Demo 4/11 Jakarta di Mata Media Asing

 

News.com Australia menurunkan berita  dengan judul “Ketegangan Meningkat pada Protes di Jakarta.”  Ketegangan meningkat pada demontrasi besar-besaran di Jakarta karena puluhan ribu demontran melakukan long march menuju Istana Keprisidenan, jalan-jalan utama ditutup di Ibu Kota.

Tidak lama setelah Polisi berbicara langsung kepada demontran dengan menggunakan Loud Speaker agar tetap menjaga protes dengan damai, sekelompok anak muda mengibarkan bendera hijau dan hitam dari Organisasi Pelajar Islam dan mulai melempar petugas dengan botol air dan tongkat.

Polisi membalas dengan meletakan roda anti huru-hara dan membuat dinding pelindung.

Para demontran menuntut agar gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, yang biasa disebut Ahok karena komentarnya berkaitan dengan Quran.

Ribuan tentara ditempatkan di belakang pagar kawat duri di istana dan jalan-jalan sekitar Jakarta. Masjid Istiqlal terbesar telah ditutup.

Kelompok Muslim garis keras, Forum Pembela Islam (FPI)  telah mengajak masyarakat se-nusantara untuk turun ke jakarta  untuk sebuah  “hukum jihad “ , dan menegaskan Ahok harus dipenjarakan. Anggota-angotanya, seperti organisasi lain Himpunan Mahasiswa Indonesia, Kelompok Diskusi Quran –Az Zikra- ikut membuat seruan.

Meskipun para demontran diarahkan untuk menyerang Ahok, para demontran juga mengarahkan perhatian terhadap Presiden Joko Widodo yang menyerukan untuk damai dalam melaksanakan demo.

“President Joko Widodo tidak lagi pro-rakyat” Seorang berteriak lewat megaphone.

“4 November bukan satu-satunya hari untuk masyarakat Muslim berjuang”

“Saya siap ditembak. Siapa saja yang punya kehendak untuk menembak, silakan saja”

Sebagai seorang Kristen dari etnis Cina, omongan bla-blakan Ahok bukan lagi  target kelompok haluan keras.  Tapi bulan lalu ketika dia mengatakan satu ayat Al Quran digunakan untuk membohongi pemilih agar memilih Pemimpin Muslim pada pemilihan gubernur bulan Februari, ketegangan meningkat.

Hilman Fauzi,27 seorang Muslim taat dari Bogor di pinggiran Jakarta, dia mengatakan tidak ada masalah dengan Ahok hingga komentarnya bulan lalu bagaimana Quran digunakan untuk membohongi pemilih.

“meskipun saya bukan pemilih di Jakarta. Apa yang (Ahok) lakukan telah menyakiti kami. “  katanya kepada AAP.  “Ini menyangkut perkara agama” tukang bangunan yang berusia 25 tahun.

 

 

Theage Australia menulis;

Demo Jakarta: Ribuan Muslim Berkumpul Menuntut Penjarakan Gubernur Kristen

Jakarta; Ribuan warga Indonesia telah berkumpul di sekitar Jakarta  Masjid Istiqlal, masjid terbesar Asia Tenggara, menuntut ditahan gubernur cina kristen dalam satu demonstrasi massal yang rentan merubah menjadi  kekerasan.

Muslim garis keras menginginkan gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, yang dikenal secara meluas sebagai Ahok, untuk dipenjarakan karena tuduhan menghina Quran.

Sekitar  20,000 polisi dan tentara dikerahkan untuk mengamankan kawasan demo hari Jumat di pusat Jakarta di tengah kewatiran akan  dimanfaatkan oleh para ektremis untuk memicu kekerasan.

“Tangkap dan adili Ahok dan kroninya hidup atau mati”  sebuah tulisan yang tergantung di masjid.

 

CNN menurukan berita dengan tajuk;

Ribuan Berdemo di Jakarta terhadap Dugaan Hujatan Gubernur

Demontran  berjalan kaki di Jakarta  menuntut pemecatan gubernur Ibu Kota, yang dituduh menghujat Muslim

Gubernur  Basuki Tjahaja Purnama, lebih dikenal sebagai  Ahok, dituduh menghina Islam karena mengkritik  lawannya  yang menggunakan ayat Quran  dalam sebuah pembicaraan yang membingungkan.

Polisi memperkirakan 200.000 orang turun ke jalan-jalan, CNN Indonesia melaporkan.  Banyak slogan menghasut, seperti “Bunuh Ahok,” dan “Bunuh Ahok karena menghina Islam.”  Juga mebawa spanduk menuntuk hukuman mati, banyak yang berjalan menggunakan penutup wajah untuk menyembunyikan identitas.

Sebanyak 18.000 polisi dan tentara telah disebarkan untuk protes  hari jumat, dan  lingkaran dalam sekitar 100 tentara bersenjata menjaga di luar tempat tinggal Gubernur.  CNN  Indonesia mengatakan, Ada ketakutan  bahwa ISIS, dan al –Qaedah, lewat jarigan Jamaah Islamiyah Indonesia,bisa memicu kekerasan.  .

Sejak  1 November diskusi tentang demo di Wahid Institut, Sidney Jones, Direktur berbasis  Jakarta-institut  untuk Analisa Kebijaksanaa Konflik, mengkaji pengaruh para jihadis asing dalam demo.

Dia mengatakan  para jihadis bergerak di sosial media untuk meraup simpati kelompok-kelompok untuk mengipas api jihad di Indonesia, negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia.

Polisi telah mengajak para demontran untuk melaksana hak mereka untuk protes dan kebebasan berpendapat dengan cara damai. Masyarakat telah diingatkan untuk menghindari rute demo dan menghindari menyebarkan “ ketidakjelasan… provokatif dan informasi tidak benar.” Di sosial media, kepala Polisi  Tito Karnavian

Demo bertolak dari Masjid Istiglal di pusat Jakarta dan akan berakhir di istana Presiden. Pemerintah termasuk UK dan Australia, telah mendesak warganya untuk berhati-hati.

 

Tuduhan Hujatan

Kalangan Islam Konservatif  mengatakan Ahok, yang berketurunan Cina Kristen, semertinya tidak mengurus kota Mayoritas Muslim.  Mereka sebelumnya telah mengutip ayat dari kitab suci umat Islam di demo, yang memperingatkan terhadap Muslim yang bersekutu dengan non-Muslim.

Ahok adalah sekutu utama  Presiden  Joko Widodo dan dia sebagai wakil ketika Widodo – juga dikenal sebagai  Jokowi – gubernur Jakarta. Ahok sekarang sebagai kandidat gubernur dalam pemilihan gubernur   2017.

Presiden Indonesia Joko Widodo dan Ahok setelah bersumpah sebagai  gubernur pada 19  November 2014.

Jokowi telah menyerukan ketenangan  dan mencari dukungan dari mengajak untuk tenang dan mencari dukungan dari Prabowo Subianto,  sebagai lawannya dalam pemilihan presiden berikutnya.

Mantan president Susilo Bambang Yudhoyono, yang anaknya ikut bersaing melawan Ahok, berpidato dua hari lalu menyerukan gubernur melakukan  proses hukum  untuk menenangkan oposisi ber haluan Islam dan memadamkan protes.

Tindakan Tak Memadai

Ada pendapat mengatakan bahwa pemerintah Jokowi  tidak melakukan tindakan memadai untuk menghambat  kelompok garis keras Islam.

Ketika Vidio  pidato Ahok melecehkan ayat Quran tersebar secara online pada bulan Oktober, kemarahan meluas dari kalangan konservatif, kantung-kantung religius, tetapi pada saat itu, kritikus mengatakan, pemerintah tidak meredam reaksi ekstrimis.

“Politisi pluralis, seperti Presiden Jokowi, diam.” Jones menulis pada awal bulan November.

“Tidak seorang pun  mengatakan, ‘Hentikan di jalur ini.’  Presiden dan wakilnya tidak melakukan apa-apa untuk mendinginkan ketegangan.