidak mau mendengarkan nasehat, atau tidak mau memperhatikan aturan yang bisa ia ikuti supaya tidak terperangkap dalam malapetaka kehidupan. Bukankah sebenarnya mencari solusi keluar dari permasalah hidup yang menjerat, sama pentingnya dengan menempuh jalan agar terhindar dari permasalahan? Bahkan yang kedua lebih penting, karena para dokter selalu menghimbau ‘mencegah lebih baik dari mengobati.’

Seorang istri—misalkan–yang mendapati suaminya tidak sesuai harapannya, bahkan menambah beban hidupnya, meratapi bagaimana ini terjadi dengan dirinya. Ia mulai mempertanyakan mengapa suaminya tidak mau menghirau kewajiban yang mesti ia lakukan terhadap istrinya. Semua relasi yang mungkin dia temui akan dimintakan solusi untuk menyadarkan suaminya yang tidak paham hak dan kewajiban istrinya. Namun, dia awal perkawinan lelaki itulah sosok luar biasa yang pernah ia jumpai.

Perumpamaan itu bisa berlaku bagi suami yang mendapati istrinya dalam kehidupan rumah tangga tidak sesuai dengan harapannya. Istri yang tidak memperhatikan hak dan kewajibannya bagi sumami, anak dan rumah tangganya. padahal sosok wanita itu adalah gadis  idaman saat pernikahannya.

Dalam kasus seperti ini, si istri dan suami akan mencari solusi bagaimana sebenarnya Islam menyuruh suaminya berlaku adil pada dirinya. Begitu juga suami sangat mengharapkan bagaimana Islam menyuruh seorang istri berlaku taat pada suami. Mempertanyakan kenapa istri tidak mau belajar, atau suami tidak mau taat pada ayat atau hadis yang mengatur masalah rumah tangga.

Namun manakala mereka berdua menikah dulu, kedua-duanya tidak pernah sadar kalau mereka berdua sama sekali tidak paham akan aturan Islam dalam berumah tangga. Suami sama sekali tidak mempertimbangkan syarat-syarat yang diletakkan oleh Islam untuk mendapatkan istri yang menyejukkan kehidupannya. Begitu juga istri tak terpikir baginya sosok pria macam apa yang diatur Islam agar melindungi dan menjaga harga dirinya kala berkeluarga. Modal mereka menikah tok rasa suka, tidak ada pertimbangan terhadap aturan Islam. Dan begitulah akibatnya.

Banyak keluhan dari petugas urusan agama, calon pasutri enggan mendalami ilmu agama demi kehidupan keluarga mereka. Bahkan disyaratkan harus bisa baca al-Quran saja ada yang merasa tersinggung. Subhanallah. Kehidupan bagaimana yang bisa diwujudkan oleh keluarga seperti ini nanti?Anak berkarakter apa yang akan mereka berdua lahirkan kemudian?

Ketika Islam mengatur bagimana solusi bagi sebuah permasalahan hidup manusia, sebenarnya Islam telah meletakkan aturan demi menyelamatkan hidup dari permasalahan tersebut. Mana kala Islam memberikan solusi talak, sebenarnya Islam telah menggariskan rentetan aturan agar suami-istri terhindar dari talak dalam berkeluarga. Begitu pula dalam permasalahan lain.

Islam telah mengatur bagaimana menghindari serta mengharamkan zina, sebelum mengatur status anak zina. Islam telah mengharamkan riba, judi, dalam transaksi keuangan sebelum mengajarkan bagaimana keluar dari lilitan hutang dan taubat kekayaan haram. Islam telah mengatur bagaimana menyelidiki kebenaran berita yang dibawakan orang, sebelum tertipu dan menyesal. Islam telah mengatur langkah mewujudkan keluarga sakinah sebelum mengatur bagaimana memutuskan tali perkawinan, membagikan harta dan anak-anak yang malang . Begitu seterusnya.

Jalan sukses atau Jalan Kesengsaraan

Disadari atau tidak, sebenarnya semua yang diatur dalam Islam itu adalah kebaikan hidup bagi siapa saja. Dalam semua lini kehidupan, baik menyangkut rumah tangga, masyarakat, finansial, etika pribadi,dan sebagainya. Siapa yang mau menjaga aturan-aturan Islam dalam memulai setiap langkah kehidupannya, ia mendapatkan kemalangan jauh darinya.

Masuklah ke dalam Islam ini secara keseluruhan. Jangan sepenggal-penggal. Mulailah setiap kegiatan hidup dan agenda besar kehidupan dengan tuntunan Islam. Karena Islam dalam setiap ajarannya  menuntun manusia untuk selamat dari petaka kehidupan. Tanpa mengikuti aturan Islam dalam setiap aspek kehidupan, tandanya kita mematuhi langkah setan yang akan merusak kehidupan.

Firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S.Al-Baqarah : 208)

Ayat ini menegaskan dua opsi, masuk ke dalam Islam secara utuh, atau mau ikut jalan setan? Masukkan setiap aktivitas hidup dari awal dan akhir sesuai dengan ajaran Islam, maka akan terhindar dari tipu daya setan. Jalan-jalan setan itu selalu berujung pada kesengsaraan dan penyesalan. Sementara aturan Islam pasti membawa pada kesuksesan dan kebahagiaan.

Oleh sebab itu, Allah Swt meminta pada setiap orang mukmin untuk memasukkan diri mereka, keluarga, bisnis, pergaulan, etika adat kebiasaan, dan lainnya ke dalam Islam secara utuh. Karena semua itu, bila tidak sesuai dengan Islam,pastilah sesuai dengan ajaran setan. Dan setan hanya menjanjikan kemalangan belaka. “Setan  itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, Padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (Q.S. An-Nisa : 120)

Harapan apa yang dijanjikan setan pada pemain judi, koruptor, penyambung ayam, pembeli buntut,pengisap sabu dan pembeli lotre di kios-kios kampung? Baca ayat tadi sekali lagi.

Kebutuhan Primer

Insaflah, memahami Islam adalah memahami jalan hidup yang benar. Mengikuti Islam adalah menapaki jalan keselamatan. Sebelum dikatakan Islam sebagai kewajiban bagi hidup seorang muslim, namun sebenarnya Islam adalah kebutuhan. Kebutuhan manusia seluruhnya bahkan.

Jangan picik memandang Islam hanya meminta dari kita. Tapi sebenarnya Islam kebutuhan dan keutuhan maslahat kita dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ketika Islam melarang dan menghukum pencuri, artinya Islam menjaga harta kita dari tangan jahat orang lain. Saat Islam melarang menggunjing dan menfitnah, artinya Islam menjaga nama baik kita dari pikiran kotor orang lain yang tak sanggup dikontrol. Ketika ghalul (menggelapkan harta umum secara tipuan) diharamkan artinya Islam memelihara kekayaan siapa saja agar tidak hilang dan lenyap atau berpindah tangan tanpa keridhaan yang mempunyai. Baik itu kekayaan pribadi atau kekayaan negara.

Manakala Islam menyuruh menghormati dan menghargai orang yang lebih tua, itu maknanya ketika kita tua Islam memerintahkan ribuan orang untuk  memuliakan kita. Ketika disuruh menyayangi dan menyantuni anak yatim, itu artinya Islam menyuruh orang di pelosok bumi ini untuk menyayangi anak kita kalau tiba-tiba kita meninggal saat putra-putri sangat membutuhkan kita.

Mempraktikkan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara adalah kemestian bagi kehidupan yang lebih, sukses, gemilang, sejahtera dan membahagiakan. Siapa yang  mengabaikan atau membenci aturan Islam sama dengan mengabaikan atau membenci kebaikan bagi dirinya sendiri.

Amri Fatmi LC. MA., master akidah filsafat Universitas Al-Azhar, Cairo-Mesir, aktif sebagai dai, Pengasuh Majlis Ta’lim Al-Azhar Asy-Syarif Sigli (amrifatmi@gmail.Com)