Perkembangan Ijtihad dan Taqlid dalam Fiqih Islam

 

Oleh; Idris Ahmad

Mazhab fiqih mendorong terjadinya kebangkitan pemikiran dan ilmu, kebangkitan umat Islam sangat signifikan dalam kurun waktu tiga ratus  tahun pertama, karena para ulama memiliki kebebasan dalam mengembangkan pemikiran, dan perdebatan adalah hal lazim pada periode mereka. Jika timbul masalah  baru setiap ulama mujtahid dengan latar belakang keilmuan mereka  mencari jalan keluar yang layak, berdasarkan dalil  kebenara yang sesuai dengan syar’iat. Abu Hanifah Nuqman rahimallah, salah satu imam yang ijtihadnya menjadi referensi di Iraq, Kufah, dan Basrah.  Setelah beliau mendalami fiqih dari para ulama yang hidup  pada masa itu. Imam Malik Rahimallah tampil dari kalangan para imam yang berpegang teguh pada atsar dan pendapat para ulama di Madinah Munawwarah. Muhamad Syafi’i mengabungkan antara ilmu aqli dan naqli, dan meletakan pondasi ilmu Ushul Fiqh dan metode  istimbat (penggalian) hukum, menjadi populer sebagai mazhab ulama di Madinah dan Iraq. Imam Ahmad bin Hambali ahli hadist beliau imam dalam hadist dan atsar dan beliau lebih dominan pada kedua sumber tersebut, beliau juga meraih prestasi dalam fiqih hadist dan Ijtihad.

Upaya para imam itu hanya satu; memperoleh  kebenaran dan berusaha keras untuk menggalinya,  menolak mengikuti kebiasaan dan ikut-ikutan. Umpamanya  seperti yang disebutkan oleh  Al Alamah  Magribi Muhammad Hajjawi dalam kitabnya “Alfikru Saami”  semua para mujtahid punya maksud dan tujuan yang sama; menggali keputusan hukum mengenai suatu peristiwa berdasarkan Quran dan Sunnah seperti yang diisyaratkan dalam ruh tasyri Islam untuk sampai kepada maksud syariah, tidak ada satu pun punya niat diluar  tujuan tersebut.

Pergolakan  Fiqh Islami  pada saat itu menjadikan hadist nabawi dan penulisanya sebagai materi fiqh. Para fuqaha yang tersebut di atas menjadikan hadist sebagai landasan pokok dalam mazhab dan fatwa mereka. Perlu dicatat bahwa perkembangan fiqih telah memberi kontribusi besar dalam perkembangan khazanah masyarakat Islam, dan jumlah mereka tidak terbatas pada jumlah para imam sunni yang sudah masyhur.  Negeri-negeri muslim terus meluas dengan kebudayaan  dan tradisi beragam melahirkan sejumlah besar para ulama mulai dari puluhan hingga ratusan, dan kebanyakan mereka mencapai derajat mujtahid dan pengetahuan mereka tentang  nash-nash syariah, figh dan tafsir, sampai pada tahap tidak ada satu pun kota yang berhadharah Islamiah yang sepi dari para ulama figh. Dan setiap mereka mampu menggali sumber hukum fiqh dari sumber syariat yang otentik, Ibnu Hazam telah menjelaskan secari rinci dalam kitabnya Al Ahkam, Ibnu Qayyim menukilkan dari Ibnu Hazam

Bahwa semua mujtahid mempunyai satu tujuan yaitu mengali hukum berkaitan dengan hal-hal baru berdasarkan Quran dan Sunnah sesuai dengan ruh tasyri hukum untuk sampai kepada maksud dari pensyariatan hukum. Maksudnya seorang Ulama atau Faqih  pada  abad pertama dan kedua tidak terhitung keberadaannya dalam pergerakan pemikiran Islam hingga ia berijtihad secara mandiri. Seorang ulama dalam istilah mereka adalah seorang mujtahid.

Sebagaimana yang dimaksud oleh Ibnu Qayyim; barangsiapa yang hanya mampu bertaklid dan tidak berbeda dengan sahabatnya tentang sesuatu maka ia  bukan orang yang layak  untuk disebut sebagai ahli fiqih dan tidak pantas disebut sebagai ahli ilmu, oleh karena itu dalam istilah fiqih manusia hanya dibagi dua; mujtahid atau muqalid, tidak ada tiganya. Namun perjalanan mulus untuk berijtihad dan memperkaya ilmu berakhir dengan berakhirnya abad ketiga, pada saat  orang-orang telah menahan diri dari berijtihad, semua murid mengikuti guru mereka dan berakhir pada pemahamaman guru. Mulailah  penulisan pendapat para ulama tentang detil  hukum syariah dalam kitab-kitab, para murid terbatas pada membaca dan menempatkan catatan kaki dan komentar atasnya, menunjukan kepada khalayak ramai bahwa kitab tersebut adalah tingkat tertinggi dalam pencapaian ilmu, awal mula revolusi penulisan dan taqlid mazhab mulai tiga belas mazhab, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk mengkerucut hingga berakhir pada empat mazhab utama, dan terbataslah taqlid pada empat mazhat tersebut tidak ada selain itu.

Pembenaran terjadinya taglid;

Pembenaran pertama ; berakhirnya abad terbaik dengan berakhir abad ketiga; tidak diragukan lagi bahwa abad terbaik berdasarkan sabdda Nabi Muhammad saw. sehingga timbul pembatasan. Sementara pada periode nabi Muhammad saw. ada diantara mereka yang shaleh dan buruk, mukmin dan munafiq, termasuk yang tidak tergolong sebagai orang mukmin.

Termasuk pembenaran untuk membuat pembatasan adalah riwayat yang menjelaskan keutamaan abad tersebut sebagaiman sabda Rasulullah saw;

قوله صلى الله عليه وسلم: ” ثمَّ يَجِيء قوم تسبق شَهَادَة أحدهم يَمِينه، وَيَمِينه شَهَادَته “

Sabda Rasululllah saw. kemudian suatu kaum dimana sumpah mereka mendahului syahadah, dan sumpahnya adalah syahadahnya.

Maksudnya orang-orang yang datang belakangan mereka tidak menghiraukan perkataan, dan memandang rendah sumpah dan syahadah.  Batasan ini ‘menguatkan satu sama lain” terhampar luas di hadapan kita penafsiran (kemungkinan).

  1. Keshalehan itu hanya berakhir di abad pertama karena ada para sahabat radhiallah anhum diantara mereka, dan keberadaan anak-anak mereka di abad kedua dari kalangan yang memiliki keutamaan, dan diikuti setelah itu amal perbuatan seperti amal perbuatan mereka pada abad selanjutnya.
  2. keshalehan abad-abad  tersebut dari sisi umum dan mayoritas, dan hadist membicarakan hal yang  umum dan khusus, abad yang dimaksud  dikuasai oleh keshalehan, kebaikan, berpegang teguh pada petunjuk  serta minim keburukan dan bidah.
  3. keshalehan menujukan kepada lebih utama yang terdahulu dari yang datang kemudian, komitmen mereka sama dengan para pendahulu terutama di bidang ushul ahkam, ibadah dan akidah.

Ulama atau  faqih dalam tiga abad pertaman tidak diperhitungkan ilmunya di tengah perkembangan pemikiran Islam sehingga ia mampu berijtihad.

Semua kemungkinan ini akan dipahami dengan pengetahuan sederhanan dan komitmen mengikuti para  pendahulu, tapi tidak menunjukan bahwa jahilnya generasi yang datang belakangan dan mengkatagori mereka kepada fasiq dan kehancuran, maksud tersirat  ilmu para pendahulu menjadi argumen (hujjah) untuk generasi yang datang kemudian hari dan menyesuaikan cara berfikir mereka dengan pendahulu, dan menjadi petunjuk dalam berijtihad, dan tidak menutup pintu ilmu yang bermanfaat.

Namun membatasi keshalehan berakibat  negatif dalam revolusi  pemikiran Islam sejak awal perkembangannya, bukannya memperoleh perkembangan ilmu  dalam kalangan umat tapi malah menuju ke jumud dan taqlid. Tidak membedakan antara umum dan khusus, antara tetap dengan berubah, antara pokok dengan cabang, maka jadilah ilmu fiqih pecahan kecil fiqih mazhab, dan memperoleh ilmu dengan mengulang-ulang penyampaian fatawa ulama.

Pembeneran kedua; Berlebih-lebihan dalam memuja para ulama mazhab, para pengikut mazhab sangat berlebihan dalam memuja imam mazhbanya, ilmu yang bukan dari imamnya tidak sempurna, sehingga hanya mengandalkan fatwa dan menutup pintu ijtihad, dan beralasan bahwa fiqh yang sudah mereka hasilkan tidak perlu ditambah lagi. Metode penulisan para pengikut mazhab adalah bukti jelas pengaruh pernyataan tersebut dalam cara berfikir ummat.

Pembenaran ketiga; berargumen bahwa fiqh telah sempurna dengan pendapat para ulama mazhab.  Para pengikut dituntut untuk melaksanakan apa yang tersebut dalam kitab-kitab mazhab fiqh, tidak menerima perubahan dengan pendapat baru,  tetap bertahan walau pendapat lain lebih baik dengan alasan ilmu fiqih sudah sempurna dengan segala kaidahnya, akhirnya berhenti total karena telah mencapai kesempurnaan.

Pembernaran keempat ; fatwa tertutupnya pintu ijtihad,  pembenaran ini adalah kesimpulan dari tiga pembenaran   di atas, sebagaimana yang disampaikan oleh ust. Ahmad Khamlisyi dalam kitabnya “ Jumud aldirarasat alfiqiah”  bahwa pembenaran tersebut diatas keluar sebagai fatwa; berkesimpulan bahwa pintu ijtihad telah tertutup, fatwa tersebut merintis jalan menuju taqlid, dan telah menghentikan usaha sebagian ulama yang telah sampai derajat mereka sebagai mujtahid dengan kemampuan memadai dalam bidang figih, dan metode mereka dalam berijtihad.

Maksud dari pembahasan ini untuk mengkaji ulang metode para ulama dan sumber sumber keilmuan  mereka, dan memahami tujuan asal  dari fatwa sehingga menjadi ciri khas suatu mazhab,  tidak sekedar  membuat kutipan dari kitab-kitab fiqh dan menganalisanya, para pemilik mazhab dan pendirinya menjadikan ijtihad sebagai media untuk untuk mencapai kebenaran, mencari pahala dan melaksanakannya bukan untuk mengajak umat untuk taklid

 

Sumber Islamonline

Penerjemah   Abu Farnas

.

 

Daging Halal di Negeri Syariat

Oleh: Teuku Azhar Ibrahim, Lc.

Aceh telah banyak memberi kontribusi kepada Nusantara terutama berkaitan dengan Keislaman. Penerapan Syariah Islam di Aceh membuat banyak kawasan lain ingin belajar ke Aceh. Namun prototype yang ditawarkan itu belum disempurnakan, atau memang butuh waktu lagi agar lebih sempurna. Sehingga saat melakukan study banding ke Aceh, sebagian pengunjung kecewa. Namun demikian, sebagai masyarakat Aceh ikut bangga ketika Polwan dan TNI wanita ingin berjilbab diarahkan ke Aceh.

Bagian yang urgensi untuk disempurnakan adalah penaganan proses makanan halal di pasar-pasar tradisional seluruh Aceh. Pemerintah semestinya lebih proaktif untuk melibatkan diri, walau kesannya sebagai usaha pribadi tapi pengadaan makanan halal di pasar-pasar bagian dari publik servis. Dari sekian banyak masalah makanan halal yang tidak tertangani adalah pemotongan unggas. Praktik di lapangan memprihatinkan, terutama berkaitan dengan tempat pemotongan.

Kesan pertama yang tertangkap saat ke tempat penjual atau pemotong unggas adalah kotor dan tidak hygine, sementara unggas pilihan kedua masyarakat Aceh setelah ikan. Mungkin kita tidak meragukan cara memotong leher ayam oleh para juru potong karena mereka telah melakukan secara turun temurun dengan mengikuti kebiasaan; yaitu terpotong tiga saluran pada leher unggas dengan pisau tajam.

Namun unggas tersebut menjadi tidak halal saat dimasukan dalam air panas dalam keadaan masih hidup, unggas mati karena tenggelam bukan karena habis darah, atau mati karena bertumbuk-tumbuk. Semestinya pemerintah Aceh punya wakil khusus di pasar-pasar untuk memonitoring secara berkelanjutan proses tersebut, berhubung di Aceh tidak mengeluarkan sertifikat Halal atau izin usaha khusus untuk kegiatan usaha pemotongan unggas.

Sisi lain, para penyedia kebutuhan publik di pasar-pasar tradisional adalah sebagai partner pemerintah dalam menyempurnakan pelaksanaan Hukum syariah di Aceh. Artinya mereka harus memdapat bantuan langsung atau hibah untuk menjalankan bisnis pelayanan publik yang mereka geluti. Karena bila infrastruktur atau peralatan pendukung harus menguras dari kantong pelaku usaha kecil tersebut akan memberatkan, karena keuntungan yang diperoleh sehari-hari tidak memadai untuk melengkapi peralatan sesuai standar hygine dan halal berkualitas atau istilah Syariah “halalan thaiban” halal dan baik.

Untuk pelaksanaan penerapan monitoring dan pembinaan, dua dinas berpotensi untuk berkelaborasi; Dinas Syariat dan Dinas Kesehatan. Barangkali dengan dana yang tidak terlalu besar, pasar tradisional telah tertata rapi dan masyarakat dapat menikmati pelayanan daging unggas halal, juga bahan makanan lainnya.

Barangkali Pasar Lambaro Aceh Besar, bisa jadi pilot proyek pembinaan pelayanan daging unggas halal berkualitas, disamping posisinya strategis berada di pintu masuk Banda Aceh, kesediaan lahan masih luas, juga sebagai pasar grosir utama untuk kebutuhan pokok masyarakat dan retail.

Bila saja, para penyedia daging unggas direlokasi pada satu titik dengan tempat pemotongan yang hygine, waste management terencana dengan baik, pengadaan air bersih yang cukup tentu akan menguntungkan konsumen juga pedangang, serta image sebuah pasar negeri syariat. Kalau pun itu akan menghabiskan biaya besar, bisa ditempuh dengan cara lebih sederhana; tiap pelaku usaha daging uggas difasilitasi dengan meja stainless steel, meja kayu pemotong, dan ketersedian air bersih yang memadai atau mereka mudah dalam mengakses air bersih.

Infrastrukture pendukung tersebut selayaknya sebagai hibah, karena mengharap sumber dana dari pelaku usaha boleh jadi akan memberatkan. Namun pemerintah memiliki bargaining dalam memonitoring pelayanan daging unggas untuk masyarakat. Setiap pelaku usaha harus memiliki izin atau sertifikat usaha penyediaan daging unggas, jika mereka tidak merawat peralatan hibah atau prosedur penyedian daging unggas tidak memenuhi SOP (standar operasional prosedur Halal) maka ijin usaha bisa dicabut setelah lewat proses peringatan.

Dengan demikian pelan-pelan negeri Aceh benar-benar bisa dijadikan sebagai prototype negeri Syariat. Selanjutnya bisa dikembangkan ke penyedia makanan halal lainnya di pasar-pasar traditional, restoran dan pasar modern seluruh Aceh. Banyak diantara kita, termasuk anggota dewan, penjabat pemerintah punya pengalaman menyaksikan pelayanan daging halal di negeri lain, bersih, hygine dan sehat dikonsumsi.

Sebagai contoh, Muslim Australia sangat professional dalam penanganan daging halal sehingga mengalahkan produk daging non halal di pasar-pasar konvensional. Image yang terbangun pada masyarakat; halal meat is hygiene menimbulkan kecemburuan para pemasok daging non halal hingga mereka memprovokasi masyarat dan pemerintah untuk melarang penjualan daging halal, tentu usaha tersebut sia-sia saja.

Kenyataan tersebut kami saksikan sendiri; penjual daging halal di pasar Prestone Melbourne kewalahan melayani pembeli dari kalangan muslim dan non-muslim. Pemandangan lain lebih dahsyat, ketika sebuah usaha penyedia daging non Halal di pusat pembelanjaan Northland bangkrut, kemudian diambil alih oleh pengusaha daging halal dari kalangan Muslim berlatar Timur Tengah, keadaan berubah 180 derajat, para pembeli antri panjang baik dari kalangan muslim maupun non-muslim. Hidup di negeri syariat akan lebih nikmat bila pelaksanaan disempurnakan terutama soal daging unggas halalan taiban.