Kerja Perlu Ikhlas

Oleh; Amri Fatmi. Lc.MA

Sesungguhnya setiap amalan itu bersamaan niat, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang berhijrah demi Allah dan RasulNya, maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya, dan barang siapa yang berhijrah untuk mencari dunia atau demi wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya untuk apa yang dia kehendaki itu.” (H.R. Bukhari)

Inilah posisi niat dalam konsep dasar Islam. Erat hubungan antara niat dan perbuatan. Maknanya, Islam menghubungkan antara alam ruh dan alam fisik. Niat adalah eksperimen jiwa, sementara perbuatan eksperimen di alam fisik.

Dari mana dasar niat? Niat bersumber dari zat dan kesadaran. Kesadaran juwwani dan kesadaran  barrani. Kesadaran juwwani adalah saat zat menyadari keberadaannya, dan kesadaran barrani tatkala zat sadar dengan alam sekitarnya. Maka niat adalah hubungan zat dengan kesadaran terhadap dirinya dan alam sekitar.

Prinsip niat ini mengabarkan bahwa Islam mengakui entitas keberadaan manusia sebelum pekerjaannya. Entitas manusia itu lebih berharga dari pekerjaan itu sendiri. Niat membuktikan keberadaan diri dan batin manusia yang berbicara, sedang pekerjaan atau amalan adalah terjemahan dari bahasa batin manusia yang bisa dinilai dari luar.

Dari sini Islam menilai baik buruk pekerjaan bukan dari hasil akhir sebagaimana filsafat pragmatism biasa menilai, tetapi penilaian pertama adalah pada bahasa batin yang mendasari pekerjaan. Karenanya, Rasulullah menyatakan,”Bahwa setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” Ini boleh bermakna bahwa ganjaran Allah terhadap amalan itu dinilai sesuai dengan niat bukan Cuma hasil akhir pekerjaan. Karena sebuah pekerjaan dari kacamata luar boleh jadi tidak menghasilkan, namun dari kacamata batin, ia telah membuktikan dirinya dengan sebuah tindakan yang perlu mendapat nilai. Bila niat itu sesuai dengan perintah Allah maka ia akan mnedapakat ganjaran baik dari Allah. Namun bila sebaliknya akan sebaliknya juga.

Manusia kadang tidak mampu menilai hati dan bahasa batin manusia, oleh sebab itu mereka cenderung menilai sebuah pekerjaan dengan hasil akhir sebagai nilai besar pekerjaan. Padahal itu adalah sisi zahir saja. Namun Islam juga membakukan kaidah penilaian zahir ini mengingat keterbatasan manusia, dan keberlangsungan hidup yang membutuhkan penilaian semacam itu. Sebabnya Rasulullah berkata : “Kami menghukum dengan zahir, sedang Allah yang menilai yang batin.” Rasulullah mengakui sisi batin walau tidak mampu menilainya. sisi batin akan langsung dinilai oleh Allah. Sabda Nabi : ” sesunggunya Allah idak melihat pada rupa kalian tetapi Allah melihat pada hati kalian.” Sisi zahir dan batin Keduanya urgen dalam penilaian Islam.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, menukilkan penjelasan Imam Baidhawi tentang makna niat. Niat secara umum bermakna  bangkitnya hati terhadap segala sesuatu tujuan yang mendatangkan manfaat dan menjauhkan mudharat langsung atau nantinya. Namun Islam, mengkhususkan  tujuan tersebut dengan keinginan yang terpatri terhadap pekerjaan  mencari keridhaan Allah.

Nah, dari sini para Ulama kebanyakan mereka mengatakan bahwa hadis ini memang menjelaskan urgensi niat pada amalan Ibadah semata. Karena perbuatan ibadah tidak bisa dimaksudkan untuk kemafaatan dan menolak dharar sebagaimana pekerjaan duniawi lain. Jelas berbeda- misalkan- minum obat sakit pinggang dengan shalat tahajjud malam hari.

Kemungkinan lain Nampak boleh juga masuk dalam hal ini, bahwa amalan hari-hari yang mendatangkan maslahat bila diniatkan mencari ridha Allah semoga bisa juga mendatangkan nilai ibadah. Walau tingkatannya berada di bawah amalan ibadah semata (mahdhah).

Sayangnya, musibah semakin besar bila terjadi politisasi kepentingan duniawi pada amalan ibadah semata. Amalan yang dasarnya tidak ada keuntungan duniawi yang bisa disertakan dalam pengamalannya, namun dengan salahkaprahnya manusia, ibadah berubah tujuan amalannya sebagai keuntungan duniawi. Ini petaka menyedihkan yang mulai muncul di kalangan masyarakat muslim.

Secara logika ada dua kemungkinan dari hubungan amalan zahir dengan bahasa batin (niat) manusia. Pertama ; niat sesuai dengan amalan, kedua ; amalan tidak sesuai dengan niat. Dalam kondisi seimbang antara niat dan amal zahir, inilah kesejatian. Muslim idaman.Mungkin Inilah makna penggalan ” Barang siapa yang berhijrah demi Allah dan RasulNya, maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya,” artinya, para sahabat yang berhijrah mengikuti Rasul ke Madinah tidak meniatkan kepentingan lain sama sekali. Namun apabila niat bercangggah dengan apa yang tampak dinilai orang, sebagaimana kemungkinan yang kedua ia patut dapat teguran dan celaan. Oleh sebab itu, dalam hadis di atas nampak  Rasul menegur orang yang menampakkan diri secara zahir mengikuti perintah Rasul untuk Hijrah padahal ia meniatkan bukan ikut Rasul, tapi untuk berdagang atau menikah.

Muncul pertanyaan, apa salahnya mereka yang berhijrah untuk menikah dengan wanita yang baik, muslimah, bukan kah itu juga perintah Islam? Apa salahnya berdagang mencari rizki halal di Madinah bukankah itu juga perintah Islam? Kenapa mereka ditegur dalam hadis ini?

Imam Nawawi dalam Syarah Arba’in mengetengahkan jawaban ulama terhadap pertanyaan ini. Beliau menjelaskan, tatkala mereka yang berhijrah meyembunyikan niat yang tidak sesuai apa yang mereka zahirkan, maka dalam kacamata Islam, mereka pantas mendapat teguran Nabi.

Jangan sampai niat menjadi nista, dan penampakan menjadi dusta. Nabi mengajarkan pada Umatnya, bahwa pribadi muslim itu adalah pribadi yang seimbang zahir batin. Pribadi yang konsisten dan kukuh. Pribadi yang tidak  menimbulkan salah sangka dan persepsi berbeda pada orang lain. Bukan sosok  kontradiksi. Bila kita bisa melihat kaca yang bening dari luar Nampak bersih, maka kelihatan pula isi dalamnya yang bersih. Itulah muslim wahai saudaraku.

Dengan niat, islam menyatukan antara alam ruhi dengan alam fisik, menyatukan alam fana dengan alam baqa. Sebab dengan niat, amalan bisa memasuki alam dimensi kekal. Makanya amalan dengan niat tertentu bisa dihisab suatu saat nanti. Maka Kita tidak perlu pekerjaan yang ikhlas, tapi sebenarnya adalah niat yang ikhlas. Wallahu ‘Alam. (Cairo, 31 Desember 2015)