Manusia Central Jagad Raya

 

Dalam konsep penyembahan Islam, Allah hanya menciptakan dua makluk yaitu jin dan manusia.  Tujuan penciptaan itu untuk melakukan penyembahan kepada Allah ( wamakhalaktu jina wal insa illa liyakbudu.) artinya manusia penting keberadaannya. Dan manusia telah melakukan satu komitmen di hadapan Allah untuk menjadi khalifah di jagad raya yang mendapatkan wewenang  mewakili Tuhan mengurus  jagad raya. Dan untuk tugas maha berat itu, Tuhan menganugerahkan ilmu atau kemampuan untuk mengelola ilmu, perasaan, dan harga diri sebagai  manusia dan kelebihan tersebut tidak diberikan kepada malakaikat.

Sungguh manusia punya tanggungjawab dan peran sangat penting, makanya memanusiakan manusia dalam segala segi kehidupan hal yang urgen. Secara naluri kemanusiaan, manusia marah bila dihardik dengan mengabsen penghuni kebun binatang, walau seekor keledai lebih tangguh dari manusia dalam menanggung dan membawa beban tapi manusia tetap tidak mau dikatakan sebagai atau mirip dengan “keledai.”

Namun dalam perlakuan sebagian dunia industri, praktek memperlakukan manusia secara tidak manusiawi berjalan dengan baik, bila berprestasi di beri wortel kalau menurun kenak cambuk (reward and punishment). Lebih buruk lagi pada saat (management industry) melihat manusia sama dengan mesin bahkan mesin berada satu level di atas manusia, permilasan kecil;  seorang supir terperosok dalam lubang yang sering digali di senjang jalan atau menabrak tiang-tiang yang dipanjang sembarangan, supir dipecat, kendaraan diperbaiki.

Padahal industry didirikan untuk memenuhi kebutuhan manusia atau lebih agung lagi; untuk menuju kesempurnaan manusia. Tapi disayangkan bila dilihat dengan pandangan lebih sempit, yaitu industry dijalankan untuk mencari laba dan menambah kekayaan para pemilik saham. Managemen melihat sumber daya manusia sama dengan asset perusahaan. pada hal pemberbedaan antara asset dengan SDM seperti langit dan bumi. Dalam diri manusia (karyawan) ada sisi lain selain sebagai mesin kerja atau alat cetak laba. Manusia punya memiliki indentitas kemanusiaan yang harus dijaga, perasaan, harga diri, pikiran,  kemampuan intelektual dan emosi. Bila dalam sebuah (management industry) manusia dipandang dari segi tenaga dalam melakukan tuga-tugas dan target yang harus dikejar, maka tenaga itu akan terkuras habis sebelum terpakai maksimal. Karena dalam masa yang sama perasaan kemanusiaannya juga ikut menguras energy jika perasaan kemanusiaanya tidak dihargai. Budaya dunia kerja kasar, tidak mengenal adap sopan santun, arongansi dan superioritas menguasai lingkungan kerja akan mengambil andil menguras tenaga seorang pekerja.

Juga demikian halnya bila kemampuan intelektual pekerja dibatasi dengan ketat, semua jalur-jalur kreatif ditutup rapat, peluang untuk berkembang dan maju dihalang (just do it like I said) akan membuat pekerja tidak betah dan gelisah. Naluri manusia bukan sekedar  bekerja untuk mendapatkan bayaran tapi juga untuk memenuhi kebutuhan ruhaninya. Kemanpuannya dalam menberi kontribusi lebih dengan ide-ide kreatif akan menambah semangat hidup dalam melakukan tugas. Jadi ada kekuatan lain yang berubah menjadi tenaga cadangan saat melakukan tugas dan tanggungjawabnya. Hingga sampai pada tingkat jiwanya menyatu dengan pekerjaan dan tugasnya. Kalau sudah sampai pada taraf seperti itu, jadilah ia manusia utuh dan jagad raya berpunca pada dirinya, memiliki kekuatan yang mampu berjalan sendiri dan mengubah. Dan Tuhan telah membebankan  manusia untuk terus berninovasi dan berkontribusi  melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di jagad raya. Oleh: Teuku Azhar Ibrahim