Riba di Pentas  Syariat

 

Sebuah pentas tidak terlalu urgen menyentuh sisi hakikat dari sebuah persoalan, semua usaha fokus pada bagaimana agar penampilan nampak menarik, meraih rasa kagum dan tepuk tangan para penonton, atau pemirsa menetes air mata saat menyaksikan penampilan yang merasuk sampai ke dalam jiwa, jika itu tercapai maka  pentas  sukseslah adanya.

Sebagai anggota masyarakat Aceh sangat bahagia dengan penampilan Aceh bersyariat, semua perangkat untuk menjadi sebuah negeri syariat sudah tersedia dan berjalan sesuai keinginan. Aceh punya WH yang selalu patroli, ada dinas syariat yang mengendalikan syariatnya sebuah negeri, ada pelaku miras, zina, judi,  pencuri yang dipecut di hadapan khalayak ramai, bank Aceh pun sudah total sebagai Bank Islam. Sempurna sudah, ramai orang di luar Aceh datang studi banding ke Aceh, barangkali mereka sudah puas dengan peralatan Syariat di Aceh.  Kalau pun ada kekurangan di bagian tertentu, ditermia sebagai sebuah kewajaran karena baru mulai, keberanian untuk memulai itu pun sudah jadi sebuah prestasi. Lagi-lagi masyarakat Aceh bangga karena sebagian dari para pengunjung menggulung keguman dalam satu kalimat “Aceh Memang Beda.”  Mungkin sama bangganya dengan Shakespeare saat penonton drama Romeo and Juliet  sambil menangis terisak berkata “Romeo is death” Romeo sudah mati. Artinya pentas itu sangat mengesankan karena berhasil membuat penonton terposana.

Mustahil pula bila berharap agar praktik syariah yang baru mulai itu sempurna, walau sudah amatlah lama Islam menginjak kaki di Bumi Serambi Makkah. Ada proses dan progress, barangkali progress  ini menyita kesabaran untuk menanti, hingga hari ini peran Pelaksana Syariat  beserta intrumenya belum menyentuh praktik riba di Aceh. Walau riba larangan dengan dalil Qath’i  dalam hukum Islam. Katakanlah melarang atau melawan peran bank konvensional sudah menjadi hal yang sulit untuk dilakukan, karena MUI sendiri tidak pernah mengeluarkan fatwa bahwa Bank Konvensional sebagai lembaga terlarang karena praktik ribawinya. Apa lagi ada ulama yang diam membisu karena suatu alasan syar’i pula, dan ada ulama yang mengatakan halal diantara ulama yang berpendapat haram, ujung-ujungnya akan lari ke hukum syubhat, atau maksimal makruh. Sebagian masyarakat cepat menarik kesimpulan “selama itu tidak haram, tidak ada masalah lanjut saja.” Lagi pula dalam kehidupan saat ini sulit sekali menghindari dari cengkraman riba konvensional. Ada dalil lain lagi lebih menguatkan “Allah tidak membebani hamba di luar batas kemampuannya.”

Pelaksana syariat di Aceh sudah melupakan persoalan konvensional, prestasi mereka menjadikan Bank Aceh menjadi bank syariah sebuah prestasi besar. Namun praktik riba lebih dahsyat tanpa ada khilaf tentang status hukumnya juga terlupakan begitu saja. Dalam istilah fiqih disebut dengan Riba Nasiah bahasa sederhana penambahan nilai dengan berjalannya waktu, praktik ril dalam masyarakat adalah rentenir. Lembaga keuangan ini seperti hantu namun hidup  leluasa di Aceh, iklan ditempel hampir  semua tiang listrik, tembok dan pagar  di kota-kota besar seperti Banda Aceh dan sekitarnya. Diantara bentuk “Iklan Butuh Uang Cepat Hubungi Kami no…”  dalam iklan juga menyebutkan jumlah persentasi yang harus dibayar.

Setiap kali mata beradu dengan ribuan iklan tempel itu, timbul pertanyaan dari benak hati paling dalam  “Kemana Pelaksana Syariah, Kemana Ulama, Kemana Aktifis dari kalangan tertentu yang sangat garang saat berhadapan dengan persoalan  khilaf yang remeh temeh, juga kemana WH,kemana para politisi dengan ide-ide keislamannya saat kampanye”  Tentu saja tidak perlu direspon karena yang bertanya pun hanya sebatas dalam hati saja, jangan pula dimasukan ke hati nanti akan lahir kebencian.

Brosur hantu pada tiang-tiang listrik bukan tidak ada hantu sungguhan yang bersembunyi di pojok-pojok pasar. Para rentenir memang tidak membuka kantor-kantor resmi sebagaimana lembaga-lembaga keuangan lain dengan penampilan gagah dan bergengsi, tapi mereka eksis dimana-mana. Ambil  contoh sebuah pasar besar di dekat ibu kota Aceh Negeri Syariah, pasar yang memiliki kemampuan putar miliyaran rupiah tiap bulannya, sebagian dari putaran ada para rentenir ikut bergulung. Mereka meminjamkan modal kepada Nyak-Nyak penjual sayuran, menurut satu sumber informasi terpercaya “Pinjaman lima ratus ribu, harus dibayar sembilan ratus ribu dalam jangka waktu terntentu.”  Para Nyak dan CutLem tidak banyak bisa berbuat selain pasrah pada tangan-tangan rentenir di pojok-pojok pasar yang kumuh.

Dunia memang selalu ada sisi hitam dan putih, bahkan warna-warna lain ikut meramaikan maka indahlah ia seperti pelangi. Berkaitan dengan gerakan melawan riba di pasar rakyat yang tak banyak disentuh pelaksana Syariat, ada beberapa orang kaya muda masuk pasar membawa sejumlah uang untuk modal para Nyak-Nyak, mereka meminjamkan tanpa mengambil laba, tujuan untuk melawan praktik riba di negeri syariat. Nama-nama mereka tidak tersohor seperti para pemain drama sinetron, tapi wujudnya dirasakan oleh masyarakat lemah di pasar besar, bak kata pujangga  native Amerika dalam kitab Syair Hiwatha “not to be known among the heroes” bukan untuk dikenang diantara para pahlawan.

Gerakan seperti ini dalam melawan riba semestinya cepat merambah ke seluruh pasar di negeri Syariah, namun fakta di lapangan perjuangan mereka amatlah sulitnya.  Bergerak dari satu pasar menuju pasar lain membutuhkan masa tahunan. Tidak secepat para politisi yang merambah kursi-kursi kekuasaan dalam waktu singkat dengan modal dalam genggam lewat pentas-pentas rakyat yang hingar bingar, bawa nama syariat pula.

Bermain di atas pentas memang lebih mudah dan cepat meraih untung, dibanding masuk pasar dan berperang melawan riba. Kembali pada kaidah dasar, pintu syurga harus diketuk dengan darah dan air mata, pintu neraka bisa sambil santai-santai saja. Melawan riba perlu kecerdasan dan kesediaan berkorban, sementara untuk menyuruh tutup pasar saat azan berkumandang cukup dengan surat edaran saja, untuk membawa para pedagang ke masjid saat azan masih harus menunggu para pejuang lain di balik layar pentas. Kembali lagi ke kisah Shakespear; Juliet matinya pura-pura, tapi Romeo mati sungguhan bunuh diri. Sebuah pentas memang menarik kapan saja.

Oleh, Teuku Azhar Ibrahim

Penulis;Alumnus Filsafat Univ. Al Azhar Cairo, guru pesantren dan pengarang novel.