personal doc

Islamic Cruise Banda Aceh; Secangkir Kopi Pahit

Kopi Pahit bisa dilihat dari dua perspektif berbeda; bisa jadi sesuatu yang nikmat bagi yang sudah terbiasa, atau sebuah keterpaksaan karena gula telah habis. Kalau ditanya apakah enak tidaknya secangkir kopi pahit, tergantung siapa yang menjawab. Hari ini tanggal 27 November 2017, telah merapat di Sabang  sebuah kapal Persiar Costa Victoria, termasuk satu dari dua kapal pesiar terbesar di dunia menurut  Encik Suhaimi selaku orang nomor satu dalah rihlah rohani mewah itu. 980 dari total 2200 penumpang menyeberang ke Banda Aceh dengan menggunakan tiga buah kapal  angkut cepat.

Untuk menciptakan Islamic Cruise padat nilai religius, ikut pula Dai kaliber Internasional  Al Ustaz Yusuf Estes walau tidak lewat jalur laut, dan  group pelantun nasyid Islami Raihan asal Malaysia yang populeritas mereka telah tercatat seantero dunia Muslim, juga beberapa ulama lain dari Malaysia. Intinya, kunjungan Costa Victoria berat dalam timbangan sejarah wisata Aceh dan akan berefek domino kemajuan dunia wisata Islami Aceh ke depan.

Tentunya semua stakeholder terkait dalam penyambutan telah melakukan persiapan terbaik demi kesuksesan peristiwa historik itu. Pihak dinas pariwasata melakukan koordinasi dengan semua elemen pendukung baik dari kalangan pemerintahan maupun swasta.  Jalur-jalur menuju lokasi kunjungan telah dirancang dan diamankan dengan baik.  Penyediaan  armada angkut dalam jumlah besar, tentu sebuah kerja keras di kota kecil dengan segala keterbatasan.

Jika hendak menarik kesimpulan adakah penyambutan  kunjungan tersebut sukses atau gagal, jawabnya bila ada kapal pesiar yang lain atau Costa Victoria masuk lagi dengan tujuan yang sama, maka baru bisa dikatakan sukses, itu sebuah efek domino. Namun bila dilihat dari jalan saat  pelayanan kedatangan tamu, kesimpulannya seperti secangkir kopi pahit. Dari segi safety dan security boleh dikatakan sukses karena tidak ada penumpang yang tertinggal atau menginap di rumah sakit, walau ada sebagian dari mereka sudah berumur lanjut. Kecuali sebuah insiden kecil saat salah seorang tamu masuk masjid terperosok dalam lubang yang biasa digunakan untuk mengalir air cuci kaki di tangga masjid.  Kata sang tamu, “kurang memperhatikan soal safety.”  Kalau mau dijawab “itu memang design sudah sedia kala seperti itu, dan kami sudah terbiasa.”  Itu jawaban mengenai cita rasa secangkir kopi pahit.

Saat penumpang masuk dalam bus, dan sebagian menutup hidup dengan ujung jilbab, “ustaz tolong cakap jangan merokok, kami tak tahan.”  Dalam bus memang tidak ada yang merokok saat tamu naik, kecuali di depan pintu, dan bus itu memang sudah bau rokok, bagi bukan perokot terasa tersengat di kepala.  Soal rokok itu pun seperti segelas kopi pahit.  Dan seorang tamu dari Mesir bertanya “ di sini  semua muslim dan negeri syariat kenapa ramai sekali orang merokok?” saya tidak tahu apakah ini juga  dalam katagori secangkir kopi pahit. Jawaban yang bisa diberikan saat itu;  fatwa di Al Azhar dan Saudia mungkin juga negara-negara mayoritas muslim lain, merokok haram, di sini makruh, dalam hati ada tambahan “kami memang beda.”  Perbedaan itu boleh jadi masuk dalam rasa kopi pahit.

Selama tamu di lokasi mulai dari saat pertama bertatap mungkin hingga salam perpisahan, para pemandu wisata jadi ujung tombak, pion yang senantiasa berhadapan dengan pahit manis secangkir kopi. Tamu senang, mereka tampakan sama pemandu, mereka tak heppi pun mereka luahkan di hadapan pemandu, dan itu tergandung budaya tamu, syukurlah tamunya orang Melayu yang santun, baik hati, lembut dan kedepankan perasaan, whatever the story we are loving you, bahasa romantisnya seperti itu lebih kurang.

Dalam bus tidak ada pengeras suara, dan pemandu terus harus bersuara keras. Tamu merasa tidak nyaman karena kasian sama pemandu, pemandu lebih kasian lagi sebab kerongkongan mengering, keringat mengucur, mata membelalak, dada kembang-kempis. Dalam rapat koordinasi terakhir coba konfirmasi kepada pengusaha armada angkut  lewat percakapan telepon.  Dari seberangsana menjawa “karoke itu bisa dimodifikasi.” Tenanglah suasanan sejenak walau  di alam nyata lain cerita. Dalam perspektif agama itu namanya bohong “buat tak sama ucap” efeknya orang lain merasa mudharat, dan menurut pengakuan yang lebih pengalaman kasus itu bukan untuk pertama kali.

Jawaban  bisa dimodifikasi, diatur, diurus, difikir, dibuat, dibicarakan bisa dibulatkan dalam satu falsafat modern Aceh, terwakili dalam satu kalimat “sibak rukok teuk” artinya sesuatu yang tak terukur (unmeasurable) tak dapat diperhitungkan (unpredictable) dan keduanya perilaku buruk dalam dunia managemen, ditambah lagi tak adanya  check-cross check. maka sempurnalah secangkir kopi pahit buat yang biasa minum pakai gula aren.

Beberapa tahun lalu, proses edukasi untuk menyarakat dan stakeholder terkait agar Aceh menjadi  ramah destinasi wisata sempat berjalan dengan motto “pemulia jamee adat geutanyou.” Tapi sekarang sudah tak terdengar lagi, karena itu juga berkaitan dengan “man behind the gun”  bukan man behind sibak rukok teuk. Barangkali kalau menggunaka partner dari luar daerah untuk menjaga standar, mungkin partner dalam daerah akan mengawum keras. Dan wujud dalam pepatah lama “buya krueng teu deung-deung buya tamong meuraseuki.”  Pada hal untuk jadi seekor buaya pun ada Standar Operasinal yang harus dijalankan.  Tak paham pun, kalau buaya darat juga punya SOP.

Demikian juga soal penyajian makanan siap saji  di warung-warung makan, semua bebas berekpresi dengan cita rasa kopi masing-masing.  Soal kandungan penyedap buatan, standar proses  halalan taiban, lalat berterbangan, sampah menumpuk, toilet kotor, sanitasi macet, proses pencucian peralatan yang dipakai untuk memproses makanan semuanya tergantung selera tuan rumah.  Ini kopiku, kopimu suka-suka awaklah.  Kisahnya memang tentang secangkir kopi. Potensi wisata Aceh sangat menjanjikan, tinggal  cara menyajikan secangkir kopi nikmat untuk semua orang.

Oleh; Teuku Azhar Ibrahim