bela palestina yerussalem punya islam

Bila  Yerusalem  di Tangan Non-Muslim

 

Yerussalem dalam bahasa Ibrani atau sebutan dalam bahasa Arab Al-Quds  dan ia punya nama lain Baitul Maqdis memiliki sejarah panjang yang menyedihkan jika berada di tangan non-muslim.  Fakta sejarah membuktikan bila Al-Quds bukan di tangan non-muslim akan menuai bencana sepanjang sejarah. kebalikannya jika  di bawah naungan Islam dan muslimin Al-Quds menjadi rahmat bagi tiga agama. Islam telah membuktikan bahwa aman, damai, akan diperoleh oleh tiga penganut agama samawi  yang hidup di Baitul Maqdis.

Ketika tentara Salibi menguasai  Yerussalem pertemuan petama  yang dilakukan adalah membentuk  Dewan Musyawarah Militer untuk  membunuh semua Muslim yang masih hidup di kota tersebut. Pelaksanaan keputusan tersebut sebagaimana dicatat oleh para sejarawan Nasrani;   dalam satu minggu  darah memenuhi lorong-larong masjid hingga setinggi lutut.

Sejarawan Nasrani lain mencatat; tidak luput dari mata pedang tentara Salib,  laki-laki, perempuan, orang  tua, anak-anak yang berlindung di masjid Umar. Tentara Salib mengejar mereka dengan kuda, jalan kaki dan membantai semua yang ada dalam masjid dengan brutal.

Awal Mula Petaka di Yerussalem

Paus Urban II  menyampaikan pidato yang menarik di kota Monte Prancis pada tanggal 27 November 1095, pidato tesebut tidaklah berisi nasehat atau ajakan untuk kebaikan, tapi menanam kebencian, permusuhan dan tamak dalam jiwa orang-orang Eropa.  Panggilan untuk menjarah dan menguasai negeri-negeri lain  dengan dalih mengambil alih Yerussalem dari tangan umat Islam, dan mengiming-iming kemegahan hidup bagi para serdadu yang terlibat dalam perang salib, serta  pengampunan dosa kalau mati di medan perang.

Inilah pidato yang memicu pecah perang Salib dan menjadi noda hitam  dalam sejarah. Ajakan itu disambut oleh semua masyarakat Eropa yang terpengaruh dengan semagat  untuk menjaga agama,   dan Peter the Hermit adalah salah satu pendakwah yang sangat terkemuka. Mereka yang memenuhi provokasi terdiri dari masyarakat petani, para bandit dan pencuri yang terkesima dengan kefasihan  lidah dan rayuan Peter the Hermit.

Pengerakan massal ini menimbulkan kekacauan, karena selama perjalanan mereka melakukan perampokan, pembunuhan dan pemerkosaan terhadapa para biarawati hingga mereka sampai di Gerbang Kostantinopel. Imperatur Bizantium mempercepat mengantar mereka lewat  Selat Bosphorus ke Asia Kecil untuk melepaskan diri dari petaka tentara Salib, lalu disambut oleh kabilah-kabilah Bani Saljuk  dan membantai habis  para gerombolan begundal itu.

Setelah kegalalan dahsyat dalam pergerakan massal, datanglah pegerakan Tentara Salib yang lebih teroganisir  dan pimpin  oleh para satria, pangeran dilengkapi dengan perlengkapan logistik dan persenjataan lengkap.   Paus Urban pun  memutuskan 15 Augustus 1096 tanggal keberangkatan  dan memilih Konstantinopel sebagai tempat  berkumpul semua Tentara Salib

 

Ekspedisi tentara salib pertama terbagi dalam empat kelompok;  kelompok pertama dibawah komando  Godfrey of Bouillon,   kelompok kedua dibawah komando  Bohemond Prince of Taranto, kelompok ketiga dibawah komando  Raymond,  dan kelompok keempat di bawah komando Robert I, Duke of Normandy

Ketika sampa di Kostantinopel,  Imperatur meminta  mereka untuk bersumpah setia kepadanya. Dan mereka berjanji untuk mengebalikan semua tanah Konstantin yang telah diambil alih oleh umat Islam,  dan Imperatur berjanji untuk membantu mereka dalam mencapai tujuan.

Setelah dua minggu  Tentara Salib berada di Konstatinopel dibawah pengawasan Imperature, mereka diberangkatkan ke Asia Kecil. Di bawah kepemimipinan Peter the Hermit tentara terkumpul hingga satu juta orang,   kemudian bergerak ke kota Nicaea yang berpayung di bawah Amir Saljuk  Kilij Arslan.  Tentara Salib  mengepung selama dua puluh hari dan pada akhirnya  berhasil menaklukan tanggal 26 juni 1097.  Ini  adalah kemengan pertama Tentara Salib sehingg Eropa diliputi rasa bahagia dan memotivasi lebih banyak lagi tentera yang ikut dalam perang, menimbulkan rasa percaya diri  dan semangat untuk menguasai semua negeri di Timur.  Mereka berhasil menguasai satu persatu kota di Asia Kecil, kemudian bergerak terus mengusai Syam dan berhasil menaklukan  Syam pada bulan Maret 1098. Kemudian melanjutkan misi ke Antakya dan mengepungnya hingga 9 bulan, akhirnya berhasil merebut  Antakya  pada bulan Mai 1098.

Di Gerbang Kota Yerussalem

Tentara Salib bertolak ke Yerussalem setelah 10 bulan tinggal di utara negeri Syam dan berhasil menguasai semua kota dan desa.  Dalam perjalanan ke Yerussalem  sebagian pemimpin Islam tunduk kepada Tentara Salib, bahkan mereka memberi bantuan kepada Tentara Salib hingga Tentara Salib sampai di pinggiran kota Yerussalem   7 juni 1099.

Penguasa Yerussalem  saat itu memutus untuk melakukan perlawanan,  melempar racun ke dalam sumber-sumber air, memutuskan suplai air, mengusir semua orang Nasrani dari kota karena kawatir akan terjadi pengkhianatan saat terjadi serangan dari Tentera Salib, dan tetap memperlakukannya dengan baik, serta siaga penuh dalam kota.

Dengan kekuatan empat puluh ribu personil Tentera Salib mengepung Yerussalem  selama lima hari,  sebelum penyerangan melaluai benteng  kota. Tentara Salib sangat bersemangat dan rindu untuk menaklukan Yerussalem   dan serangan itu terjadi  pada tanggal 20 juni 1099. Beberapa bagian dari benteng  kota hancur,  tapi  pasukan muslimin berhasil memperthankan dari serangan  Tentera Salib, dan membuat semangat Tentera Salib tergerus.  Mereka mundur beberapa jam setelah melakukan serangan.

Kali ini jera karena kehausan dan logistik yang menipis, sebenarnya Tentara Islam bisa melakukan serangan untuk memusnahkan Tentara Salib, tapi tidak  dilakukan karena Tentara Salib memang tidak mampu lagi berperang . Kemudian Tentara Salib mendapat bantuan dari kapal perang  yang masuk melalui Yafa dan menguasainya, menambah logistik  dan peralatan perang yang dibutuhkan, termasuk alat untuk  pengepungan dan penghancur benteng. Bantuan tersebut telah membangkitkan kembali semangat juang  Tentara Salib dan nafsu untuk menang.

 

Akhirnya Tentara Salib menemukan titik terlemah di banteng antara bukit Zion dan bagian timur dari benteng Selatan. Pada tanggal 13 juli 1099 Tentara Salib melakukan serangan dahsyat,  namun dapat dipertahankan oleh pejuang Islam, dan terpaksa Tentara Salib menarik diri setelah satu hari pertempuran sengit berlangsung.

Tetapi kekalahan  tersebut tidak mematahkan semangat Tentera Salib untuk menguasai Yerussalem walau dengan harga apapun juga. Pada hari jumat subuh  15 juli 1099, pertempuran kembali meletus  dan pelan-pelan mereka berhasi  menguasai Yerussalem  setelah melakukan serangan dahsyat dan kepungan selama empat puluh hari.

Kejahatan Tentara Salib di Yerussalem

Setelah Tentara Salib berhasil  memasuki kota Yerussalem semangat haus darah bangkit untuk membantai orang-orang tidak berdosa. Mereka membunuh semua yang ditemukan di jalanan,laki-laki, perempuan, anak-anak, orang tua dan tidak satu rumah yang selamat dari kebrutalan Tentara Salib dan terus berlangsung selama mereka memasuki kota.

Pagi hari berikutnya Tentara Salib menyembelih semua umat Islam yang berlindung di Masjidil Aqsa.  Tidak ada satu perjanjian pun yang mereka tepati dan menyembeli empat puluh ribu jiwa, diantara mereka termasuk rakyat biasa, para ulama , orang-orang zuhud yang lari dari kampung dan berlindung di Masjidil Aqsa.

Diakui oleh para sejarawah Perang Salib akan kebrutalan prilaku babar Tentara Salib, salah seoarang sejarawan Perang Salib Raymond of Aguilers membenarkan pembantaian tersebut; saat ia ingin mengunjungi tempat peribadatan esok hari setelah pembantaian, sangat sulit untuk melintasi mayat-mayat bergelimpangan, darah pembantaian setinggi lututnya.

Dan mereka menyurati Paus mengabarkan apa yang sudah mereka lakukan tanpa ada rasa menyesal atau berseberangan dengan ajaran agama,  dan bangga dengan apa yang telah mereka lakukan.

Tentara salib memilih Godfrey of Bouillon  sebagai penguasa pertama kota Yerussalem, dan ia mengundang lebih banyak lagi Tentara Salib dari Eropa  serta mendirikan keuskupan Roma dan mewarnai negeri dengan nuansa katolik .  Kota Yerussalem berada di bawah kekuasaan Kaum Salibi hingga Shalahuddin Al Aiyubi membebaskannya pada 29 Oktober 1187.  Cara ia memasuki kota berbeda sekali dari Tentera Salib yang haus darah dan brutal.  Hari ini Yahudi sedang menunjukan kebrutalannya terhadap umat Islam dan akan lebih buruk bila Yerussalem menjadi ibu kota Israel dengan dukungan Amerika.  Semoga Yerussalem kembali lagi ke pangkuan Muslim.

Oleh; Abu Farnas.