Busuk

 

Oleh; Teuku Azhar Ibrahim.

 

Orang Tua meninggalkan warisan pepatah berharga buat generasi muda, kata mereka “Ikan busuk dari kepalanya.”  Apapun yang busuk, serta dari mana ia bermula tetap sesuatu yang tidak menyenangkan, termasuk Kutubusuk. Ramai orang sedang berbaris menuju hidangan sedap, namun seseorang berkata “hidangan sudah busuk” mundurlah semua orang. Kecuali sangat lapar ianya, hendak memastikan akan kebenaran. Sebagian sudah tuli lagi buta semua indra tak berfungsi, golongan ini saja yang tak jera dengan kata “Busuk.”

Busuk tidaklah semerta merta terjadi, ia butuh proses dan waktu hingga sampai saatnya busuk itu baru dikenal sebagai sesuatu yang busuk. Bisa jadi satu dua hari, satu dua bulan bahkan berkalang tahun, tergantung benda. Busuk besi disebut karatan jauh lebih lama dari busuk ikan tanpa formalin.  Pembusukan itu bukan saja keputusan alam sepenuhnya, ada juga proses pembusukan campur tangan manusia seperti pembusukan sampah menjadi kompos. Busuk sampah menjadi kompos tidak selama dilihat dari perspektif sampah, tapi pemanfaatan benda-benda busuk menjadi baik. Dalam kehidupan mereka seperti para guru rehab di kamp-kamp anak manusia bermasalah, atau kebanyakan para guru di sekolah-sekolah. Mereka para pahlawan tampa tanda jasa yang membuat hidup ini indah, merbak wangi generasi muda.

Alkisah kembalilah kepada pemimpin  umat dan bangsa di negeri yang kata orang potongan jatuh dari Nirwana. Saat berita tentang Dimas Kanjeng menggandakan uang dengan membawa nama agama di belakangnya, kebanyakan melihat sebagai peristiwa biasa karena itu memang sudah jadi tradisi di negeri tercinta. Keganjilan saat digantung pada dinding agama menjadi sesuatu yang mudah meraih kepercayaan awam, dan dinggap sah-sah saja. Walau banyak orang tahu bahwa ajaran agama Islam khususnya ringkas, jelas dan logis. Jika keajaiban berlawan dengan hukum maka ianya datang dari Iblis. Sebagaimana Al Junaid seorang tokoh sufi dari negeri Irak berfatwa; barang siapa berjalan di atas air dan terbang di udara, ia tidak melaksanakan syariah maka ketahuilah bahwa ia syetan.  Syetan mampu mengerjakan hal-hal aneh dan ia menjadikan manusia sebagai mediator atau bahasa lebih keren  Puppet.

Menggandakan uang perbuatan melawan hukum, merusak roda ekonomi, mengganggu pemerintah dan masyarakat. Jelas sebuah permbuatan melanggar hukum. Jelas pula itu perbuatan sama sekali tidak bisa dikatagorikan dalam Karamah.  Definisi Karamah atau keramat dalam ilmu akidah; perbuatan luar biasa yang dianugerahkan kepada hamba shaleh. Peristiwa tersebut terjadi ketika Allah berkehendak terjadi maka terjadilah. Sementara hamba shaleh  itu sendiri tidak mampu mendapat perbuatan tersebut saat ia berkendak. Kalau pada Nabi dan Rasul disebut sebagai mukjizat. Tidak sermerta seorang shaleh mengarah telunjuk ke gunung lalu gunung berubah jadi tumpukan emas. Hanya dalam situasi tertentu saja Allah menghendaki peristiwa ganjil terjadi.

Ketika seseorang disebut-sebut sebagai tokoh intelektual, duduk dalam deretan para ulama, lalu mempercayai perbuatan melawan hukum sebagai sebuah Karamah/ karomah, maka sebuah pembusukan intelektual telah terjadi. Karena banyak orang menghitungnya sebagai tokoh, orang awam tentu akan mengikuti tokoh ganjil, gonjang gajinglah agama dan umat. Kebusukan tersebut terus menyebar ke level akar rumput masyarakat. Sebagaimana seekor ikan  busuk kepalanya akan menyebar kebusukan keseluruh badan. Akhirnya  kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat sulit menjumpai orang yang sehat akal. Inilah yang terjadi pada Dewan Pakar ICMI, Ketua Yayasan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, mantan Presidium ICMI.  Dulu ICMI sebuah organisasi Islam yang berhasil membangkitkan rasa percaya diri umat Islam di Indonesia. Terjadi ada oknum yang mengalami pembusukan intelektual di dalamnya, entah karena itu pula ICMI mejadi pudar, tidak segagah dan meriah dahulu kala. Bukan saja ICMI, semua organisasi Islam penuh harapan agar membersihakan diri dari pembusukan intelektual. Tidak ada lain tempat umat menggantung harap untuk menyelesaikan persoalan keislaman di negeri tercinta, kecuali lewat organisasi-organisasi Islam penyeimbang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Teuku Azhar Ibrahim ; direktur  www.dnatribune.net