Baik Amal Tanpa Ganjaran

Oleh, Amri Fatmi Lc, MA.   Struktur Islam itu terdiri dari tiga pilar dasar yaitu : akidah, tasyri’ dan akhlak. Maka makna Islam secara benar ada dalam diri seorang muslim jika ada padanya akidah yang benar, muamalah sesama sesuai dengan Akidah Islam dan menjaga ketulusan akhlak dalam hidup seperti yang diajarkan Nabi. Namun dasar segalanya itu adalah akidah, bila kedua hal terakhir tidak ada pada diri sesorang, ia bisa dianggap muslim walau terhitung berdosa karena meninggalkan tasyri’ dan akhlak yang menyebabkan ia diazab. Namun bila akidahnya raib, maka sama sekali tidak bisa dianggap muslim walau hidup dihabiskan untuk bermuamalah baik dan akhlak mulia. Firman Allah : قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (104) أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا (105)

  1. 103. Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”
  2. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
  3. mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia[896], Maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak Mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.(Al Kahfi : 103-105)

Oleh sebab itu ulama akidah sepakat bolehnya dikatakan Islam untuk pondasi akidah. bila sesorang telah meyakini pondasi akidah secara benar tanpa ada penyimpangan, seseorang telah dikatakan muslim mukmin walau belum sepenuhnya menjalankan tasyri dan akhlak. Walau kekurangan itu bisa menyebabkannya fasik dan mengguncang akidahnya. Disini ada yang bertanya: Bagaimana seorang kafir yang berbuat baik untuk umat manusia yang bahkan jarang orang muslim sendiri melakukan demikian, namun tidak diganjari oleh Allah? Begitu juga dengan para ilmuwan yang telah berjasa demi manusia. Apakah Adil Allah tidak mengganjari mereka di akhirat? Jawab : Allah telah mengganjari semua hambaNya atas segala kebaikan yang diperbuat. Orang kafir sama sekali tidak percaya pada akhirat, maka ia sendiri tidak mengharap ganjaran di hari kelak, kenapa anda pusing memikirkan ganjaran akhirat untuk orang kafir? Maka adil Allah tidak memberikan ganjaran padanya nanti. Namun orang kafir percaya sepenuhnya pada kehidupan dunia, Allah mengganjari amalan mereka di dunia dengan seadilnya sesuai usaha mereka. Lihat pengusaha non-muslim lebih kaya, sesuai dengan usaha mereka. Allah ganjari dengan rahmat rububiyahnya. Allah berfirman : مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا (18) وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا (19) كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا (20)

  1. Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam Keadaan tercela dan terusir.
  2. dan Barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.
  3. kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. (Al-Isra’ :18-20)

Allah sangatlah adil, telah diberitakan kepada seluruh manusia tentang akhirat dalam Al-Quran sejak dini, maka siapa saja yang melanggarnya, tidak mempercayainya, atau bahkan mengingkarinya,  berhak untuk dihukum hari akhirat nanti. Itu sesuatu yang sangat logis.   Akidah yang Beenar Mesti Satu dan Sama Kita menyakini bahwa akidah yang benar itu adalah satu sejak Nabi Adam sampai saat ini. Semua Nabi membawakan akidah yang sama. Merekamengajak kepada : Iman dan mentauhidkan mensucikan Allah dan memurnikan akidah. Iman pada hari akhirat, qadha dan Qadar dsb. Dan setiap Nabi terdahulu mengabari Nabi yang akan datang setelahnya. Fiman Allah : وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ (25)

  1. dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”. (Q.S.Al- Anbiya : 25)

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (13) 4

  1. Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agamadan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. (Q.S. Asy- Syuura : 13)

Bahkan kita mendapati bahwa nama Islam dan Muslim itu sudah ada pada para Nabi dan pengikutnya   مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (67)

  1. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi Dia adalah seorang yang lurus[201] lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk golongan orang-orang musyrik. (Q.S. Ali Imran : 67)

Penyihir Firaun yang beriman berkata : قَالُوا إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ (125) وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءَتْنَا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ (126)

  1. Ahli-ahli sihir itu menjawab: “Sesungguhnya kepada Tuhanlah Kami kembali.
  2. dan kamu tidak menyalahkan Kami, melainkan karena Kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan Kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami”. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, Limpahkanlah kesabaran kepada Kami dan wafatkanlah Kami dalam Keadaan berserah diri (kepada-Mu)”. (Al-‘Araf :125- 126)

Begitu juga kaum Hawariyyun pengikut Nabi Isa a.s. mereka berkata : فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (52)

  1. Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berserah diri. (Q.S. Ali Imran : 52)

Maka agama yang benar itu tidak mungkin berbeda, mesti satu. Dan istilah din atau agama di pakai untuk akidah sejatinya seperti yang telah kita utarakan. Dan permasalahan akidah itu sifatnya dalah pemberitaan dari satu sumber. Kalau beritanya sama dan pembawa berita jujur, maka tidak akan berbeda isi dan substansinya. Ya, yang berbeda itu adalah Tasyri’ bukan akidah. Setiap Nabi terdahulu datang dengan tasyri yang sesuai dengan masa saat itu. Namun mereka tidak pernah menyalahkan Nabi sebelumnya. Semua datang menyempurnakan sesuai kondisi masanya.  Persis seperti dokter yang merekomendasikan makanan untuk bayi sesuai pertumbuhannya. Setiap yang datang kemudian pasti merekomendasikan yang tidak sama dengan sebelumnya. Namun tidak pernah menyalahkan sebelumnya walau berbeda rekomnya. Kerena setiap dokter itu datang pada zaman dan kondisi bayi yang berkembang terus. Sepertidiautus dan Isa untuk menyempurnakan syariat Nabi Musa : وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ

  1. dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) daripada Tuhanmu. karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (Q.S. Ali Imran : 50)

Syubhat : Ada yang salah memahami dari bacaan buku, tanpa berguru mengangap : kata Islam dalam banyak ayat Al-Quran al-Karim bukan hanya berarti kerasulan Muhammad Saw. Tetapi juga kepatuhan pada Allah Subhanahu wata’ala dan agama ketauhidan kepada Allah yaitu monotheism. Dan penggalan pertama dari syahadatain yaitu “ Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah”. Mereka menganggap bahwa seseorang bisa menjadi Islam juga walau tidak ikut Nabi Muhammad. Ini jelas kesalahan fatal. Bila sesoorang itu hidup sebelumnabi Muhammad dan ikut Nabi Musa atau Isa, betul dia Muslim. Tapi yang hidup saat ini dan setelah nabi Muhammad diutus, ia tidak mungkin akan menjadi muslim kecuali mengakui Allah dan Nabi Muhmmad. Sebab itulah kunci menjadi muslim sejak 14 abad yang lalu dengan mengucapkan dua kalimat syahadah bukan satu kalimat. Dan kata Islam itu hanya berlaku bagi Nabi Muhmmad dan pengikut beliau sesuai dengan ayat yang diturunkan pada beliau : وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

  1. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi. (Q.S. Ali Imran : 85)

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

  1. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Q.S. Ali Imran : 19)

Dan perlu diketahui bahwa tasyri itu adalah perintah dan larangan dalam amalan. Maka secara konsep ia bisa dirubah. Dulu di suruh sekarang tidak lagi. Dulu tidak disuruh sekarang sudah disuruh. Itu secara akal mungkin. Maka tasyri bentuk insyak ia boleh berubah. Beda dengan akidah yang berbentuk berita jelas tidak boleh berubah dan berbeda. Adapun akidah tetap dari dulu sampai sekarang. Namun syariah bisa dianggap mansukh kecuali di perintahkan kembali atau didiamkan oleh syariat terakhir sehingga menjadi sumber hukum juga sebagaimana para ulama ushul menyebutkan ” syar’un man qablana”. Jadi ketika kita belajar akidah sama sama dengan kita belajar sesuatu yang absolute diajarkan sejak Nabi Adam sampai nabi Muhammad. Maka kalau akidah itu bisa dinamakan dengan Din, maka Din yang benar itu cuma satu tidak ada dua. Din yang diwahyukan Allah. Jadi pemakaian kata agama-agama samawi bisa dianggap salah bila orang memahami kesamaan antara Islam dan lainya. Agama samawi itu hanya satu.   Akidah dan Idiologi Sebelum memakai istilah yang bukan dari bahasa kita, selidiki dulu asal muasal dan sejarah istilah serta maknanya. Kata Idiologi awalnya baru dikenal abad ke 18M digunakan oleh pemikir Perancis Destut De Tracy. Dengan makna ilmu yang membahas tentang perasaan awal perkembangannya Idiologi erat kaitannya dengan aliran materialism abad 18. Sehingga diartikan metode idiologi adalah metode ilmiah dalam menganalisi pikiran  dengan menjauhkan aspek metafisika atas dasar aspek antropologi dan psikologi. Mengikuti filsuf materialis Condillac. Napoleon Bonaparte yang memasyhurkan kata ini kala dipakai untuk pemikiran yang anti terhadap kolonialisme. Sehingga bermakna ideologi hanya berupa pemikiran tidak realistis, waham tidak sesuai dengan kenyataan. Kemudian Datang Karl Marx memaknai ideologi sebagai lawan dari realita ekonomi, dengan makna semua bentuk persepsi akal baik berupa akidah agama, aliran filsafat atau iman dan akhlak. Maka makna Idiologi yang disebarkan oleh kaum marxis erat kaitan dengan cara berpikir dan betindak yang mencari-cari pembenaran logis jauh dari realita, penuh mitos, omong kosong jauh dari realita. Bahkan kata idiologi sering dipakai untuk menyatakan keyakinan lawan yang tidak benar dan negative. Sebagaimana dipakai juga sebagai latar pemikiran yang menyelebungi maksud terselubung dan maslahat tertentu yang tidak dinampakkan. Istilah ini sering dipakai oleh kaum marxis untuk menafsirkan pergumulan pemikiran pertentangan kelompok borjuis dengan proletar.(Musykilat Al falsafa, Zakariya Ibrahim : 179-182) Bila demikian adanya, akidah Islam sama sekali bukan ideologi. Akidah Islam adalah tujuan hidup mati manusia, sesuatu yang diyakini sepenuh jiwa, dengan pengorbanan dan sesuai dengan realita. Tidak bersumber dari angan-angan tapi wahyu yang benar dari Pencipta. Tidak ada manfaat maslahat kepentingan kelompok, ras bangsa tertentu dibalik semua keyakinan yang diajarkan. Kalau boleh dikatakan ideologi komunis, sosialis, kapitalis dan pancasilais,tapi sama sekali Akidah Islam itu bukan ideologis tapi ia adalah iman, akidah dan aturan Allah untuk mengajak orang berakal hidup bahagia di dunia dan hari akhirat.   Iman Paa Diri Seorang Muslim Kalau boleh dirumuskan, Iman + Islam = Din. Iman dan permaslahannya adalah akidah seorang mukmin dan muslim. Kata iman dalam Bahasa Arab berkaitan erat dengan kata اطمئنان dan الأمن dan أمانة أمين مأمون . semuanya merefleksikan ketenangan. Iman secara singkat adalah ketenangan hati terhadap sesuatu perkara. Perkara tersebut telah melewati batasan kawasan akal yang masih mencari-cari bukti pembenaran, perkara tersebut tidak lagi dibahas kesahihannya. sebuah perkara mengandung prinsip tertentu, diimani oleh akal kemudian menancap dalam hati dengan perngertian telah diterima oleh hati dan hati telah tentram dengan perkara tersebut. Itulah iman Ketenangan Imani itu adalah kala manusia menyembah Allah Tuhan yang memiliki kuasa segalanya, memberi manfaat dan mudharat mendengar dan melihat. Bila demikian, kita telah beriman dengan Tuhan yang mampu memberikan segala kebaikan. Maka bila kita diciptakan oleh Allah, dan kita menyakini Allah maha baik,  maka kita akan selalu merasa tenang dalam segala apapun. Iman itu mesti menjadikan kita tenang dalam hati. Bila tidak maka tidak dianggap akidah kita sebagai iman. Maka perlu dipahami pertanyaan nabi Ibrahim pada Allah :   وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (260)

  1. 26 dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Pendapat diatas adalah menurut At-Thabari dan Ibnu Katsir, sedang menurut Abu Muslim Al Ashfahani pengertian ayat diatas bahwa Allah memberi penjelasan kepada Nabi Ibrahim a.s. tentang cara Dia menghidupkan orang-orang yang mati. Disuruh-Nya Nabi Ibrahim a.s. mengambil empat ekor burung lalu memeliharanya dan menjinakkannya hingga burung itu dapat datang seketika, bilamana dipanggil. Kemudian burung-burung yang sudah pandai itu, diletakkan di atas tiap-tiap bukit seekor, lalu burung-burung itu dipanggil dengan satu tepukan/seruan, niscaya burung-burung itu akan datang dengan segera, walaupun tempatnya terpisah-pisah dan berjauhan. Maka demikian pula Allah menghidupkan orang-orang yang mati yang tersebar di mana-mana, dengan satu kalimat cipta hiduplah kamu semua pastilah mereka itu hidup kembali. Jadi menurut Abu Muslim sighat amr (bentuk kata perintah) dalam ayat ini, pengertiannya khabar (bentuk berita) sebagai cara penjelasan. Pendapat beliau ini dianut pula oleh Ar Razy dan Rasyid Ridha. Nabi Ibrahim sama sekali tidak ragu Allah menghidupkan orang mati, karena ini masalah iman. Karena jawaban bala setelah istifham nafi bermakna isbat (iman) Namun yang menjadipertanyaan beliau adalah; Bagaimana engkau menghidupkan orang mati. MakaAllah ketika bertanya “belum berimankah kamu” mengisyaratkan bahwa pertanyaan beliau itu diluar koridor iman. Maka Allah lalu menjawab dengan jawaban praktis biar langsung dimengerti oleh Nabi Ibrahim. Dalam iman kita disuruh menyakini adanya suatu perkara, bukan bagaimananya sutu perkara terjadi. Percaya pada hari akhirat, alambarzakh, syurga neraka. Namun bagaimana itu terjadi, itu diluar tuntutan iman. Lalu apakah kita perlu beriman dulu baru ilmu atau ilmu dulu baru iman? Perlu diketahui adanya puncak iman yaitu iman bahwa Adanya Tuhan penguasa Alam. Apabila itu sudah saya Imani, maka saya yakin Tuhan akan mengajarkan saya segala hal dalam hidup saya dan hukumnya. Jadi ada ilmu sebelum iman, yaitu ilmu puncakkeimanan.dan tanpailmu ini kita tidak bisa beriman . da nada ilmu manhaj hidup,yaitu ilmu setelah kita beriman. Ini bersumber dari Allah yang kita Imani. Oleh sebab itu Allah berfirman : شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (18)

  1. Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu[188] (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali Imran :18)

Dalam ayat tersebut, Allah tidak menyatakan wa ulul iman, tetapi wa ulul imi. Oleh sebab itu Islam tidak mengenal istilah : Saya tidak butuh pengetahuan untuk beriman, tapi saya butuh iman untuk menngetahui. Semua masalah gaib, tidak mungkin kita tau dengan logika akal, tetpi ia perlu pada iman untuk mengetahui apa yang tersembunyi dibalik ala mini. Bayangkan, bagaimana mungkin Ala mini diciptkana untuk manusia yang kadang lebih pendek umurnya ketimbang alam gunung dan laut itu. Bagaiman itu lebih kokoh dari manusia? Maknya perlu diyakini adanya kehidupan lain yang menanti. Manusia bukan mempersiapkan diri untuk hidup di ala mini, tapi kita mempersiapkan diriuntuk hidup di alam lain nanti yang kita diberitahukan dengan iman kita.    Iman Tegak atas Landasan Logika dan Jiwa Realita dari Al-Quran kita dapati bahwa bahwa akidah adalah pekerjaan logika bukan perasaan bukan manfaat pribadi, atau kelompok. Oleh sebab itu Alquran menyindir orang yang membangun akidah atas dasar adat kebiasaan atau mengikuti para pembesar kaum. Begitu juga Alquran menyindir mereka yang membangun akidah atas dasar keuntungan dan manfaat sementara. Namun Alquran tidak semata mengajarka akidah atas dasar logika kering tanpa merekat denga jiwa dan perasaan. orang yang memahami akidah dengan logika tanpa mempengaruhi jiwanya bagaikan orang yang mengetahui haus dan lapar tanpa pernah merasakan haus dan lapar. Atau bagaikan orang yang mengetahui cinta dan rindu, tapi tidak pernah ada yang ia cintai dan dia rindukan. Iman itu adalah makrifah yang dikonsumsikan jiwa dan jiwa menerima sepenuhnya dengan kedamaian dan ketenangan. Bayangkan anda menjelaskan sebuah taman yang indah dan sungai yang jernih dengan detil sehingga dipaham pendengar. Namun bila ia tidak langsung merasakan hidup dalam taman itu dengan segarnya angin dan air disitu, maka ia dianggap belum sepenuhnya tahu taman yang diceritakan itu. Begitulah iman dan akidah semestinya. Maka Allah berfirman :   ) وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (109)

  1. sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya[82]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Baqarah : 109)

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (65

  1. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q.S. An Nisa :65)

Maka jalan menujuakidah kuat dan  iman adalah dimulai dengan pemahaman benar logika dan kemudian mengakar dalam jiwa sesuai dengan petunjuk ilmu ilmu yang benar. Alqurana menyatakan ilmu yang benar itu yang pertama :   إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ (28 28.) Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Q.S. Fathir : 28)   Lalu bagaimana dengan imannya orang awam? Kita menyatakan bahwa imannya orang awam iman yag benar dan menyelamatkan karena kebenaran berpikir itu tidak mesti harus berbentuk ungkapan ilmu logika dan sesuai dengan tata Bahasa . karena tidak semua orang yang tidak mampu berucap dan mengerti ilmu logika berarti ia tidak sanggup berpikir. Semua orang sampai pada pengetahuan lewat pintu yang dekat dengan dirinya. Allah telah menyatakan ayat berpikir itu ada di sekeliling dan pada diri kita. Dan akidah Islamiyah adalah akidah simple dan sesuaidengan fitrah yang Allah ciptakan. ***********