Reli 212 dan Reformasi Indonesia

Reli 212 dan Reformasi  Indonesia

Ulang tahun 212 nampak mulai menggelisahkan para politisi yang sedang berada di puncak kekuasaan di Indonesia. Hal yang sama juga disampaikan oleh orang nomor satu di kepolisian Indonesia.  Reli tahun lalu walau tidak membawa perubahan dramatis setelah tujuh juta umat berkumpul satu di ibu kota, tapi paling tidak telah menjegal Ahok untuk menempati kursi gubernur DKI.  Yang diyakini berbahaya bagi kelangsungan peradaban Islam di ibu kota, serta terbuka keran besar-besar untuk negari asing menjarah Indonesia.

Ulang tahun perdana 212 dikawatirkan berpengaruh pada pemegang tongkat kekuasaan RI berikutnya. Rezim yang sedang berkuasa dirasakan minim pemihakan kepada umat Islam sebagai pemegang suara terbanyak di Indonesia, bahkan terasa kriminilisasi umat dalam banyak kasus hukum, sehingga gairah umat Islam  untuk berkumpul di Jakarta mudah terpancing walau harus mengorbankan dana pribada dan waktu.  Wajar saja fenomewa itu terjadi  seperti bola yang ditekan dalam air, semakin keras menekan semakin kuat melambung ke atas.

Apakah reli ultah 212 akan memiliki efek bola salju ke depan, atau hanyak sebuah kerinduan untuk saling jumpa dan sapa. Itu semua tergantung pada penyusunan agenda selanjutnya dan memelihara semangat kebersamaan.  Tidak ada salahnya untuk menelaah peristiwa reli-reli besar sepanjang sejarah dan efek yang merambat dunia politik, sosial dan  negara.

Reformasi Protestan

Reformasi Protestan dimulai dengan protes tunggal yang paling tenang dan paling teratur dimulai dengan memaku di depan pintu gereja Jerman sebuah risalah tentang penyalahgunaan Katolik oleh Martin Luther, pada tahun 1517. Namun  gerakan yang diikuti banyak orang akhirnya terjadi tumpah darah dan linangan air mata, tapi protestan punya kekuatan tersendiri yang terpisah dari Katolik.

Badai di Bastille

Peritiwa bersejarah  ini  terjadi pada tanggal 14 Juli 1789, gerakan melambangkan Revolusi Prancis secara keseluruhan  dan merupakan katalisator utama pemberontakan selama 10 tahun melawan kekuasaan. Pada hari itu, sekelompok orang Paris turun ke Bastille (simbol otoritas kerajaan dan kemegahan Prancis), memenggal kepala  gubernurnya dan mengambil alih penjara.

Long Mars  Garam Gandhi

Protes  terhadap pajak Inggris  yang membebani rakyat India,  memotivasi Mahatma Gandhi melakukan jalan kaki  selama  23 hari, menempuh jarak 240  mil ke pantai India untuk mengumpulkan garamnya sendiri, merupakan tindakan  ilegal menurut undang-undang kerajaan Inggris. Lebih dari 60.000 orang terlibat dalam long mars itu termasuk Gandhi sendiri dipenjara karena berpartisipasi dalam demo garam ala Gandhi, namun pada akhirnya mengubah arus simpati dunia terhadap kepentingan India, bukan arogansi Inggris di tanah India.

Pesta Teh Boston

Terlepas dari nama yang terdengar aneh, “pesta minum teh” tahun 1773 sebenarnya adalah reaksi yang pahit terhadap tindakan perpajakan Inggris yang keras. Selama tiga jam pada 16 Desember, lebih dari 100 warga diam-diam menaiki tiga kapal Inggris yang tiba di pelabuhan dan membuang 45 ton teh ke dalam air. Protes moderat  itu  merupakan pendahulu utama Revolusi Amerika.

Hari Protes Nasional Afrika Selatan

Partai  ANC Nelson Mandela mengorganisir demo anti-apartheid ini pada tahun 1950, sebagai pembalasan atas sebuah undang-undang baru yang secara efektif memungkinkan pemerintah untuk menyelidiki setiap partai politik atau organisasi. Pada tanggal 26 Juni, ratusan ribu orang Afrika Selatan berpartisipasi dalam “Stay at Home,/tinggal di rumah” sebuah taktik yang digunakan beberapa kali dalam dekade berikutnya. 26 Juni dirayakan sebagai Hari Kebebasan Nasional di Afrika Selatan sampai tahun 1994

Mars di Washington

Pidato bersejarah “Saya Memiliki Mimpi” Martin Luther King disampaikan pada reli bulan Agustus 1963 ini untuk mempromosikan persamaan ras di Amerika Serikat. Lebih dari 200.000 demonstran berkumpul dengan damai di Lincoln Memorial di D.C., dan acara tersebut berhasil menekan Presiden John F. Kennedy untuk menyusun undang-undang hak-hak sipil yang kuat.

Lapangan Tiananmen

Sedikitnya 1 juta orang, kebanyakan mahasiswa yang menghendaki reformasi demokratis, secara damai menduduki Lapangan Tiananmen Beijing selama tujuh minggu. Lalu militer Cina secara tak terduga melindas demontran dengan tank untuk membersihkan mereka. Angka tidak tepat, namun diperkirakan setidaknya beberapa ratus demonstran tewas di kota tersebut,  Cina pun menuwai kritik keras dari masyarakat internasional.

Protes Tembok Berlin

Tembok beton  yang telah memisahkan Berlin Timur dan Barat selama 28 tahun, luluh-lantak   setelah dua bulan demonstrasi massa terjadi di seluruh Jerman. Tekanan untuk menurunkan tembok telah bergulir sejak tahun 1989, dan demonstrasi tersebut merupakan saat-saat sangat bersejarah berakhirnya pemerintah Jerman Timur, yang akhirnya membuka gerbang pada 9 November.

Protes Perang Irak

Jutaan orang di kota-kota seluruh dunia berkumpul untuk melakukan demonstrasi anti-perang pada bulan-bulan menjelang invasi ke Irak, berlanjut hingga bulan Maret 2003. Kerumunan terbesar terjadi di London bersamaan dengan demonstrasi global yang diselenggarakan 15 Februari.  Setidaknya 1 juta orang berkumpul yang diyakini sebagai demonstrasi politik terbesar yang pernah ada dalam sejarah Inggris.

Revolusi Oranye

Pada penghujung 2004, ratusan ribu orang membanjiri alun-alun utama Kiev untuk memprotes hasil pemilihan presiden Ukraina. Demonstrasi berlanjut selama 12 hari walau dalam guyuran hujan es dan salju sampai sebuah pembatalan terjadi, hingga kandidat  dari pihak oposisi menempati kantor berwarna oranye.

Dan tentu banyak lagi reli, demo, long mar lain sepanjang sejarah yang menjadi pemicu utama terjadi sebuah perubahan signifikan dalam sebuah kekuasaan, kebijkasanaan, kondisi sosial-politik sebuah negara dan bangsa.

Tentu saja reli 212 yang penuh semangat diperingati hari jadinya sedang dinanti oleh banyak pihak rambatan efek di bumi Nusantara. Namun beberapa hal telah dirasakan oleh masyarakat muslim selama satu tahun setelah 212 digalang; kesadaran membangun ekonomi keumatan, pentingya persatuan umat dan kesadaran peran politik dalam berbangsa.

 

Oleh; Teuku Azhar Ibrahim