Tukang Bangunan Jadi Pejabat Tinggi

Karena suratan tangan tidak sebagai pegawai negeri, maka saya tidak begitu dekat dengan kehidupan pejabat pemerintah. Namun satu hal tertanam dalam benak;  kalau sudah masuk dalam  lingkup sebutan  penjabat tinggi setara  kepala dinas, maka kesan bagi saya adalah sebuah kemewahan dengan fasilitas fantastik. Image itu terus hidup dalam fikiran saya.  Di kampung dan  sejumlah warung kopi terus menyuplai informasi ke otak saya, bahwa pejabat itu identik dengan kemakmuran berlimpah. Entah betul tidaknya, itu kesan pribadi saja.

Suatu ketika saya terlibat dalam sebuah kegiatan produksi filem dokumenter sebagai penulis skenario tentang  potret pendidikan di pedalaman. Filem dokumenter itu ide  seorang pejabat tinggi dalam menelusuri dan mengangkat persoalan pendidikan di pedalaman. Dalam rangkain kegiatan pembuatan filem, saya berkenalan dengan orang nomor satu di  Kementrian Agama Aceh yaitu Bapak Drs H. M. Daud Pakeh Kakanwil Kemenag Aceh.  Sebagai penulis skenario tentu harus melakukan survei ke lokasi-lokasi yang menjadi objek  yang akan didocumenterkan. Beberapa kali saya sempat melakukan perjalan bersama dengan Bapak Daud Pakeh ke pedalaman.

Saya perhatikan mobilitasnya bapak Daud Pakeh sangat tinggi, terus begerak dari satu tempat ke kawasan lain, termasuk menembus hutan untuk mencapai pemukiman di pedalaman. Mungkin karena saya melihat beliau bergerak terus image saya tentang pejabat tinggi masih seperti semulah, Cuma ada sedikit timbul tanda tanya” mengapa Pak Daud menyusahkan diri masuk ke pedalaman, selain melelahkan dan sangat tidak nyaman di tempat yang fasilitas hidup sangat terbatas. Kondisi di pedalaman untuk urusan belakang saja harus cari cangkul, atau syukur ada yang pasang terpal di tempat-tempat sedikit tersumbunyi,  tambah  lagi jijing ember berisi air hujan saat punya hajat ke belakang. Tidak nyaman sudah pasti, kenangan tak terlupakan.

Mungkin beliau punya kegemaran seperti itu,  kan tidak aneh kalau ada orang kaya yang suka bertualang/adventure. Tugas saya sebagai penulis skenario tidak melihat Pak Daud sebagai tokoh sentral dalam skenario, tentu saja saya lebih fokus pada tokoh-inspiratif di pedalaman, namun Pak Daud Pakeh sebagai penggerak untuk menemukan tokoh-tokoh pedalaman jadi rentetan kisah pasti akan bersambung antara satu dengan lainnya.

Untuk menyempurnakan rentetan cerita dalam skenario, saya datang ke rumah Pak Daud Pakeh. Sebelum tiba di lokasi, image dalam fikiran saya pasti sebuah rumah besar, mewah, strategis, sebuah lemari etalase penuh dengan souvenir mahal, furniture modern dengan koleksi klasik dan minimalis, sejumlah kenderaan beratur di garasi.

Ternyata itu sebuah imajinasi kosong, dan saya terkejut dengan realita jauh dari apa yang saya bayangkan.  Ternyata rumah Pak Daud Pakeh membunuh imajinasi saya tentang kemewahan pejabat pemerintah. Lokasinya tidak strategis karena harus melewati lorong terhitung sempit. Ada bagian depan dari rumahnya masih susunan bata telanjang tanpa plasteran, ruang tamu dilengkapi dengan beberapa kursi sederhana, entah tahun berapa dibuat, keramik/granit hanya di ruang tamu saja, ruang belakang masih ubin ditutup dengan karpet plastik istilah lebih halus dari terpal plastik, sebuah vespa lama parkir dalam ruang tamu, bukan di garasi. Tentu saja saya tidak bisa mengurai detil isi rumah, karen itu tidak sopan. Itu sudah cukup untuk membunuh image saya yang sudah berumur panjang tentang pejabat dan kehidupan luxury. Berdasarkan pengalaman kunjungan tersebut, saya berkeyakinan pasti ada juga para pejabat lain seperti Pak Daud yang   mungkin hingga di tingkat mentri, cuma saya belum jumpa langsung.

Duduklah kami bercerita panjang lebar tentang kehidupan seorang orang nomor satu di kemenag Aceh. Ternyata  Pak Daud Pakeh melalui jalan hidup penuh lubang dan mendaki, seorang anak pedalaman dari keluarga bersahaja, ayahnya seorang petani dan tukang bangunan dalam istilah original disebut “Utoh”, juga nelayan. Baru saya mengerti mengapa Pak Daud sangat konsern dengan potensi anak-anak di pedalaman, seperti sering beliau sampaikan dalam sambutannya “anak-anak di pedalaman adalah calon pemimpin bangsa di kemudian hari.”  Kehidupan masa kecilnya telah membuktikan bahwa anak pedalaman dengan segala keterbatasan berhasil menjadi orang nomor satu di Kemenag Aceh, yang dibutuhkan adalah kerja keras dan pantang menyerah.

Masa kecilnya seperti kebanyakan anak-anak Aceh pedalaman tahun enam puluhan, bila sudah lepas dari masa kanak-kanak maka mulai aktif membantu orang tua, tergantung profesi orang tuannya. Orang tua Daud Pakeh menekuni profesi beragam,  sebagai petani, berkebun, nelayan, pengembala dan bertukang.  Sesuai tradisi masa itu, semua bidang tersebut sempat dijalani oleh Daud Pakeh yang pada akhirnya menjadi guru kehidupan, pantang menyerah dalam menghadapi segala tantangan dan bekerja keras jadi kebiasaan (habit). Keberagaman profesi orang tuanya menjadikan Daud Pakeh pribadi yang fleksibel dalam berhadapan dengan lingkungan beragam, dan semua lapangan kerja yang dijalani orang tuannya di negeri ini tidak dihitung sebagai profesi mewah dan berkelas, tapi itu menyisakan pelajaran penting buat Daud Pakeh untuk hidup bersahaja. Lingkungan telah menyiapkan Daud Pakeh untuk menjadi seorang pejabat yang peduli dengan kehidupan orang-orang yang hidup di pinggiran jauh dari gegap gempita.

Adapun masa kecilnya yang membedakan dengan anak-anak lain seusia di kampung adalah semangat belajar. Semua jenjang pendidikan linear di Pendidikan Formal Agama binaan Departemen Agama RI. Mulai dari Ibditidaiyah , MTsAIN, sempat sekolah di PEGAS (Pendidikan Guru Agama Swasta), tapi kemudian kembali lagi ke PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri)  Sigli dan akhirnya menyelesai SI  Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Darussalam.

Karirnya sebagai abdi negara dimulai sebagai guru agama MAN Sigli dalam waktu bersamaan juga membina madrasah swasta dan balai-balai pengajian di Sigli dan sekitarnya. Lalu beranjak sebagai Kasi Kanwil Kementrian Agama Provinsi Aceh pada tahun 1997, meningkat menjadi  Kasubbag Kementrian Agama Banda Aceh pada tahun 1998, Kasubbag Kanwil Kemenag Banda Aceh tahun 2005, Kepala Kankemenag kota Sabang tahun 2008, Kabid Haji dan Umrah pada tahun 2009, Kepala Kankemenag Aceh Jaya pada tahun 2013, dan kini sebagai Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Aceh tahun 2015. Karirnya naik langkah per langkah pelan namun pasti,  berbagai kursi yang telah ditempatinya sama sekali tidak merubah profil asli Drs. H. M. Daud Pakeh yang bersahaja.

Banyak hal Pak Daud Pakeh kisahkan sambil duduk minum kopi di ruang tamu rumahnya yang jauh dari kemewahan. Namun yang paling menyita perhatian adalah soal rumah yang belum jadi itu beliau kerjakan sendiri. Kata beliau” saya bangun sendiri rumah ini mulai dari pondasi, cor lantai, tiang, ikat bata, plaster dan pemasangan atap.” Proses pembangunan rumah itu pun sudah berkalang tahun.  Dalam benak saya terbetik; bukankah untuk setingkat Kakanwil tinggal suruh saja uang yang bekerja untuk fasilitas hidup pribadinya.  Pada saat yang sama saya juga  mendengar banyak pejabat hanya bawa gaji saja ke rumah, tapi golongan ini tidak banyak. Mungkin itu membuat anak-anaknya taat beragama dan ahlul masajid. Hidup ini akan berkah bila fokus pada yang halal saja. Apa pun posisi yang sudah digeluti tidak merubah profil seorang Drs. H.M. Daud Pakeh yang bersahaja dan ulet dalam bekerja. Jadi tesis baru bagi saya untuk mengenal pejabat, hidup sebuah tesis dan anti tesis.

Oleh Teuku Azhar Ibrahim

Sumber;

  1. Dialog penulis dengan Drs. H.M. Daud Pakeh
  2. Memoir Raudhatul Munawwarah