hukum peringata maulid

Pro-kontra Mauld Nabi dan Perubahan dalam Masyarakat

Pro-kontra selalu hangat dalam masyarakat, terlepas dari efektifitas  dan falsafah pelaksanaanya. Apalagi setelah kerajaan Saudi menetapkan tanggal 30 november 2017 sebagai hari libur nasional peringataan hari kelahiran Nabi Muhammad saw. bertepatan dengan  12 Rabi’ul Awwal 1439 H.  Kerajaan Saudi menyatakan bahwa bisa atau boleh menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi saw.  Barangkali itu keputusan pertama sejak tegaknya dinasty Ibnu Su’ud.

Berkaitan boleh-tidaknya, atau termasuk perbuatan dilarang atau diperintah dalam agama mengenai perayaan Maulid Nabi memilik akar panjang dalam pandangan para ulama. Ada yang mengkatagori sebagai bidaah yang dilarang dan wajib dijauhi, ada juga yang berpendatang bidaah hasanah, atau amal mustahabbah.  Berikut pendapat para ulama mengenai perayaan maulid nabi, pertama dari kelompok yang beranggapan sebagai perbuatan yang baik atau minimal boleh dilaksanakan.

 

Sadrudin Mauhub bin Umar Al Jazary Assyafii  559 – 665 H

Ini bid’ah yang bagus,  tidak membenci bida’ah  kecuali yang  memusuhi sunnah, manusia memdapatkan pahala berdasarkan niatnya.  

Al Imam Muhammad bin Abi Ishaq bin Ibadunnafazi733- –  805

Ditanya tentang peringantan Maulid Nabi Muhammad saw dengan menyalakan lilin dan sejenisnya karena senang dan bahagia dengan kelahhiran Nabi Muhammd saw.

Beliau menjawab; bagi yang merayakan hari-hari besari besar Islam, masa-masa tertentu dan segala yang mendatangkan bahagia dan senang karena peringantan maulid seperti menyalakan lilin dan hal-hal yang enak untuk dilihat dan didengar, berpakaian dengan baju-baju yang bagus, mengenderai kenderaan yang bagus  adalah hal yang mubah sebagaimana tidak dipungkiri pula dikiaskan pada waktu-waktu lain yang menyenangkan.  Hukum terhadap hal-hal tersebut tidak termasuk dalam bidah yang pada saat itu ada rasa bahagia, dan bertambah ilmu, dan karenanya  tersingkap tirai kekafiran.

Syekh Sirajuddin Bulqaini  724 ـ – 805 H

Sultan menyelenggarakan peringatan maulid nabi yang mulia pada hari kelima belas, Syekh Sirajudin dan Tafahani, dan duduklah para pemimpin sebelah kanan dan para ulama lain sebelah kiri. Pada saat itu Sultan sedang berpuasa ketika datang waktu maqrib mereka shalat dan berbuka puasa.

Para ulama abad ketujuh dan kedepalapn dari empat mazhab, para sultan dan raja pada saat itu mereka mengadakan peringat maulid nabi  dan bersama mereka para tokoh ulama dari mazhab empat. Berkatalah Al Maqrizi dalam kitabnya  “Al Mawaiz wal Iktibar”  “pada malam jumat pertama pada bulan rabiul awal tiap tahun ditegakan tenda besar untuk memperingati maulid nabi, duduklah Sultan di sisi kanan Syaikh Islam Sirajuddin Umar bin ruslan bin Bulqaini, dan ulama-ulama lain mendengar bacaan Quran dan setelah selesai pembacaan  Quran,  naik para pelantun nasyid hingga tiba waktu magrib, setelah selesai shalat  mereka menghadiri suguhan makanan besar dan membawa pulang halawa dari gula.

Ibnu Hajar Al Askalani – 808 725

Sesungguhnya mengadakan kenduri dengan menghidangkan makanan adalah perbuatan yang disukai (مستحب) setiap saat, apatah lagi bila itu dijadikan bagian dari kebahagian dengan lahirnya nabi Muhammad saw.  dalam bulan yang mulia ini, tidak patut dianggap sebagai bidaah yang makruh, bukankah banyak bidaah yang mustahabbah bahkan hampir-hampir jadi wajib.

Juga masih menurut  Ibnu Hajar Al Askalani

Aslinya peringatan maulid adalah bidaah, tidak dilaksanakan oleh para salafusshaleh dalam tiga abad pertama, akan tertapi masuk dalam perkara  kebaikan-kebaikan dan lawanya (محاسن وضدها) barang siapa yang amal kebaikan dan menjauhi lawannya adalah bidaah hasanah.

Imam As Sayuthi

Beliau menukil dari Hafidh Al Qasthulani;  berkata Ibnu Al Jazury “ Kalau Abu Lahab telah kafir karena meninggalkan Quran dengan kehendaknya, selamat dari neraka karena senang dengan maulid nabi saw. apalagi muslim yang bertauhid dari umatnya saw. yang senang dengan lahir nabi Muhammad saw. ia berusaha semampunya untuk sampai pada cinta Nabi. Sesunngguhnya pahalanya dari Allah yang  maha mulia untuk memasukannya ke dalam syurga penuh nikmat.

Kemudian Pendapat  para ulama yang berkayakinan bahwa perayaan maulid adalah  perbuatan bidaah.

Pendapat  Imam Syafii, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hambil; mereka tidak pernah berkata apa-apa tentang perayaan maulid nabi saw. Mereka hidup di zaman penuh keutamaan, belum ada perbuatan bidaah. Timbulnya bidaah setelah abad ketiga, tetapi ada para ulama baik salaf maupun khalaf yang menolak bidaah dan fitnah, mereka yang berpegang teguh pada quran dan sunnah.

Syaikh Ibnu Taimiyah

para salaf belum pernah melaksanakannya sementara mereka mampun dan tidak tidak ada halangan untuk melaksanakannya, kalau ada kebaikan di dalamnya tentu para salaf lebih utama melaksanakan dan lebih patut  merayakan dibanding kita.  Dan mereka selalu dalam kebaikan dan mepertahankannya, dan mereka lebih sempurna dalam mengikuti beliau, lebih mencintai Nabi Muhammad saw. dan taat kepadanya, mengikuti semua perintah, menghidupkan sunnahnya lahir dan batin, menyebarkan risalahnya , berjihad dengan hati, lisan dan tangan.

 

Imam Tajuddin Umar bin Salim yang masyhur dnegan  Al Fakahani

saya tidak tahu asal-usul perayaan maulid dalam kitab dan sunnah dan tidak dinukilkan oleh salah seorang ulama umat yang mereka itu contoh dalam beragama, dan berpegang teguh pada asar para pendahulu, perayaan itu adalah bidaah.

Syaikh Abdul Aziz bin Basz;

tidak boleh merayakan maulid nabi saw dan sejenisnya,  karena itu termasuk bidaah muhdasah dalam agama, karena Rasul tidak pernah melakukannya, tidak pula khulafa Arrasyidin juga tidak para sahabat lain, tidak pula para tabiin yang mereka hidup di zaman penuh keutamaan, mareka lebih paham sunnah, dan benar-benar cinta kepada Nabi Muhammad saw. dan senantiasa mengikuti syariahnya dibanding orang-orang setelah mereka .

Terlepas dari pro-konta soal hukum pelaksanaan, namun dalam masyarakat Islam perayaan maulid telah menjadi tradisi yang mengakar, penolakan terhadap pelaksanaan diaggap sebuah perbuat melawan agama. Kabar-kabar palsu berkaitan dengan keutamaan melaksanakan perayaan maulid tersebar luas dalam masyarakat. Sehingga ada anggota masyarakat yang kurang mampu memaksakan diri untuk kenduri peringatan maulid dengan satu keyakinan; akan mendapat pahala besar dan bisa bersama nabi dalam syurga.

Inti dari peringatan maulid itu sendiri pun kian tergerus, pasa hari-hari pelaksanaan tega meninggalkan shalat, atau mengakhirkannya, bahkan sangat bersemangat melaksanakan perayaan namun setelah bertahun-tahun melakukan kenduri maulid tidak mampu mendekatkannya dahinya dengan tikar sajadah untuk sujud sementara Nabi Muhammad saw. menjadikan shalat sebagai hiasan hidupnya. Demikian juga dalam skala sosial lebih besar, setelah peringatan maulid yang masa pelaksanaannya sampai tiga bulan tidak menambah satu shaf pun jamaah shalat wajib di masjid-masjid.  Sehingga peringatan maulid hanya jadi sebuah ritual hampa tanpa misi. Niat para pendahulu mengadakan peringatan tersebut agar umat lebih dekat kepada Nabi Muhammad saw.

 

Oleh;  Abu Farnas