(2) Konsep Ijarah Dalam Fiqih Ekonomi Dan Implementasinya Di Pasar Modal Syari’ah

Bagian Kedua, oleh: Ahmad Fauzan Abdullah

4.Jenis-Jenis Akad Ijarah

Kalau diteliti dalam referensi kitab –kitab fiqih klasik maka akad ijarah hanya terbagi dua yaitu ijarah (sewa) atas aset atau benda yang dimiliki oleh seseorang yang sering disebut dengan sewa menyewa, dan ijarah atas manfaat dengan cara memberikan mamfaat dengan bayaran atau upah yang  disebut  dengan upah. Seiring dengan perkembangan keuangan Islam maka sistem kontrak atau akad ijarah pun mengalami perkembangan yang disesuaikan dengan konsep syari’ah dan muamalah. Berikut ini diantara jenis akad atau kontrak ijarah  yang sering dipergunkan dalam konteks keuangan syari’ah masa kini :

4.1.Al-Ijarah al-Muntahiyah bi al-Tamlik

al-Ijarah al-muntahiyah bi al-tamlik adalah suatu akad atau kontrak perjanjian sewa menyewa untuk menjual atau menghibahkan sesuatu aset berupa benda atau aset lainnya dalam bentuk uang yang mana terdapat korelasi nilai ekonomi antara aset yang disewakan dan tempoh waktu sewa, dengan maksud memberikan pembiayaan yang direncanakan oleh syarikat atau perusahaan yang memerlukan aset tersebut, sehingga ketika berakhirnya akad dengan dibayarkannya seluruh ansuran kredit pembiayaan oleh syarikat atau perusahaan tersebut sebagai penyewa kepada institusi keuangan yang menyewakannya, secara otomatif berpindah kepemilikan aset tersebut atas dasar hibah yang disyaratkan pada kontrak.[19]

Menurut Accounting and Auditing Organizations for Islamic Financial Institutions( AAOIFI) al-ijarah al-muntahiyah bi al-tamlik adalah ijarah yang berlaku dengan cara pemberi sewa berjanji untuk memindahkan kepemilikannya kepada penyewa diakhir tempoh sewaan (bai’ al-wafa’). Dalam prakteknya bentuk ini biasa dilakukan dengan empat cara : pertama, menjual aset kepada penyewa dengan harga pasaran, kedua, perjanjian untuk memberikan aset kepada penyewa sebagai hadiah, ketiga, perjanjian untuk memberikan  aset sewa tersebut kepada penyewa sebagai hadiah apabila sampai tempoh ansuran dan keempat,  pembelian yang dilakukan secara bertahap.[20] Dengan demikian bisa dipastikan bentuk seperti ini sudah sering dipraktekkan di dalam sistem keuangan syari’at pada saat ini terutama di beberapa negara teluk.

4.2. Ijarah Thumma al-Bai’

Ijarah thumma al-bai’ ialah akad sewa menyewa yang biasa dilakukan oleh institusi keuangan atau perusahaan dengan cara mengalihkan kepemilikan aset yang disewakan tersebut kepada pelanggan atau penyewa setelah melewati tempoh masa sewa aset tersebut.[21] Menurut AAOIFI Ijarah thumma al-bai’ yaitu apabila individu atau syarikat perusahaan menjual asetnya sendiri kepada pihak lain dan kembali menyewa aset yang dijual itu untuk dirinya sendiri, dengan catatan kedua-dua akad jual beli dan sewa itu tidak boleh disyaratkan diantara satu sama lain, sebagai contoh tidak boleh  membuat syarat pada akad jual beli tersebut ketika terjadi akad  untuk menyewakannya kembali kepada dirinya.[22]

  1. Masa berakhir atau pemutusan Kontrak Ijarah

Dalam fiqih ekonomi Kontrak ijarah dianggap selesai atau tamat apabila terjadi beberapa perkara berikut ini :

  1. Menurut mazhab Hanafi bahwa kematian salah satu pihak yang terlibat dalam kontrak ijarah tersebut bisa menyebabkan selesai dan tamat berlakunya akad tersebut.dan untuk memperbaharuinya disyaratkan dengan akad dan kontrak baru yang diwakilkan kepada ahli waris, namun menurut mayoritas Ulama tidak sependapat dengan ini karena akad ijarah seperti akad bai’(jual beli) hukumnya, dimana penyewa sebagai pemilik manfaat selama tempoh yang ditetapkan dalam akad masih berlaku walaupun satu pihak sudah meninggal dunia, dan itu menjadi hak ahli waris untuk mewarisinya sampai habis masa tempo yang tersebut dalam akad kerana dalam ijarah esensi yang dianggap ialah kemampuan pemberi sewa menyerahkan aset atau pekerjaan(jasa) yang ia sewakan.[23]
  2. Akad ijarah tamat atau berakhir apabila adanya persetujuan kedua belah pihak untuk menamatkan atau mengakhiri perjanjian akad tersebut, karana akad atau kontrak itu sama dengan  bai ’(jual beli)  yang memungkinkan pembatalan.
  3. Apabila aset daripada ijarah musnah atau rusak maka akad dianggap berakhir, kerana ijarah  berlaku atas benda atau aset yang mempunyai manfaat yang berada dalam tanggungan.
  4. Tamat dan berakhirnya akad ijarah apabila habis masa atau jatuh tempoh sewaan yang tersebut dalam kontrak antara dua pihak, karena ijarah yaitu perjanjian atau kontrak yang mempunyai tempoh waktu, seiring dengan berakhirnya tempoh waktu maka berakhir pula kontrak yang berlaku kecuali jika ada halangan yang bisa dimaklumi diantara kedua belah pihak.[24]