Asal Usul Keluarga Assad Diktator Suriah

Banyak kajian dan penelitina Ilmiah telah dilakukan untuk menelaah sejarah kelompok Nusairiyah (Uluwiyah/Alawiyah ) namu lebih banyak membahas informasi dan penafsiran dari segi asal usul akidah  kelompok  Nusairyah, dalam pembahasan ini  dipadakan bahwa; Nusairyah salah satu sekte dari Syiah Imamiyah, namun juga tidak sepenuhnya masuk dalam Imamiyah karena mereka membelot setelah Imam kedua belas (Muhammad bin Hasan).

Karena setiap Imam sepakat dengan mazhab Imam dua belas dan memiliki pandangan masing-masing.  Salman Al Farisi dari pintu Imam Ali bin Abi Thalib tapi menurut Nusairyah dari pintu Abu Syuaib Muhammad bin Nusair Al Basri Annamiri. Dari nama tersebut kelompok Nusairyah menamakan diri.  Oleh karena itu banyak kelompok Syiah menerima Nusairyah bagian dari Syiah dan  Iran telah menetapakan Nusayriah bagian dari Syiah. Oleh karenan itu dari segi politik mereka menggunakan bulan sabit Parsi  (Syiah) di kawasan Timur Tengah.

Adapun penamaan mereka dengan Ulawiyah  pada masa Penjajahan Bangsa Eropa. Perancis menamakan ulawy untuk Suriah.  Penelitian membenarkan bahwa sebutan tersebut  mulai dari Bahgdad , Haleb hingga Jabal Sahil Suriah.

Oleh karena itu, Kelompok Nusairyah (Alawiyah) sepanjang sejarah memiliki dua markas utama;  Pertama di Bahgdad dan kedua Haleb, kemudian berpindah ke Allazaqiah.  Namun Markas Bahgdad telah punah sejak masuk Mongol  dan Markas Allazaqiah tetap bertahan hingga saat ini dan menjadi salah satu komposisi masyarakat Suriah.

Kelompok Nusairyah (Alawiyah)  terdiri dari beberapa kabilah dan keluarga yang berpengaruh dari antara mereka; Kabilah Kulaibiyah yang saat ini  mendiami    AlQardaahah, Rasyawanah, Mutawarah,  dan Garahalah.  Penamaan tersebut disematkan kepada kawasan mereka menetap Hamam Qarahalah yang berada di sekitar Propinsi Latakia.  Dan keluarga populer adalah ; Bani Ruslan atau rusalanah dinisbahkan kepadsa kakek mereka Ruslan, mereka dari Arab yang datang dengan Amir Hasan Makzun, masih dekat dengan mereka  Bani Hadad dinisbahkan kepada kakek mereka  Muhammad Haddad, anak Amir Muhammad Al Sanjari saudara kandung Amir Hasan Makzun.

Bani Khayat dinisbahkan kepada  Syaikh Ali Khayat, ini adalah kelompok keluarga agama yang memohon  untuk bisa menetap  di Qardahah sebelum kabilah Kulaibiyah mengangkat panji-panji agama di Qardahah, berdasarkan beberapa sumber  kabilah  ini asal usul kelompok Nusairyah (Alawiyah)  dan banyak juga keluarga besar lainnya dari kabilah ini,  tapi Kelurga  Bani Assad terkenal sangat loyal kepada sekte Nusairyah.  Tidak ada sumber yang menguatkan bagaimana Bani Assad  berhasil menjadi diktator Suriah yang menjalankan pemerintahan dengan tangan besi dan kekejaman.

Namun ada beberapa catatan berdasarkan fakta keluarga Bani Assad merebut kekuasaan  terutama pada masa Hafiz Assad yang mengwariskan kekuasaan kepada anaknya Basyar Assad. Catatan Patrick Seale;  penghujung abad ke 19. datanglah seorang pegulat Turki yang tidak dikenal asal-usulnya, dia mengajak orang ramai untuk menonton dan menikmati gulat,  tapi mereka tidaklah sekedar ingin  melihat sahabat-sahabatnya dikalahkan dan dijatuhkan satu persatu oleh pegulat tersebut.  Tiba-tiba keluarlah seorang yang berumur empat puluh tahun, penampilan badannya yang kekar dan melawan pergulat Turki, ia pegang bagian tengah lalu diangkat ke langit dan dijatuhkan atas tanah. Maka berteriaklah penduduk kampung ; Raksasa, sangat  menakjubkan  dan pahlawan itu bernama Sulaiman,  dan sejak saat itu ia dikenal dengan sebutan Sulaiman Alwahsyi.

Demikian catatan Singkat  Patrick Seale asal usul keluarga “Assad”   Kisah ini yang dimulai dengan Pahlawan Sulaiman Wahsyi  kakek  Hafied Ali Assad  Penguasa Suriah sebelumnya, ayah dari diktator Basyar Assad.  Kisah ditulis dalam buku “ Pergulatan di Timur Tengah,”  oleh seorang penulis berkebangsaan Inggris yang dekat dengan keluarga Assad.

Kisah ini setelah Sulaiman Wahsyi, tapi bagaimana riwayat sebelumnya, dari mana asal-usul mereka, apakah benar-benar dari kalangan Arab. Sederet pertanyaan menyusul dalam benak tiap orang .

Banyak  informasi mengenai hakikat asal-usul keluarga  Assad diantarannya;  keluarga Assad dari Asfahan, kemudian pindah ke Kilikiah  dan berakhir  dan menetap di Al Qardahah, ada juga yang mengatakan bahwa Sulaiman disebut dengan Sulaiman Bahrazi dinisbahkan kepada kotanya Bahraz yaitu Kawasan Irak yang tunduk ke propinsi Dayali Timur Irak, dan ia merupakan keturunan Yahudi dan menyusup dalam kelompok Alawyah untuk menyesuaikan diri dengan keluarga penguasa Suriah.  Dan banyak lagi informasi lain yang  meragukan tentang asal usul keluarga  Assad.

Telaah Pohon Silsilah

Menelaah beberapa pandangan mengenai pohon silsilah atau keturunan;

Nama-nama keluarga Arab memiliki asal-usul dalam riwayat lama dari ibu-ibu mereka, kecuali  Bani Assad. Tidak ditemukan asal-usul mereka dan tidak dikenal nama kakek keluarga Sulaiman kecuali setelah terjadi peristiewa gulat tersebut. Walau Patrick Seale menggolongkan dalam keluarga  Kulaibiah tapi sema sekali dalam penulisan silsilah keluarga Assad tidak mencantumkan pencatatan asal-usul keluarga mereka, mereka takut bila pada satu saat dilakukan penelusurann akan terbongkar kebohongan.

Lebih lanjut lagi Nicholas Van Dam  dalam bukunya  “Perebutan Kekuasaan di Suriah”   menggolongkan Bani Assad ke Kabilah  AlMutawarah, tapi juga tidak menyebutkan nama keluarga Sulaiman Wahysyi berhulu ke Kabilah tersebut.

  1. Menelusuri penulisan silsilah yang sambung menyambung dari orang-orang tua dengan maksud untuk mendapatkan asal-usul keluarga dan keturunan mereka,  atau dari menelusuri dari keluarga besar yang diikuti oleh keluarga lain yang mendiami kawasa geografis tertentu untuk mendapatkan kesempatan membuktikan asal-usul Bani Assad, bahwa mereka termasuk salah satu keluarga yang tergolong dalam kabilah Nusairyah (Alawiyah)

Setelah mengkaji lebih dalam, dapat kesimpulan yang juga disepakati oleh  Syaikh Abdurrahman Khabir  seorang tokoh dalam sekte Nusiaryah (Alawiyah), sebagaimana disamkpaikan oleh  Dr Maahmud Daghim,  guru Filsafat di Dar Muallimn Al Jazair bahwa “Hafid Ali Al Assad bukan penduduk AlQardahah, tapi kakeknya datang dan menetap di sana, pada mulanya di luar perkampungan, mereka disebut dengan  Baitul Hasana, maksudnnya  tempat tinggal yang disedekahkan.

Penduduk kampung mensedekahkan kepada mereka karena kehidupan merka yang sangat memprihatinkan, mereka orang–orang miskin yang tidak memiliki  aset apapun di kampung, tapi merekan dan anak-anak mereka memiliki tumbuh yang kokoh.  Mereka pun dipanggil dengan sebutan (Alwahsyi), setelah mendapat mandat dari Prancis pada masa penjajahan di Suriah, mereka namakan diri sebagai kabilah Assad, maka majlis kabilah menyebut mereka sebagai  “Assad” dan terkenallah keluarga  Al Assad.

 

Perkembangan awal

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa keluarga Bani Al Assad tidaklah berasal dari kawasan Nusairyah (Alawiyah), tidak juga kawasan manapun di Suriah. Keraguan tersebut dikuatkan oleh penguasa Suriah  untuk tidak membicarakan asal-usul keluarga Al Assad hingga hari ini.  Para peneliti dari luar,  seperti Patrict Seale, Nicholas Van Dam  dan lain-lain meninggalkan bagian ini saat menulis tentang   Assad  menduduki kursi kekuasaan Suriah, dan perannya dalam pergolakan politik, militer dan ras. Sejak revolusi 2011, telah  terjadi kerusakan total di Suriah, dan penganut atau kabilah Nusairyah  (Alawiyah) telah terjebak dalam jurang kehancuran untuk membela Basyar Al Assad yang pada dasarnya bukan bagian dari sejarah mereka.

Komposisi Pembentukan Kekuasaan

Tidak diragukan lagi bahwa kekuasaan Bani Assad sebagaimana kekuasaan yang lain memiliki latar belakang, faktor-faktor utama dan peran penting para pendudukung untuk bisa berkuasa dan mempertahankan kekuasaan.

Sulaiman Wahsyi menempuh jalan untuk meraih kekuasaan dengan modal fisiknya yang kuat. Dia bekerja sebagai hakim menyelesaikan sengketa yang terjadi antar keluarga di kampung,  itu yang membuat ia mendapat posisi khusus, dan dekat dengan majlis ningrat kelompok Nusairyah (Alawiyah). Dan itu yang diwarisi oleh anaknya Ali, ayah dari Hafid Hasad yang tidak terbayang sama sekali pada akhirnya meraih puncak piramid kekuasaan di pemerintahan Suriah  pada tahun 1970.

Wasiat  Masa Lampau dan Sahabat Saat ini

Prancis telah berhasil memutus akar asal-usul Bani Assad saat menjajah Suriah pada tahun 1920, dan menjadikan Halaib dan Damaskus dua negara terpisah termasuk memisahkan Jabal Alawiyin dan Druz dari Damaskus, dan memproklamirkan sebagai dua negara yang terpisah pada tahun 1920. Ini bukan masalah yang asing pada saat itu,  politik berpegang pada prinsip  “membagi dan menaklukan”  dan maksud mengangkat suku-suku minoritas di Suriah, dan menjadikan mereka sebagai alat untuk menguasai pemerintahan dan mendorong terjadinya protes dan kekacauan dalam kalangan masyarakat Suriah  pada saat itu.

Kaum minoritas  juga dijadikan  “Pasukan Timur Khusus”  pada tahun 1921. Di bawah binaan perwira Prancis untuk membantu anggota kelompok Nusairyah (Alawiyah)  dan Armenia dan kelompok-kelompok lain serta anggota masyarakat  yang tidak mendapat peluang kerja pada masa sulit.

Pasukan Timur Khusus merupakan batu loncatan  untuk persengkongkolan militer untuk kepentingan Kelompok Nusairyah (Alawiyah),  kemudian  Hafid Ali Al Assad mengkhianati Nusairyah, masuklah ia dalam tahap pemantapan dengan bantuan ayahnya  Ali Al Assad mulai membangun hubungan baik dengan Perancis.  Bersama beberapa wakil dari kelompok Nusairyah, Ali Al Assad dan Sulaiman Al Assad membuat permohonan secara  resmi  agar para perwira Prancis tidak meninggalkan Suriah, atau memberikan hak otonomi untuk kawasan Nusairyah (Alawiyah).

Permohonan tersebut menjadi titip balik penting untuk membongkar rencana busuk dalam benak para pembuat permohonan, terutama Sulaiman Al Assad.  Dalam hal ini  Patrict Sealse berkomentar;  pada tahun 1936, Damaskus mengutus wakil ke Paris guna  bernegosiasi  dengan penguasa Prancis untuk mempersiapkan kemerdekaan.

Diantara topik penting negosiasi antara prancis dengan penduduk asli Alawy dan Druz,  agar mereka disatukan dengan Suriah.   Berbeda dengan rencana Prancis ketika membentuk Persekutuan National Suriah di Damaskus,  sebelum kesepakatan yang tertunda lama sekali dengan Pemerintah Front Rakyat  yang dipimpin oleh Leon Blum yang berusaha untuk mengekang Pemberontakan  Fakufi Aziz  Al Hawasyi (kelompok Alawiy yang berpihak  kepada rakyat Suriah) yang dicalonkan menjadi Gubernur Damaskus,  tapi perwikilan Perancis tidak memberi dukungan.

Pada tahun 1939 ditetapkan Syaukat Abbas memimpin Negara Alawiyah, namun Kakek Al Assad Sulaiman tidak sepakat dengan para perwira Prancis, dan tidak sesuai dengan kesepakata masyarakat yang masih loyal terhadap Perancis.   Dokumen yang diteken oleh Nusairyah (Alawiyah );  memohon agar perwira Prancis tidak meninggalkan Suriah sebagaiman telah disebut sebelumnya.  Kebalikan dari hal tersebut,  lima nama telah membubuhkan tanda tangan  yaitu  Aziz Akha Hawash, Sulaiman Al Assad ini membuktikan bahwa informasi yang diinginkan oleh Patrict Seale dihilangkan  tetang ketikterilibatan Sulaiman AlAssad dengan perancis dalam mengkhianati rakyat Suriah.

Sebagian peneliti memastikan bahwa dokument tersebut masih ada sampai sekarang dalam arsip luar negeri Prancis,  tersimpan dengan 3547 tanggal 15 Juni 1936, yang telah dikopi dalam bentuk elektronik, surat balasan dari pihak pemerintah Prancis memuji kerjasama Nusairyah (Alawiyah) semasa keberadaan para perwira Perancis, dan mereka memastikan tidak akan melupakan masa depan  kelompok tersebut. Kalau pun para perwira telah menyelesaikan tugas mereka, Prancis tetap akan menjadi pelindung bagi kelompok minoritas, sehingga bukan saja menjadi penguasa di pedalaman,  tapi akan menjadi penguasa bagi Suriah.

Itu merupakan niat yang berubah menjadi kenyataan, dan telah menyatu dalam cita-cita Hafid Al Assad untuk meraih kekuasaan, tentu saja tidak mewakili kelompok Nusairyah tapi mewakili dirinya sendiri. Tentu tidak masuk akal, melupakan berbagai catatan yang dikeluarkan oleh para pemuka agama Nusairyah (Alawiyah) mendukung bagi penyatuan Suriah pada saat itu,  kecuali kehendak asing telah mengambil peran penting dalam menyukseskan keluarga Al Assad mengusai kehidupan kelompok Nusairyah, dan Al Assad telah membuktikan keberhasilannya.

Kondisi pada saat itu melempangkan jalan bagi Ali Sulaiman Al Assad untuk meraih kemajuan, ia memiliki peluang sanga baik untuk menyekolahkan   Anaknya Hafid Al Assad ketika tidak satu pun dari anak-anak dari kampung meraih pendidikan formal. Lebih dari Itu  Ali memdapatkan koran resmi untuk mengikuti perkembangan perang dunia pada saat tidak satu orang pun bisa melakukannya.

Keluarga yang sangat miski itu berhasil sampai ke jenjang sosial paling tinggi. Ali Sulaiman berhasil menegosiasi para tokoh Nusairyah untuk mengganti  laqab ( Panggilan) dan diterima oleh masyarakat Al Qardahah  dari sebutan Al Wahsyi menjadi  Al Assad pada tahun 1927.

Suatu kebanggaan dalam jiwa kebanyakan penduduk Suriah sekarang bahwa peletak batu pertama regim Bani Assad adalah Perancis, dan sekarang menjadi sahabat dekat bangsa Suriah.  Berdasarkan peristiwa yang berlangsung saat ini sejak terjadi revolusi 2011, kejahatan Basyar Al Assad terhadap hak-hak asasi manusia di Suriah menjadi satu kebanggaan

Mimpi Buruk Proklamir Regim Assad

Pada tanggal 6  Oktober 1930  mungkin sudah jadi takdir baginya, keluarga Al Assad yang asing dalam referensi sejarah.  Diikuti oleh anggota keluarganya yang tidak meninggalkan bekas-bekas kebajikan atau penghormatan yang tulus dari masyarakat Suriah, mereka tidak bisa melupakan begitu saja orang-orang tak bermoral dalam lingkup kekuasaan

Hafid Al Assad lahir  awal musim dingin tahun tiga pulahan awal abad ke dua puluh,   ia memulai karir dalam militer dan melewati pertualang rumit, penuh dengan pengkhianatan dan janji palsu terhadap para pemimpin Alawiyah,   menjadi regim di Suriah sebagaimana telah dijanjikan oleh Prancis  sebagai balasan dari permintaan Kelompok Alawiyah  untuk membetuk negara Alawiyah.

Hafid Al Assad menempuh pendidikan dasar di kampungnya, kemudian menyelesaikan sekolah menengah di Sekolah  Jawal Jamal  di propinsi Lazaqiah pada tahun 1944.  Di tengah-tengah suasana politik  yang tidak menenntu dan terus dalam pergulatan antara poros nasionalis, sosialis dan Islam dan berakhir dengan terbentuk Parta Baas Arab

Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Atas Hafid Al Assad masuk Kuliah Penerbangan di Hamash pada tahun 1951, itu merupakan langkah pertama ia menuju kursi kekuasaan, ketika menyelesaikan kuliah penerbangan  pada tahun 1955  ia berpangkat Kapten, dan ini merupakan tahap konfigurasi  mendirikan Republik Arab Serikat, ia memanfaatkan masa yang cukup lama untuk memimikirkan strategi pembinaan jalan bagi Al Assad ke depan.Tidak ada seorang pun yang mampu memungkiri kecerdasan dan kelicikan, ia mampu mengwujudkan ambisi diktatornya  dengan tampilan legas, nationalis dan revolusional.

Assad sudah paham  sejak bergabung dalam sayap militer pentingnya strategi dalam  bermain di pentas politik, maksudnya pentingnya kekuatan militer untuk mengwujudkan kemenangan dan stabilitas politik dalam pemerintahan, dan itulah yang dilakukan oleh Hafidh selama ia memegang kekuasaan dan mengwariskannya kepada anaknya Basya Al Assad. Atau dapat disimpulkan bahwa strategi tersebut sudah dimulai sejak pertama sekali membuat perencanaan ketika membentuk Sayap  Militer untuk pertai Baast pada tahun 1957 yang kemudian dikenal dengan segi tiga Alawy. Muhammad Imran, Salah Jadid dan Hafidh Al Assad berperang penting pada saat memisahkan diri dari Mesir pada tahun 1961. Dan pertualangan demi pertualangan terus berlanjut hingga saat ini, tidak penting berapa korban telah jatuh dalam pertualangan tersebut, yang penting tetap bertahan dalam istana Damaskus.

Diterjemahkan oleh Abu Farnas.